Liputan6.com, Jakarta : Seorang petugas pengawas SPBU di Jalan Pondok Gede KM 40, Lubangbuaya, Makasar, Jakarta Timur, bernama Dirgantoro (36) ditusuk sekelompok pemuda lantaran menegur merokok. Ia kini mengalami luka yang cukup parah.
Kasat Reskrim Polres Jakarta Timur, AKBP Didik Sugiarto menjelaskan, kejadian terjadi pada malam Tahun Baru 31 Desember 2013, sekitar pukul 21.00 WIB.
Ketika itu, seorang pemuda turun dari sebuah angkot dan masuk ke dalam SPBU. Pemuda itu merokok, lalu petugas pengawas SPBU pun menegurnya. Adu mulut pun terjadi hingga perkelahian.
"Saat itu korban sedang bertugas dan menegur pemuda yang merokok di pom bensin. Kemudian terjadilah cekcok," ujar Didik saat dihubungi Liputan6.com di Jakarta, Rabu (1/1/2014).
Pemuda yang merokok di SPBU itu kemudian berkelahi dengan petugas SPBU. Sempat pukul-pukulan. Si pemuda kemudian pergi dan kembali dengan didampingi 2 temannya.
Petugas SPBU itu lalu dikeroyok. Salah satu pemuda kemudian mengeluarkan sebilah pisau dan menusuk petugas SPBU tersebut. "Petugas ditusuk dengan pisau. Para pelaku kemudian kabur naik angkot," kata Didik.
Dia mengatakan, pihaknya saat ini masih menyelidiki kasus penusukan tersebut. Polisi telah memeriksa 5 saksi yang merupakan teman Dirgantoro yang juga bekerja di SPBU. "Korban saat ini masih dalam perawatan. Pelaku sedang kami cari," tandas Didik.
Showing posts with label Pengeroyokan. Show all posts
Showing posts with label Pengeroyokan. Show all posts
10.9.13
Seorang Pemuda Nias Tewas Dikeroyok Anak Punk
PEMATANG SIANTAR, KOMPAS.com — Juni Gea (21), warga asal Gunung Sitoli, Kabupaten Nias, tewas ditikami segerombolan anak punk di depan toko Serba Indah di Jalan Sutomo, Kelurahan Dwikora, Pematangsiantar, Sumatera Utara, Senin (9/9/2013).
Informasi yang dihimpun Kompas.com, Juni Gea bersama temannya, Jefri Zebua (21), bermaksud makan bakso sekalian minum jus di salah satu warung di Pasar Horas, Pematangsiantar. Ketika sedang duduk-duduk sambil minum jus, segerombolan anak punk yang berjumlah sekitar 10 orang, mendatangi meja tempat mereka duduk. Gerombolan anak punk itu langsung mengeroyok dan memukuli Jefri bertubi-tubi sampai tersungkur di lantai.
Takut jadi sasaran pemukulan, Juni langsung kabur meninggalkan Jefri yang masih terus dipukuli. Melihat Juni melarikan diri, gerombolan anak punk semakin beringas mengejar Juni yang berlari ke arah Jalan Sutomo. Namun, di depan toko Serba Indah, Juni bisa ditangkap gerombolan anak punk. Tanpa ampun, Juni pun dikeroyok dan dipukuli bahkan perut dan punggungnya ditikam hingga tersungkur dan bersimbah darah di atas trotoar jalan.
Setelah puas menghajar Juni, gerombolan anak punk lari ke arah Pasar Horas. Warga di sekitar lokasi kejadian tidak berani mendekati Juni yang terkapar bersimbah darah di atas trotoar. Untung sore itu, temannya sesama perantauan dari Nias yakni Diki Daichi (20), kebetulan melintas berupaya menyelamatkan nyawa Juni dengan melarikannya ke Rumah Sakit Vita Insani, Pematangsiantar. Namun saat sedang ditangani tim medis, Juni yang bekerja di warung mi pangsit milik Awon di Jalan Wahidin ini akhirnya tewas.
Jenazah Juni kemudian dievakuasi ke kamar Forensik RSUD dr Djasamen Saragih Pematangsiantar untuk keperluan otopsi. Sementara temannya, Jefri Zebua selamat meski mendapat dua luka tikaman di bagian perut. Saat ini Jefri masih mendapat perawatan Intensif di IGD RSUD dr Djasamen Saragih, Pematangsiantar.
Polres Pematangsiantar yang mendapat laporan kejadian langsung mengamankan lokasi seraya menggelar olah TKP dengan mengumpulkan keterangan warga di lokasi. Sementara dua anak punk yang diduga pelakunya, yakni Samuel Pasaribu (22) dan Andika Bayu (24), warga Karang Sari, Pematangsiantar sudah diamankan. Petugas masih menyelidiki motif kejadian dan masih mengejar anak punk lainnya.
Sementara, Andika Bayu dan Samuel Pasaribu yang diduga sebagai pelaku masih dalam keadaan mabuk saat diamankan dan sedang menjalani pemeriksaan intensif.
Informasi yang dihimpun Kompas.com, Juni Gea bersama temannya, Jefri Zebua (21), bermaksud makan bakso sekalian minum jus di salah satu warung di Pasar Horas, Pematangsiantar. Ketika sedang duduk-duduk sambil minum jus, segerombolan anak punk yang berjumlah sekitar 10 orang, mendatangi meja tempat mereka duduk. Gerombolan anak punk itu langsung mengeroyok dan memukuli Jefri bertubi-tubi sampai tersungkur di lantai.
Takut jadi sasaran pemukulan, Juni langsung kabur meninggalkan Jefri yang masih terus dipukuli. Melihat Juni melarikan diri, gerombolan anak punk semakin beringas mengejar Juni yang berlari ke arah Jalan Sutomo. Namun, di depan toko Serba Indah, Juni bisa ditangkap gerombolan anak punk. Tanpa ampun, Juni pun dikeroyok dan dipukuli bahkan perut dan punggungnya ditikam hingga tersungkur dan bersimbah darah di atas trotoar jalan.
Setelah puas menghajar Juni, gerombolan anak punk lari ke arah Pasar Horas. Warga di sekitar lokasi kejadian tidak berani mendekati Juni yang terkapar bersimbah darah di atas trotoar. Untung sore itu, temannya sesama perantauan dari Nias yakni Diki Daichi (20), kebetulan melintas berupaya menyelamatkan nyawa Juni dengan melarikannya ke Rumah Sakit Vita Insani, Pematangsiantar. Namun saat sedang ditangani tim medis, Juni yang bekerja di warung mi pangsit milik Awon di Jalan Wahidin ini akhirnya tewas.
Jenazah Juni kemudian dievakuasi ke kamar Forensik RSUD dr Djasamen Saragih Pematangsiantar untuk keperluan otopsi. Sementara temannya, Jefri Zebua selamat meski mendapat dua luka tikaman di bagian perut. Saat ini Jefri masih mendapat perawatan Intensif di IGD RSUD dr Djasamen Saragih, Pematangsiantar.
Polres Pematangsiantar yang mendapat laporan kejadian langsung mengamankan lokasi seraya menggelar olah TKP dengan mengumpulkan keterangan warga di lokasi. Sementara dua anak punk yang diduga pelakunya, yakni Samuel Pasaribu (22) dan Andika Bayu (24), warga Karang Sari, Pematangsiantar sudah diamankan. Petugas masih menyelidiki motif kejadian dan masih mengejar anak punk lainnya.
Sementara, Andika Bayu dan Samuel Pasaribu yang diduga sebagai pelaku masih dalam keadaan mabuk saat diamankan dan sedang menjalani pemeriksaan intensif.
25.6.13
Wartawan Makassar Dihajar Belasan Pemuda Mabuk
MAKASSAR, KOMPAS.com — Wartawan Tribun Timur, Ilham alias Ilo (26), dikeroyok dan dianiaya sekelompok preman di rumah kosnya, Jalan Malombassang, Kecamatan Tamalate, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (24/6/2013) sekitar pukul 23.00 Wita. Para pelaku diduga mabuk.
Menurut pemilik kos, Ramla (37), pada saat Ilo hendak masuk ke dalam kamarnya, ada belasan pemuda duduk-duduk di depan pintu kamarnya. Ilo pun meminta izin lewat. Namun, salah satu di antara pemuda itu malah mengeluarkan kata-kata kotor.
"Ia (Ilo) mengatakan tabe (permisi) mauka lewat, tetapi salah seorang dari mereka malah mengatai korban dengan kata sundala," tutur Ramla kepada polisi, Selasa (25/6/2013) dini hari. Ilo, lanjut dia, tetap berlalu meskipun ada pemuda lain yang malah mengancamnya.
Menurut Ramla, Ilo tetap melintas, masuk kamar, dan mengunci pintu kamarnya. "Setelah Ilo mengunci kamarnya, tiba-tiba pintu kosnya didobrak dua orang, yakni Udin dan Suki," ungkapnya.
Ilo mengatakan bahwa pemuda yang mengeroyoknya berjumlah sekitar 15 orang. Menurut dia, para pemuda tersebut tengah mabuk. Penganiayaan ini telah dia laporkan ke Mapolsek Tamalate. "Ada dua yang mendobrak pintu, sementara lainnya langsung mengeroyok. Saya minta polisi segera menangkap pelakunya," harap Ilo.
Terpisah, Kepala Kepolisian Sektor Kota Tamalate AKP Suaeb Abdul Majid mengatakan, penyidik sedang menyelidiki kasus ini. "Malam ini juga anggota menjemput terlapor," ungkapnya.
Menurut pemilik kos, Ramla (37), pada saat Ilo hendak masuk ke dalam kamarnya, ada belasan pemuda duduk-duduk di depan pintu kamarnya. Ilo pun meminta izin lewat. Namun, salah satu di antara pemuda itu malah mengeluarkan kata-kata kotor.
"Ia (Ilo) mengatakan tabe (permisi) mauka lewat, tetapi salah seorang dari mereka malah mengatai korban dengan kata sundala," tutur Ramla kepada polisi, Selasa (25/6/2013) dini hari. Ilo, lanjut dia, tetap berlalu meskipun ada pemuda lain yang malah mengancamnya.
Menurut Ramla, Ilo tetap melintas, masuk kamar, dan mengunci pintu kamarnya. "Setelah Ilo mengunci kamarnya, tiba-tiba pintu kosnya didobrak dua orang, yakni Udin dan Suki," ungkapnya.
Ilo mengatakan bahwa pemuda yang mengeroyoknya berjumlah sekitar 15 orang. Menurut dia, para pemuda tersebut tengah mabuk. Penganiayaan ini telah dia laporkan ke Mapolsek Tamalate. "Ada dua yang mendobrak pintu, sementara lainnya langsung mengeroyok. Saya minta polisi segera menangkap pelakunya," harap Ilo.
Terpisah, Kepala Kepolisian Sektor Kota Tamalate AKP Suaeb Abdul Majid mengatakan, penyidik sedang menyelidiki kasus ini. "Malam ini juga anggota menjemput terlapor," ungkapnya.
16.5.13
8 Tersangka Ditangkap Terkait Keributan di Tempat Karaoke
JAKARTA, KOMPAS.com - Polisi menangkap delapan orang yang diduga terkait dengan keributan antarkelompok pemuda di sebuah tempat karaoke di Cikupa, Kabupaten Tangerang, Senin (13/5/2013) malam. Tiga orang tewas dalam keributan itu.
Mereka yang ditangkap adalah pelaku pembunuh Obed Misa (34) dari kelompok yang diserang. Keributan itu dipicu oleh permintaan 10 botol bir gratis dari kelompok pelaku, tetapi pengelola karaoke menolaknya.
"Delapan orang diamankan dan statusnya jadi tersangka. Motifnya dendam terhadap kelompok Thomas, yang dianggap telah menghilangkan fasilitas room dan bir di Locus, (sehingga) berencana menyerang dan membunuh Thomas," kata Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto, Rabu (15/5/2013) di Mapolda Metro Jaya.
Rikwanto mengatakan, para pelaku menyerang kelompok pimpinan Thomas sebagai tokoh "pemegang" lokasi hiburan tersebut. Saat terjadi kejar-kejaran, Obed tertinggal dari rombongan teman-temannya di depan ruko Jamsostek sehingga korban dikeroyok hingga tewas. Sementara itu, korban tewas dari kelompok penyerang ada dua orang, yakni Okta dan Yogi.
Polisi sudah melakukan gelar perkara terhadap kasus pembunuhan tersebut. Berdasarkan fakta-fakta dalam gelar perkara, penyidik sepakat untuk menaikkan status delapan pelaku itu sebagai tersangka. Mereka yang dijadikan tersangka adalah SW alias Jaya (22), K alias Slank (23), Sy alias Delu (21), SM alias Ipul (22), T alias Tawil (51), AM alias Ompong (42), Sh alias Jendol (27), dan D alias Belong (27).
Ompong merupakan tersangka pembacok kepala Obed. Tersangka K berperan menusuk punggung korban sebanyak dua kali, sedangkan SM dan D memukul korban. Tersangka Sh melempar kayu kepada korban, sementara Sy, T, dan Jaya mengejar korban.
"Saksi-saksi yang sudah di- BAP yakni sebanyak 36 orang. Mereka di antaranya terdiri dari pelapor, satpam, tukang parkir, 11 orang dari kelompok Kupang, dan para pelaku," ujar Rikwanto.
Para tersangka terancam Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana, Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan, Pasal 170 ayat 3 KUHP tentang pengeroyokan hingga korban meninggal dunia, Pasal 351 ayat 3 KUHP tentang penganiaya berat, dan Pasal 160 KUHP tentang penghasutan. Polisi menyita barang bukti berupa 5 pedang, pisau, badik berbagai ukuran, baju para tersanka, baju korban, dan HP milik tersangka.
Mereka yang ditangkap adalah pelaku pembunuh Obed Misa (34) dari kelompok yang diserang. Keributan itu dipicu oleh permintaan 10 botol bir gratis dari kelompok pelaku, tetapi pengelola karaoke menolaknya.
"Delapan orang diamankan dan statusnya jadi tersangka. Motifnya dendam terhadap kelompok Thomas, yang dianggap telah menghilangkan fasilitas room dan bir di Locus, (sehingga) berencana menyerang dan membunuh Thomas," kata Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto, Rabu (15/5/2013) di Mapolda Metro Jaya.
Rikwanto mengatakan, para pelaku menyerang kelompok pimpinan Thomas sebagai tokoh "pemegang" lokasi hiburan tersebut. Saat terjadi kejar-kejaran, Obed tertinggal dari rombongan teman-temannya di depan ruko Jamsostek sehingga korban dikeroyok hingga tewas. Sementara itu, korban tewas dari kelompok penyerang ada dua orang, yakni Okta dan Yogi.
Polisi sudah melakukan gelar perkara terhadap kasus pembunuhan tersebut. Berdasarkan fakta-fakta dalam gelar perkara, penyidik sepakat untuk menaikkan status delapan pelaku itu sebagai tersangka. Mereka yang dijadikan tersangka adalah SW alias Jaya (22), K alias Slank (23), Sy alias Delu (21), SM alias Ipul (22), T alias Tawil (51), AM alias Ompong (42), Sh alias Jendol (27), dan D alias Belong (27).
Ompong merupakan tersangka pembacok kepala Obed. Tersangka K berperan menusuk punggung korban sebanyak dua kali, sedangkan SM dan D memukul korban. Tersangka Sh melempar kayu kepada korban, sementara Sy, T, dan Jaya mengejar korban.
"Saksi-saksi yang sudah di- BAP yakni sebanyak 36 orang. Mereka di antaranya terdiri dari pelapor, satpam, tukang parkir, 11 orang dari kelompok Kupang, dan para pelaku," ujar Rikwanto.
Para tersangka terancam Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana, Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan, Pasal 170 ayat 3 KUHP tentang pengeroyokan hingga korban meninggal dunia, Pasal 351 ayat 3 KUHP tentang penganiaya berat, dan Pasal 160 KUHP tentang penghasutan. Polisi menyita barang bukti berupa 5 pedang, pisau, badik berbagai ukuran, baju para tersanka, baju korban, dan HP milik tersangka.
10.5.13
Mahasiswa UKI yang Dikeroyok Gerombolan Pemuda di Jaktim Meninggal
JAKARTA, KOMPAS.com — Daniel Ardiles Saragih (22), mahasiswa semester tujuh Universitas Kristen Indonesia (UKI), mengembuskan napas terakhirnya di RS UKI, Cawang, Jakarta Timur, Rabu (8/5/2013) pagi. Daniel menjalani perawatan di RS UKI lantaran menjadi korban pengeroyokan sejumlah pemuda pada Minggu (5/5/2013) dini hari.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Timur Ajun Komisaris Besar M Soleh membenarkan hal tersebut. "Ya benar, sudah meninggal (Rabu) pagi tadi," kata Soleh dalam keterangannya kepada Kompas.com, Rabu malam.
Menurutnya, saat ini, Polsek Metro Kramat Jati sudah menahan tiga orang yang diduga terlibat dalam pengeroyokan tersebut, sementara tiga orang lain masih buron, berinisial H, R, dan RN. "Yang sudah ditahan, F, JO, dan NH," ujar Soleh.
Dari informasi yang dihimpun Kompas.com, Daniel menjadi korban pengeroyokan sejumlah pemuda yang bermukim tak jauh dari kampus UKI pada Minggu (5/5/2013) dini hari. Peristiwa tersebut bermula dari persoalan sepele, gara-gara korban menegur seorang pengendara sepeda motor karena kebisingan suara kendaraannya.
Pengendara motor yang ditegur korban ternyata malah memanggil teman-temannya sehingga terjadi bentrok antara warga dan sejumlah mahasiswa UKI. Dalam peristiwa itu, Daniel dikeroyok hingga mengalami pendarahan otak dan harus menjalani operasi. Namun, nyawa Daniel tetap tak tertolong.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Timur Ajun Komisaris Besar M Soleh membenarkan hal tersebut. "Ya benar, sudah meninggal (Rabu) pagi tadi," kata Soleh dalam keterangannya kepada Kompas.com, Rabu malam.
Menurutnya, saat ini, Polsek Metro Kramat Jati sudah menahan tiga orang yang diduga terlibat dalam pengeroyokan tersebut, sementara tiga orang lain masih buron, berinisial H, R, dan RN. "Yang sudah ditahan, F, JO, dan NH," ujar Soleh.
Dari informasi yang dihimpun Kompas.com, Daniel menjadi korban pengeroyokan sejumlah pemuda yang bermukim tak jauh dari kampus UKI pada Minggu (5/5/2013) dini hari. Peristiwa tersebut bermula dari persoalan sepele, gara-gara korban menegur seorang pengendara sepeda motor karena kebisingan suara kendaraannya.
Pengendara motor yang ditegur korban ternyata malah memanggil teman-temannya sehingga terjadi bentrok antara warga dan sejumlah mahasiswa UKI. Dalam peristiwa itu, Daniel dikeroyok hingga mengalami pendarahan otak dan harus menjalani operasi. Namun, nyawa Daniel tetap tak tertolong.
10.4.13
Gara-gara Uang Parkir, Dua Pemuda Dikeroyok
JAKARTA, KOMPAS.com — Bentrokan dua kelompok pemuda yang berujung pengeroyokan terjadi di tempat parkir minimarket Lawson, Jalan Cipete Raya, Jakarta Selatan. Pengeroyokan ini dipicu hanya karena masalah uang parkir.
Menurut Kapolsek Cilandak Kompol Sungkono, kejadian ini terjadi pada Selasa (9/4/2013) dini hari. Saat itu, dua pemuda bernama Azwar Anas dan Agus Saputra hendak meninggalkan minimarket tersebut. Kemudian, tukang parkir bernama Manik Hadi meminta uang parkiran.
Namun, Azwar dan Agus mengatakan akan kembali lagi ke minimarket tersebut. Uang parkiran pun akan dibayar setelah mereka kembali.
Tiba-tiba, sekelompok pemuda yang sedang nongkrong di dekat minimarket menyeletuk, "Bohong tuh, bohong."
Mendengar itu, Azwar mendatangi para pemuda yang berjumlah tujuh orang tersebut. Dia menanyakan maksud dari celetukan mereka. Di situ mulai terjadi percekcokan dan perselisihan paham hingga berujung pada pengeroyokan.
"Para pemuda yang ditegur langsung emosi dan mengeroyok korban sambil bilang mereka anak dari daerah Poncol," ujar Sungkono.
Akibat dikeroyok, Azwar dan Agus babak belur. Azwar bahkan saat ini masih dirawat di RS Fatmawati akibat terkena sabetan senjata tajam di bagian tangan.
Sementara Manik, petugas parkir yang mencoba melerai, ikut terkena dampak dari pengeroyokan tersebut. Manik mengalami luka ringan di bagian wajah.
Satuan Reskrim dari Polsektro Cilandak pada Selasa pagi kemudian meringkus tiga dari tujuh pelaku. Mereka adalah Julian, Febry, dan Firdaus. Sementara empat tersangka lainnya, yaitu Ivan, Tara, Fani, dan Joy, ditetapkan sebagai buron.
Menurut Kapolsek Cilandak Kompol Sungkono, kejadian ini terjadi pada Selasa (9/4/2013) dini hari. Saat itu, dua pemuda bernama Azwar Anas dan Agus Saputra hendak meninggalkan minimarket tersebut. Kemudian, tukang parkir bernama Manik Hadi meminta uang parkiran.
Namun, Azwar dan Agus mengatakan akan kembali lagi ke minimarket tersebut. Uang parkiran pun akan dibayar setelah mereka kembali.
Tiba-tiba, sekelompok pemuda yang sedang nongkrong di dekat minimarket menyeletuk, "Bohong tuh, bohong."
Mendengar itu, Azwar mendatangi para pemuda yang berjumlah tujuh orang tersebut. Dia menanyakan maksud dari celetukan mereka. Di situ mulai terjadi percekcokan dan perselisihan paham hingga berujung pada pengeroyokan.
"Para pemuda yang ditegur langsung emosi dan mengeroyok korban sambil bilang mereka anak dari daerah Poncol," ujar Sungkono.
Akibat dikeroyok, Azwar dan Agus babak belur. Azwar bahkan saat ini masih dirawat di RS Fatmawati akibat terkena sabetan senjata tajam di bagian tangan.
Sementara Manik, petugas parkir yang mencoba melerai, ikut terkena dampak dari pengeroyokan tersebut. Manik mengalami luka ringan di bagian wajah.
Satuan Reskrim dari Polsektro Cilandak pada Selasa pagi kemudian meringkus tiga dari tujuh pelaku. Mereka adalah Julian, Febry, dan Firdaus. Sementara empat tersangka lainnya, yaitu Ivan, Tara, Fani, dan Joy, ditetapkan sebagai buron.
28.3.13
Sebelum Dikeroyok, Kapolsek Andar Sempat Telepon Kapolres
Liputan6.com, Medan : Kapolsek Dolok Pardamean AKP Andar Siahaan sempat mengontak atasannya, Kapolres Simalungun AKBP Andi Syariful Taufik, via telepon saat dihadang massa di Dusun Merek Raja Huta, Desa Buntu Bayu Pane, Kecamatan Dolok Pardamean, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.
"Komandan, kami dikepung," kata Andar sebagaimana dikutip Andi Syariful. Itu terjadi setelah mereka diteriaki maling saat menggerebek judi togel.
"Saya minta dia menyelamatkan diri," kata Andi saat dihubungi Liputan6.com, Kamis (28/3/2013). Tapi, Andar terjebak dalam kerumunan massa yang marah. Sementara, tiga anggota berhasil meloloskan diri.
Andar akhirnya tewas dengan sejumlah luka di bagian wajah dan kepala. Jenazahnya kemudian dibawa ke RSUD Djasamen Saragih.
Korban meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak. (YUS)
"Komandan, kami dikepung," kata Andar sebagaimana dikutip Andi Syariful. Itu terjadi setelah mereka diteriaki maling saat menggerebek judi togel.
"Saya minta dia menyelamatkan diri," kata Andi saat dihubungi Liputan6.com, Kamis (28/3/2013). Tapi, Andar terjebak dalam kerumunan massa yang marah. Sementara, tiga anggota berhasil meloloskan diri.
Andar akhirnya tewas dengan sejumlah luka di bagian wajah dan kepala. Jenazahnya kemudian dibawa ke RSUD Djasamen Saragih.
Korban meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak. (YUS)
19.11.12
Febri Tewas Dikeroyok Rombongan Bermotor
JAKARTA, KOMPAS.com — Febri Fajar, seorang remaja berusia 16 tahun, tewas setelah menjadi korban penganiayaan rombongan bermotor di Jalan Madrasah, Cilandak, Jakarta Selatan, Minggu (18/11/2012) subuh. Fajar yang baru selesai nongkrong bersama teman-temannya tiba-tiba dihadang rombongan yang datang dengan sepeda motor.
"Korban tewas dianiaya oleh rombongan pelaku. Korban diduga dibantai dengan kelewang atau parang," ujar Komisaris Nuredy Irwansyah, Kepala Polsek Metro Cilandak, Jaksel.
Nuredy menjelaskan, awalnya korban dan lima sampai tujuh rekannya sesama remaja berkumpul tak jauh dari lokasi kejadian di Jalan Madrasah. Saat terdengar azan subuh, mereka memutuskan pulang.
Waktu hendak mengambil sepeda motor di parkiran Indomaret, muncul rombongan yang terdiri dari sekitar 10 sepeda motor yang langsung menyerang. "Korban dan teman-temannya sempat lari. Tapi, korban kesandung sesuatu dan jatuh," lanjut Nuredy.
Korban yang terjatuh akhirnya menjadi bulan-bulanan kelompok penyerang. Korban pun tewas dengan sejumlah luka bekas senjata tajam di tubuhnya. Pihak kepolisian telah memeriksa sejumlah saksi yang adalah rekan-rekan korban.
Kepada polisi, mereka mengaku masih mengingat ciri-ciri pelaku. "Dari keterangan para saksi, kami masih melakukan pengembangan untuk selanjutnya menangkap para pelaku," kata Nuredy.
"Korban tewas dianiaya oleh rombongan pelaku. Korban diduga dibantai dengan kelewang atau parang," ujar Komisaris Nuredy Irwansyah, Kepala Polsek Metro Cilandak, Jaksel.
Nuredy menjelaskan, awalnya korban dan lima sampai tujuh rekannya sesama remaja berkumpul tak jauh dari lokasi kejadian di Jalan Madrasah. Saat terdengar azan subuh, mereka memutuskan pulang.
Waktu hendak mengambil sepeda motor di parkiran Indomaret, muncul rombongan yang terdiri dari sekitar 10 sepeda motor yang langsung menyerang. "Korban dan teman-temannya sempat lari. Tapi, korban kesandung sesuatu dan jatuh," lanjut Nuredy.
Korban yang terjatuh akhirnya menjadi bulan-bulanan kelompok penyerang. Korban pun tewas dengan sejumlah luka bekas senjata tajam di tubuhnya. Pihak kepolisian telah memeriksa sejumlah saksi yang adalah rekan-rekan korban.
Kepada polisi, mereka mengaku masih mengingat ciri-ciri pelaku. "Dari keterangan para saksi, kami masih melakukan pengembangan untuk selanjutnya menangkap para pelaku," kata Nuredy.
12.11.12
Dikeroyok Geng Motor, Yusuf Terluka Parah
JAKARTA, KOMPAS.com - Seorang anggota Kelompok Sadar Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Pokdarkamtibnas) Kepolisian Sektor Cipayung ditemukan pingsan di Jalan Raya Cilangkap, RT 04 RW 06, Cilangkap, Cipayung, Jakarta Timur, Minggu (11/11/2012). Korban diduga dikeroyok geng motor.
Informasi yang dihimpun Kompas.com dari Satuan Reserse Kriminal Polres Jakarta Timur, korban bernama Yusuf (40). Pria yang memiliki nomor anggota Pokdar P.21039 tersebut ditemukan warga sekitar pada pukul 03.30 WIB dengan luka bacok di sekujur tubuh dan tangan kiri hampir putus.
Sebelum ditemukan, Yusuf diketahui tengah berada di sebuah SPBU. Kemudian, ia dihampiri oleh dua orang warga yang melaporkan bahwa ada keributan di lokasi yang berada tak jauh dari SPBU.
Yusuf lantas pergi untuk memeriksa keributan yang diduga dilakukan oleh kelompok pemuda yang menggunakan motor tersebut. Namun naas, saat melajukan sepeda motornya, Yusuf malah diserang puluhan pemuda.
Insiden tersebut dibenarkan oleh Kepala Sub Bagian Humas Polres Jakarta Timur Kompol Didik Haryadi. Menurut Didik, kasus tersebut tengah dalam penyelidikan aparat kepolisian. Sementara Yusuf langsung dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pasar Rebo untuk menjalani perawatan.
"Iya benar, dia dikeroyok. Korban dibawa ke Rumah Sakit Pasar Rebo. Kasus tersebut masih dalam penyelidikan," ujarnya.
Informasi yang dihimpun Kompas.com dari Satuan Reserse Kriminal Polres Jakarta Timur, korban bernama Yusuf (40). Pria yang memiliki nomor anggota Pokdar P.21039 tersebut ditemukan warga sekitar pada pukul 03.30 WIB dengan luka bacok di sekujur tubuh dan tangan kiri hampir putus.
Sebelum ditemukan, Yusuf diketahui tengah berada di sebuah SPBU. Kemudian, ia dihampiri oleh dua orang warga yang melaporkan bahwa ada keributan di lokasi yang berada tak jauh dari SPBU.
Yusuf lantas pergi untuk memeriksa keributan yang diduga dilakukan oleh kelompok pemuda yang menggunakan motor tersebut. Namun naas, saat melajukan sepeda motornya, Yusuf malah diserang puluhan pemuda.
Insiden tersebut dibenarkan oleh Kepala Sub Bagian Humas Polres Jakarta Timur Kompol Didik Haryadi. Menurut Didik, kasus tersebut tengah dalam penyelidikan aparat kepolisian. Sementara Yusuf langsung dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pasar Rebo untuk menjalani perawatan.
"Iya benar, dia dikeroyok. Korban dibawa ke Rumah Sakit Pasar Rebo. Kasus tersebut masih dalam penyelidikan," ujarnya.
16.8.12
Niat Merampok, Tewas Dikeroyok

JAKARTA, KOMPAS.com - Seorang pria tewas setelah diamuk massa. Ia dikeroyok warga karena mencoba merampok motor milik Soleh (35), warga Perumahanan Villa Kapuk Mas, Penjaringan, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat.
Peristiwa ini terjadi pada Selasa (14/8/2012), sekitar pukul 21.30 WIB. Saat itu, Soleh sedang mengendarai motornya, Yamaha Mio Soul bernomor polisi B 6702 UTO. Tiba-tiba dia disenggol orang tak dikenal yang membacok leher dan punggungnya. Soleh pun terjatuh.
"Modusnya dengan membacok kepala dan punggung korban. Kemudian berusaha merampas motor," kata Kapolsek Cengkareng Kompol Rudy Reyniewald kepada Kompas.com, Rabu (15/8/2012) siang.
Setelah Soleh jatuh, pelaku berupaya merampas motor Soleh. Namun Soleh tidak mau melepasnya begitu saja. Dia pun berteriak meminta bantuan warga.
Mendengar teriakan korban, warga berdatangan dan menangkap salah seorang pelaku. Pelaku dikeroyok hingga mengalami luka yang cukup serius.
Petugas Polsek Metro Cengkareng yang datang ke lokasi kejadian menemukan pelaku dalam keadaan terluka. Kemudian petugas melarikannya ke RS Polri Kramat Jati. Namun ketika sampai di rumah sakit, pelaku meninggal dunia.
Sebelum meninggal, pelaku mengaku bernama Firman (32), warga Muara Karang Barat RT 06/06 Pejagalan, Penjaringan, Jakarta Utara. Dari kejadian tersebut, polisi menyita satu buah handphone Blackberry dan sebilah golok.
Source
8.8.12
Pengeroyok yang Menewaskan Bahri Tertangkap
JAKARTA, KOMPAS.com - Kasus pengeroyokan hingga menewaskan Saiful Bahri (20) di Kebon Pala, Jakarta Timur, Senin (30/7/2012) lalu, terungkap. Satuan reserse dan kriminal Polres Metro Jakarta Timur berhasil menciduk dua orang pelaku pengeroyok di dua tempat terpisah. Dari keduanya, terungkap pula peran masing-masing atas pengeroyokan itu.
Kepala Satuan Resere Kriminal Polres Metro Jakarta Timur AKBP Dian Perri mengatakan, pelaku ditangkap pada Senin (6/8/2012) pukul 22.00 WIB. Pelaku pertama yang ditangkap atas nama Maryadi alias Yadi (38) dan Ahmad Dzaenal (19). Keduanya merupakan warga Jl. Asri RT 09 RW 07 Nomor 6, Makasar, Jakarta Timur.
"Ya benar, semalam sudah ditangkap. Pelaku pertama kita tangkap di rumahnya, daerah Halim. Pelaku kedua ditangkap di rumah neneknya, daerah Cimanggis, Depok," ujar Dian saat dihubungi wartawan, Selasa (7/8/2012).
Dian melanjutkan, keduanya terbukti melakukan aksi pengeroyokan hingga menewaskan Saiful Bahri, warga Cipinang Asem RT 05 Rw 04, Kebon Pala, Makasar, Jakarta Timur. Pelaku atas nama Yadi berperan sebagai pembacok, sedangkan Ahmad berperan sebagai pelaku pemukulan.
"Pelaku pertama itu membacok empat kali ke tubuh korban, pelaku satu lagi mengeroyok dengan memukul," lanjutnya.
Atas perbuatannya, kedua pelaku diancam Pasal 170 KUHP tentang penganiayaan hingga menyebabkan hilangnya nyawa orang dengan ancaman hukuman di atas 10 tahun penjara. Pihak kepolisian juga masih melakukan pemeriksaan intensif terhadap keduanya.
Sebelumnya diberitakan, Saiful Bahri tewas dengan luka bacok di tubuhnya setelah dikeroyok beberapa orang pengamen di Jl Jengki Kampung Asem, Kebon Pala, Makasar, Jakarta Timur, Senin (30/7/2012) lalu.
Berdasarkan data yang dihimpun di lapangan, peristiwa tersebut bermula saat adik korban, Fajar Azhari, memiliki masalah dengan para pelaku. Mereka berselisih atas persoalan bagi hasil atas usaha mengamen di jalan sehari-hari.
Akibat perselisihan tersebut, Fajar pun mengadu ke kakaknya. Namun naas, sang kakak, Saiful Bahri, malah menjadi korban pengeroyokan hingga tewas oleh para pelaku. Fajar sendiri mengalami luka-luka dan sempat dirawat di Rumah Sakit UKI, Cawang, Jakarta Timur.
Source
7.8.12
Tegur Anak-anak Punk, Ketua RW Dikeroyok

JAKARTA, KOMPAS.com - Melerai anak punk bertikai, Jasmine (50), Ketua Rukun Warga (RW) 15, Kelurahan Tegal Alur, Jakarta Barat menderita luka bacok. Ia dikeroyok kawanan anak punk dan menderita luka serius di bagian pelipis mata.
"Waktu main catur, tiba-tiba ada orang bawa senjata tajam sekitar 50 orang, pakai baju bebas, dan membawa motor. Pak RW menegur kawanan tersebut karena membawa samurai, tetapi tiba-tiba ia diserang," kata Jamus, adik Jasmine ketika dihubungi Kompas.com, Senin (6/8/2012) siang.
Jamus mengatakan, peristiwa tersebut terjadi pada Kamis (2/8/2012) pukul 02.00 pagi dan sudah melapor kepada pihak berwajib, tetapi sampai saat ini belum ada tindak lanjut dari kepolisian. Korban menderita luka bacok di bagian pelipis mata dan lebam di sekujur tubuhnya. Ia langsung dilarikan ke RSUD Cengkareng.
Sampai saat ini korban masih menjalani perawatan intensif. Jamus mengungkapkan, jika polisi tidak bisa menangani masalah anak punk ini, maka warga yang akan menanganinya sendiri. Tindakan yang dilakukan anak punk dengan membawa senjata tajam sangat meresahkan warga sekitar.
Budiman, Manajer Bagian Pelayanan RSUD Cengkareng mengatakan, Jasmine, pasien di RSUD yang masuk tanggal 2 Agustus 2012 menderita buta noktur kornea mata kiri. Selain itu, Jasmine juga menderita luka bacok. Di bagian tubuh terdapat memar atau luka karena benda tumpul.
Kanit Reskrim Kalideres, AKP saiful Anwar mengungkapkan, Jasmine dikroyok oleh anak punk sekitar 50 sampai 70 orang. Kemarin malem satu anak sudah diamankan, tetapi bukan dia pelaku pengeroyokannya. Dua orang dari pelaku masih dicari polisi.
Source
30.7.12
Puluhan Anggota MPR Ditetapkan Tersangka
Liputan6.com, Jakarta:
Kepolisian Resor Jakarta Selatan menetapkan 23 anggota Majelis Pembela
Rasulullah (MPR), termasuk pimpinannya Habib Umar yang menyisir tempat
hiburan malam pada Ahad dini hari silam, sebagai tersangka, Ahad (29/7).
Polisi menyita jenis senjata tajam dan stik golf yang digunakan saat sweeping (penyisiran) serta 27 unit sepeda motor sebagai barang bukti.
Kepala Polres Jaksel Komisaris Besar Imam Sugianto mengatakan banyak di antara para pelaku sweeping masih berusia di bawah umur. Dua anak dijadikan tersangka karena membawa senjata tajam, sedangkan sisanya dikembalikan pada orangtua.
Dalam aksinya mereka merusak dan menghancurkan barang-barang di tempat hiburan seperti kaca, botol, lampu, dan pintu. Mereka juga memukuli dua karyawan yang sedang bekerja di tempat hiburan malam.
Saat ditangkap, organisasi massa ini berdalih gelar sweeping karena tempat hiburan tetap buka saat Ramadan. Polisi akan menjerat para tersangka dengan pasal pengeroyokan dan membawa senjata tajam tanpa hak di muka umum. Mereka terancam hukuman di atas 15 tahun penjara.(AIS)
Source
24.7.12
Menunggu Sahur, Empat Pemuda Dikeroyok Geng Motor
Liputan6.com, Makassar: Berniat
menunggu sahur, empat pemuda di Bone, Sulawesi Selatan, terpaksa
dilarikan ke rumah sakit karena dibacok orang yang tak dikenal, Senin
(23/7) dinihari. Pelaku yang berjumlah empat orang tersebut diduga
anggota geng motor.
Insiden terjadi di Desa Pajalele, Kecamatan Sibulue. Saat itu Asdar dan ketiga rekannya tengah berkumpul di sebuah pos ronda. TIba-tiba dua pengendara motor yang berboncangan datang dan langsung menyerang mereka dengan menggunakan badik.
Para korban terluka dan harus dilarikan ke rumah sakit. Tak satu pun dari pelaku dikenali oleh korban. Kini keempat korban menjalani perawatan di ruang darurat Rumah Sakit Umum Terniawaru Bone. Sedangkan empat pelaku kini dalam pengejaran polisi.(JUM)
Source
Insiden terjadi di Desa Pajalele, Kecamatan Sibulue. Saat itu Asdar dan ketiga rekannya tengah berkumpul di sebuah pos ronda. TIba-tiba dua pengendara motor yang berboncangan datang dan langsung menyerang mereka dengan menggunakan badik.
Para korban terluka dan harus dilarikan ke rumah sakit. Tak satu pun dari pelaku dikenali oleh korban. Kini keempat korban menjalani perawatan di ruang darurat Rumah Sakit Umum Terniawaru Bone. Sedangkan empat pelaku kini dalam pengejaran polisi.(JUM)
Source
3.7.12
Lima Anggota Pemuda Pancasila Jadi Tersangka
Liputan6.com, Tangearng: Polresta
Tangerang Selatan, Jumat (29/6), menangkap dan menetapkan lima anggota
Pemuda Pancasila sebagai pelaku pengeroyokan serta pembunuhan Muhidin
atau Picuk, anggota Front Betawi Rempug atau FBR. Mereka membacok korban
di posko FBR Pondok Karya, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Rabu dini
hari lalu.
Kelima tersangka adalah Mulyadi, Ari Juniansyah, Abdul, Abdullah, serta Yandi. Mereka diringkus di Kreo, Kecamatan Larangan, Tangerang, Banten. Penangkapan tersangka berdasarkan keterangan saksi dan korban. Dalam penangkapan ini polisi menyita belasan senjata tajam, kartu anggota Pemuda Pancasila, dan formulir pendaftaran.
Polisi juga telah menetapkan sembilan anggota Pemuda Pancasila lainnya masuk dalam daftar pencarian orang atau DPO. Hasil pemeriksaan sementara, motif aksi brutal Pemuda Pancasila ini dilatarbelakangi dendam lama. Sebelumnya, anggota FBR menyerang posko Pemuda Pancasila di Ulujami, Jakarta Selatan.
Hingga kini, polisi masih terus mengembangkan ini untuk menangkap tersangka lainnya.
Source
14.6.12
Satpam Dikeroyok Pembalap Liar
Tiga pembalap liar
dibekuk jajaran Kepolisian Sektor Sukmajaya, Depok, Jawa Barat,
baru-baru ini. Ketiganya adalah Reza, Andi, dan Bocil. Dua di antaranya
bahkan masih di bawah umur.
Ketiganya dibekuk polisi lantaran mengeroyok dan menganiaya seorang anggota satuan pengamanan atau satpam, Toto Sugiarto, dan dua temannya.
Peristiwa bermula saat Reza hendak melintas di Jalan Rasamala, Depok Timur. Namun saat itu ada kursi yang memalang jalan agar dirinya tak bisa lewat. Dia pun menegur Toto. Ternyata, Toto sengaja memalang jalan tersebut agar tidak digunakan oleh para pembalap liar.
Kesal dengan Toto, Reza pun berkelahi. Lantaran kalah, Reza kemudian memanggil teman-temannya yang juga pembalap liar. Bersama Andi, Bocil dan dua pelaku lain mereka mengeroyok Toto. Dengan berbagai senjata tajam seperti golok dan pedang.
Saat dimintai keterangan, ketiga tersangka mengakui mengeroyok korban sengaja menutup jalan. Sebagai barang bukti polisi menyita sebilah pedang dan dua sepeda motor yang digunakan tiga tersangka. Polisi kini memburu dua tersangka lain yang juga ikut mengeroyok korban.Source
Ketiganya dibekuk polisi lantaran mengeroyok dan menganiaya seorang anggota satuan pengamanan atau satpam, Toto Sugiarto, dan dua temannya.
Peristiwa bermula saat Reza hendak melintas di Jalan Rasamala, Depok Timur. Namun saat itu ada kursi yang memalang jalan agar dirinya tak bisa lewat. Dia pun menegur Toto. Ternyata, Toto sengaja memalang jalan tersebut agar tidak digunakan oleh para pembalap liar.
Kesal dengan Toto, Reza pun berkelahi. Lantaran kalah, Reza kemudian memanggil teman-temannya yang juga pembalap liar. Bersama Andi, Bocil dan dua pelaku lain mereka mengeroyok Toto. Dengan berbagai senjata tajam seperti golok dan pedang.
Saat dimintai keterangan, ketiga tersangka mengakui mengeroyok korban sengaja menutup jalan. Sebagai barang bukti polisi menyita sebilah pedang dan dua sepeda motor yang digunakan tiga tersangka. Polisi kini memburu dua tersangka lain yang juga ikut mengeroyok korban.Source
1.6.12
Korban Pengeroyokan, Pemuda Terluka Parah

Liputan6.com, Klaten: Andri, warga
Bramen, Jebugan, Klaten Utara, tergolek tak berdaya di bangsal RSUP
Suraji Tirto Negoro, Klaten, Jawa Tengah, Kamis (31/5). Pemuda 22 tahun
itu mengalami luka sobek pada bagian perutnya akibat tiga sabetan
pedang.
Korban mengaku sempat berkelahi dengan empat pemuda yang tiba-tiba datang dan menghajarnya di kompleks Pasar Srago. Selain Andri, Yanto juga mengalami luka pada bagian kepalanya. Tukang parkir Pasar Srago ini terluka saat hendak memisahkan perkelahian antarpemuda itu.
Belum diketahui jelas penyebab perkelahian ini. Meski demikian, polisi sudah mengantongi identitas keempat pemuda yang diduga melakukan pengeroyokan. Seorang di antaranya sudah ditangkap. Sedangkan tiga lainnya masih dalam pengejaran.
Dari tangan pelaku, polisi menyita barang bukti berupa sebilah pedang dan sepeda motor.(BOG)
Korban mengaku sempat berkelahi dengan empat pemuda yang tiba-tiba datang dan menghajarnya di kompleks Pasar Srago. Selain Andri, Yanto juga mengalami luka pada bagian kepalanya. Tukang parkir Pasar Srago ini terluka saat hendak memisahkan perkelahian antarpemuda itu.
Belum diketahui jelas penyebab perkelahian ini. Meski demikian, polisi sudah mengantongi identitas keempat pemuda yang diduga melakukan pengeroyokan. Seorang di antaranya sudah ditangkap. Sedangkan tiga lainnya masih dalam pengejaran.
Dari tangan pelaku, polisi menyita barang bukti berupa sebilah pedang dan sepeda motor.(BOG)
Source
16.5.12
Dianiaya Geng Motor, Pelajar Kritis

Liputan6.com, Tasikmalaya: Seorang
pelajar sekolah menengah kejuruan harus masuk Rumah Sakit Umum Daerah
Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (15/5), setelah dianiaya gerombolan geng
motor. Korban mengalami luka di kepala, tulang punggungnya patah, serta
ada beberapa bekas sulutan rokok di tangannya.
Penganiayaan terjadi saat korban bernama Fiki Oktapratama bersama temannya melewati Jalan Cikalang Desa, menaiki sepeda motor. Tiba-tiba, muncul sekelompok orang yang langsung melempari korban dengan batu. Fiki terkena lemparan batu hingga terjatuh. Saat itulah ia langsung dianiaya.
Teman Fiki yang ketakutan langsung mengambil langkah seribu. Setelah beberapa lama, teman Fiki datang kembali ke lokasi dan menemukan Fiki tergeletak di pinggir jalan. Ia langsung dibawa ke RSUD Tasikmalaya. Kini kasus ini ditangani Kepolisian Resor Kota Tasikmalaya dan mengejar para pelaku.(ASW/JUM)
Penganiayaan terjadi saat korban bernama Fiki Oktapratama bersama temannya melewati Jalan Cikalang Desa, menaiki sepeda motor. Tiba-tiba, muncul sekelompok orang yang langsung melempari korban dengan batu. Fiki terkena lemparan batu hingga terjatuh. Saat itulah ia langsung dianiaya.
Teman Fiki yang ketakutan langsung mengambil langkah seribu. Setelah beberapa lama, teman Fiki datang kembali ke lokasi dan menemukan Fiki tergeletak di pinggir jalan. Ia langsung dibawa ke RSUD Tasikmalaya. Kini kasus ini ditangani Kepolisian Resor Kota Tasikmalaya dan mengejar para pelaku.(ASW/JUM)
15.5.12
Sidang Raafi Hadirkan 5 Terdakwa Pengeroyokan
JAKARTA, KOMPAS.com - Pengadilan Negeri Jakarta Selatan kembali menggelar sidang kasus pembunuhan Raafi Aga Winasya Benjamin dengan terdakwa Sher Mohammad Febri Awan (42). Dalam sidang ini, lima rekan Febri yang menjadi terdakwa dalam kasus pengeroyokan akan memberikan keterangan sebagai saksi.
"Keterangan lima saksi yang tertunda pada Kamis (10/5/2012) kemarin," kata Endy Martono, penasihat hukum Febri kepada wartawan di Jakarta, Selasa (15/5/2012).
Kelima saksi tersebut adalah Maratoga alias Toga (27), Helmy (24), Fajar Eddy Putra alias Bacol (25), Ali Abel bin Hasan Basalamah (33), dan Robby Syarif (34). Saksi lainnya Connie, istri Febri, menggunakan haknya untuk tidak memberikan kesaksian.
Kelima rekan Febri itu sebenarnya sudah mengambil sumpah pada sidang Jumat pekan lalu. Namun, lantaran lamanya pemeriksaan atas Sanuri, saksi anggota TNI yang hadir bersama kelompok Febri, keterangan Maratoga cs terpaksa ditunda hingga sidang hari ini.
Sebelumnya, JPU mendakwa Febri dengan pasal berlapis yang terbagi atas dua bagian. Dakwaan pertama terdiri atas tiga pasal, yaitu Pasal 338 KUHP, Pasal 170 Ayat (2) ke-3 KUHP dan Pasal 351 Ayat (3) KUHP jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.
Pada dakwaan kedua, JPU mengenakan Pasal 170 Ayat (2) ke-1 KUHP dan Pasal 351 Ayat (1) KUHP. Febri dianggap bertanggung jawab atas kematian Raafi, siswa SMA Panggudi Luhur pada 5 November 2011 di tempat hiburan kafe Shy Roof Top, Kemang, Jakarta Selatan. Selain itu, Febri juga didakwa atas kasus pengeroyokan yang berakibat kematian Raafi dan cederanya dua rekannya dari Panggudi Luhur.
Source
10.5.12
Tahanan Titipan Tewas Mengenaskan di Sel
Keluarga korban semula sempat menolak keras keinginan polisi yang mau meminta dilakukan otopsi terhadap Hari. Jenazah pun akhirnya diotopsi di Rumah Sakit Umum Salatiga.
Hari Cahyono sebelum ditemukan tewas, Minggu (9/10) malam masih sempat dijenguk sang istri Maria Lucky, Sabtu (8/10). Hari mulai masuk tahanan Jumat (7/10). Di duga kuat para pengeroyok Hari mempunyai dendam terhadap korban.
Polisi kini terus melakukan penyelidikan atas tewasnya tahanan titipan tersebut. (Vin)
Source
Subscribe to:
Posts (Atom)