Showing posts with label Premanisme. Show all posts
Showing posts with label Premanisme. Show all posts

1.11.13

Pentolan Preman Cengkareng Dibekuk Polisi

Liputan6.com, Jakarta : Tim Pemburu Preman Satreskrim Polres Metro Jakarta Barat menangkap salah satu pentolan preman yang kerap memeras warga Kapuk, Kebun Sayur Pertamina RT 06 RW 07, Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat, Fransico Suarez Ricardo (45) alias Bobby.

"Tersangka Bobby kita tangkap di sebuah hotel di Karawang. Bobby kita tangkap bersama istri keduanya," kata Kapolres Metro Jakarta Barat Kompes Pol M Fadil Imran, di Polres Jakarta Barat, Rabu (30/10/2013).

Bobby ditangkap di sebuah hotel di wilayah Karawang, Jawa Barat, pada Senin 28 Oktober 2013. Dari tangan Bobby, polisi menyita 6 pucuk senjata api rakitan. Senjata api itu kerap digunakan Bobby untuk menakut-nakuti warga yang menjadi korban pemerasan.

Meski telah menangkap Bobby yang diduga sebagai pelaku utama pemerasan warga di kawasan Kapuk, polisi juga masih melakukan pencarian terhadap Tommy Ismail yang merupakan rekan Bobby. Modus mereka melakukan pemerasan adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup.

"Selama ini mereka melakukan pemerasaan untuk memenuhi kebutuhan hidup, walaupun begitu tetap saja ada unsur premanisme," tambah Fadil.

Bobby kini harus mendekam di tahanan Polres Metro Jakarta Barat dan dikenakan pasal berlapis yakni Pasal 365 Pencurian dengan Kekerasan, Pasal 170 tentang Kekerasan dan Pasal 335 KUHP tentang Perbuatan Tidak Menyenangkan. "Tersangka diancam hukuman 20 tahun penjara," jelas Fadil.

Duel Maut Preman Kota Bandung

Seorang preman jalanan tewas bersimbah darah setelah berduel dengan preman lainnya. Diduga, pertikaian ini dilatarbelakangi perebutan lahan parkir di Kawasan Jalan Gudang Utara, Kota Bandung, Jawa Barat.

Liputan 6 SCTV, Jumat (1/11/2013) memberitakan, warga dan pengguna jalan di kawasan Jalan Gudang Utara, Kota Bandung dibuat gempar dengan ditemukannya sesosok mayat pria yang belakangan diketahui sebagai Kiki (25) ini di pinggir jalan.

Sejumlah luka terdapat di tubuh Kiki. Guna keperluan penyelidikan, jenazah Kiki dibawa ke Rumah Sakit Sartika Asih Kota Bandung, untuk diotopsi. Identitas pelaku belum diketahui.

9.4.13

Di GBK, Preman Ikut Minta Uang Parkir

JAKARTA, KOMPAS.com — Aksi premanisme yang meresahkan masyarakat Jakarta dinilai karena sistem parkir yang tidak sempurna. Misalnya, seperti di Kompleks Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta.

Menurut Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto, di pintu masuk Gelora Bung Karno, pengendara mobil dan motor sudah membayar biaya parkir. Namun, ketika akan parkir di dalam, ada lagi yang meminta uang parkir antara Rp 5.000 dan Rp 50.000.

Belum lagi pada saat ada acara besar seperti pameran atau konser. Para preman ini jumlahnya bisa lebih banyak.

Hal tersebut, kata Rikwanto, terjadi karena tidak ada petugas resmi yang menjaga di dalam Gelora Bung Karno. Oleh karenanya, para preman tersebut memanfaatkan kesempatan itu.

"Kalau sistemnya tidak sempurna, mereka (preman) yang ngisi," tutur Rikwanto di Mapolda Metro Jaya, Senin (8/4/2013) siang.

"Pihak pengelola harus menyediakan tukang parkir yang baik dulu, yang berseragam. Kalau tidak ada, ya tumbuhlah preman-preman ini," ujar Rikwanto lagi.

Jika pihak pengelola sudah menyediakan tukang parkir berseragam kemudian masih diganggu oleh preman, maka pihak polisi yang akan bertindak.

8.4.13

Preman JCC Sehari Bisa Dapat Rp 500.000

JAKARTA, KOMPAS.com — Tabroni adalah salah satu dari puluhan preman Parkir Timur Senayan yang diciduk petugas Resmob Polda Metro Jaya pada Jumat (5/4/2013) kemarin. Sehari, dia mengaku bisa mendapat Rp 500.000.

"Kalau saya jaga parkir di JCC, per motor saya minta Rp 2.000 per hari, dapatnya tidak tentu, tergantung ramai tidaknya dan ada acara atau tidak di JCC," ucap Tabroni, beberapa waktu lalu.

Tabroni mengaku sudah tiga tahun menjaga parkir di tempat itu. Keuntungan yang didapatnya juga cukup menggiurkan.

Biasanya dalam sehari lelaki asal Sukabumi ini bisa meraup uang antara Rp 40.000 hingga Rp 500.000. Uang itu kemudian disetorkan kepada bosnya. Sementara upah yang didapat per harinya antara Rp 40.000 hingga Rp 70.000.

"Lumayan sebulannya, kalau ramai sampai jutaan. Saya di sini sejak 2009, tadinya jualan minuman dan rokok, tapi kena razia. Jadi, ya jaga parkir di sini," kata Tabroni.

Tabroni juga mengaku uang hasil upah parkirnya digunakan untuk biaya hidup. Meski begitu, dia membantah jika melakukan pemalakan terhadap para pengendara yang memarkirkan kendaraannya di JCC.

13.2.13

Lerai Pertengkaran, Motor Yudi Dibakar Penagih Utang

JAKARTA, KOMPAS.com - Sekelompok debt collector atau penagih utang membakar motor milik Yudi, warga Rawa Buaya, Jakarta Barat. Padahal, Yudi hanya mencoba melerai perselisihan antara penagih utang dengan Sakwan, yang menggunakan motor milik kawannya.

"Jadi saksi bernama Sakwan diberhentikan motornya oleh debt collector. Terjadi cekcok mulut, kemudian Yudi melerai, tapi motornya malah dibakar," kata AKP Khoiri, Kanit Reskrim Polsek Cengkareng di kantornya, Selasa (12/2/2013).

Kejadian tersebut bermula saat Sakwan meminjam motor milik anak buahnya, kemudian diberhentikan oleh salah seorang debt collector. Karena merasa motor tersebut bukan miliknya, Sakwan tidak mau menyerahkan motor tersebut sehingga terjadi pertengkaran.

Melihat pertengkaran tersebut, Yudi yang berjualan stiker di lokasi sekitar mencoba melerai perselisihan. Akhirnya, kedua orang tersebut pun pergi menggunakan motor masing-masing. Namun, beberapa saat kemudian, kata Khoiri, debt collector kembali mendatangi lokasi pertengkaran bersama beberapa orang temannya.

Kemudian, mereka memukuli Yudi sampai babak belur dan membakar motor Yamaha Mio miliknya. Setelah membakar motor tersebut, pelaku melarikan diri dan meninggalkan Yudi di tempat kejadian. Sampai saat ini, Polsek Cengkareng masih mencari sekelompok debt collector tersebut.

14.8.12

Balai Lelang DKI Diteror Preman

JAKARTA, KOMPAS.com - Sekelompok anak muda yang diduga preman memaksa masuk ke Balai Lelang DKI Jakarta di Jalan Prapatan Senen, Jakarta. Sekelompok orang anak muda yang diduga preman tersebut datang ke gedung sekitar pukul 13.30 WIB, lalu menuju lantai tiga, tempat pelelangan. Di lantai itu bahkan mereka coba memaksa masuk ke dalam sebuah ruangan.

Kehadiran para pemuda bergaya preman itu membuat pengunjung gedung yang sedang mengikuti acara lelang ketakutan. Bahkan ada beberapa peserta kabur meninggalkan gedung karena panik. Polisi yang mendapat laporan segera terjun ke lokasi. Sekitar 50 lebih personel gabungan dari Polsektro Senen, Polsektro Sawah Besar dan Polrestro Jakarta Pusat ikut mengamankan gedung.

Menurut keterangan salah satu petugas, para pemuda itu adalah para preman yang menolak lelang tanah di Jalan Wahid Hasyim dan Gajah Mada.

"Mereka itu menolak ada tanah yang akan dilelang," kata petugas yang enggan disebutkan namanya itu.

Hingga kini Kantor Pelelangan DKI Jakarta masih dijaga pihak keamanan, sementara proses pelelangan kembali berjalan. Saat ini pihak kepolisian sedang mengejar kelompok anak muda tersebut, untuk penyelidikan lebih lanjut.

6.3.12

Renny Tupessy Bersembunyi di Rumah Hercules

JAKARTA, KOMPAS.com — Kepolisian Resor Metro Jakarta Pusat menangkap Renny Tupessy alias Irene, tersangka kasus penyerangan di rumah duka RSPAD Gatot Soebroto, di sebuah rumah di daerah Indramayu, Jawa Barat. Rumah itu disebut-sebut polisi milik salah satu pemimpin kelompok etnis tertentu yang dekat dengan Edo Tupessy, kakak Renny Tupessy.
Informasi yang dihimpun, rumah itu adalah milik Hercules, mantan pemimpin kelompok Timor di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Terkait hal ini, Hercules membantahnya.
"Saya enggak tahu kalau rumah saya dipakai Renny untuk bersembunyi. Yang saya tahu ada saudara saya namanya Boby butuh tempat untuk menenangkan diri. Enggak tahu kenapa dia takut," ungkap Hercules, Senin (5/3/2012), saat dihubungi wartawan.
Hercules ketika itu menyanggupi permintaan Bobby dengan mempersilakan Bobby menempati rumah kosong miliknya di kawasan Indramayu, Jawa Barat. Rumah itu, kata Bobby, hanya ditinggali oleh para suster yang menjaga rumahnya.
"Mertua saya juga suka di situ untuk bantu merawat rumah. Tiba-tiba saja mertua saya kasih kabar kalau rumah digerebek polisi untuk menangkap Renny," ucapnya.
Hercules mengaku, dirinya tidak tahu Renny ada di rumah itu bersama Onchu. Pasalnya, yang meminta izin memakai hanya Bobby. Hercules memang mengakui bahwa dirinya kenal pasangan suami-istri itu.
"Saya kenal baik dengan mereka. Tapi tidak tahu kalau dia di rumah saya," ujarnya.
Hercules mengatakan, setelah penggerebekan itu, namanya jadi dikaitkan dengan penyerangan di rumah duka RSPAD Gatot Soebroto. "Saya mau klarifikasi tentang hal ini. Saya serahkan semua ke polisi. Saya juga baru tahu ternyata Bobby sudah lebih dulu diangkut polisi dan menunjukkan keberadaan Renny ternyata di rumah saya," kata Hercules.
Sebelumnya, Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Pusat Ajun Komisaris Besar Hengky Haryadi mengatakan, ada pihak yang melindungi Renny. "Ada kelompok tertentu yang mana ada hubungannya dengan kelompok ini yang membantu pelarian Renny dan suaminya Onchu di Indramayu," ucap Hengky.
Pemimpin kelompok itu, kata Hengky, meyakinkan Renny bahwa dia tidak akan kena jerat hukum. "Kelompok ini menjamin kalau Renny tidak akan ditangkap," ujarnya.
Karena itu, Renny dan Onchu yang merupakan suami kedua Renny ini dilarikan ke sebuah rumah milik pemimpin kelompok itu di Indramayu, Jawa Barat. Selama empat hari, Renny dan Onchu bersembunyi di tempat itu dengan dikawal beberapa penjaga dari kelompok itu.
Namun, polisi berhasil mencium jejak keduanya. Renny dan Onchu dibekuk aparat kepolisian pada Minggu pagi dan langsung dibawa ke Jakarta. Saat digerebek, polisi mengamankan lima orang lainnya yang ada di dalam rumah untuk dimintai keterangan. Sementara dari keterangan kelimanya diketahui bahwa perintah melindungi Renny dan Onchu datang dari sang pemimpin.
"Pimpinannya nanti akan kami mintai keterangan juga. Pokoknya atas perintah Kapolri, tidak ada tempat untuk premanisme. Kami tindak semua yang terlibat," ungkap Kepala Polres Metro Jakarta Pusat Komisaris Besar Angesta Romano Yoyol.
Renny ditetapkan sebagai tersangka bersama dengan sembilan orang lainnya, yakni Edward Tupessy alias Edo, Gheretes Tamatala alias Heri, Tony Poceratu alias Ongen, Rent Penturi, Abraham Tuhehai, Yongky Maslebu, Rely Petirulan, Onchu, dan R. Sedangkan tiga orang lainnya masih diburu. Mereka ditetapkan sebagai tersangka lantaran terlibat dalam kasus penyerangan di rumah duka RSPAD Gatot Soebroto pada Kamis (23/2/2012) dini hari.
Dua orang tewas dalam peristiwa itu, sedangkan enam orang lainnya mengalami luka bacok. Motif penyerangan ini adalah penagihan utang piutang narkoba senilai Rp 280 juta.Source