JEMBER, KOMPAS.com — Warga yang menyerang masjid dan Pondok Pesantren Darus Sholihin pada Rabu (11/9/2013) diperkirakan berjumlah 30 orang. Namun, perbuatan mereka membuat kerusakan cukup parah. Mereka leluasa merusak fasilitas, seperti masjid dan bangunan lainnya serta 41 motor, karena saat itu pesantren sedang kosong ditinggal karnaval.
Semua murid mulai dari PAUD, TK, SD, SMP, dan SMK Darus Sholihin mengikuti karnaval pukul 13.30 WIB. Karnaval itu sebenarnya sudah dilarang karena berpotensi menimbulkan persoalan. Namun, para orangtua tetap meminta karnaval digelar.
Untuk melarang karnaval itu, polisi sampai memblokade jalan masuk dan keluar menuju ponpes itu. Namun, murid yang sudah bersiap karnaval nekat menerobos barikade yang dibuat polisi. Akhirnya barikade dibuka dan peserta memulai karnaval.
Sekitar 30 menit peserta karnaval berjalan, sebanyak 30 orang datang sambil membawa parang. Kala itu tidak ada polisi di sekitar ponpes dan masjid.
Polisi berjaga di barikade di sebelah barat ponpes, sedangkan warga penyerang menerobos dari arah timur yang tidak begitu terjaga.
“Katanya ada polisi, tetapi kok mereka bisa masuk. Saya tidak tahu pasti kejadiannya karena tadi kita sedang karnaval. Sampai sini semua sudah rusak, bahkan ada yang dibakar,” ujar Abdul Rohim, ustaz Ponpes Darus Sholihin.
Satu orang dikabarkan tewas
Diberitakan sebelumnya, satu orang ditemukan tewas menyusul kerusuhan di Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Rabu (11/9/2013). Korban tewas diketahui bernama Eko Mardi (45), warga Desa Puger. Selain korban tewas, dua lainnya mengalami luka parah di kepala dan kini masih dirawat di puskesmas setempat.
Informasi yang dihimpun Kompas.com, bentrokan berawal dari perayaan karnaval untuk memperingati 17 Agustus yang dilakukan simpatisan Ponpes Darus Sholihin pimpinan Habib Ali di Desa Puger Kulon.
Saat pondok dalam keadaan sepi ditinggal karnaval, tiba-tiba sekelompok massa lain yang menentang karnaval menyerang ponpes dan merusak sejumlah fasilitas, seperti masjid dan bangunan lain. Bahkan, dilaporkan 41 motor peserta konvoi dirusak. Sesaat setelah kejadian, seorang warga bernama Eko Mardi ditemukan sudah dalam keadaan tewas di pantai tak jauh dari lokasi ponpes.
Ketua panitia karnaval, Habib Isa, menyayangkan perusakan itu. Dia mempertanyakan polisi yang tidak bisa meredam kejadian tersebut. Dia meminta polisi untuk mengusut kasus tersebut.
Hingga kini, aparat kepolisian masih melakukan penyelidikan. Untuk mencegah kerusuhan susulan, personel Brimob didatangkan dari Polda Jatim untuk menjaga ketat lokasi bentrokan.
Showing posts with label Pemberontakan. Show all posts
Showing posts with label Pemberontakan. Show all posts
3.9.13
Kapolres: Di Puncak Jaya, Bisa Bunuh Aparat Dapat "Penghargaan"
JAKARTA, KOMPAS.com — Maraknya kasus penembakan terhadap aparat kepolisian dan TNI di Distrik Tingginambut, Puncak Jaya, Papua, disinyalir dilakukan oleh kelompok Organisasi Papua Merdeka. Pihak kepolisian mengakui tidak mudah memberantas keberadaan kelompok tersebut.
"Kerja sama masyarakat masih kurang karena rekan-rekan di sana tahu ada saudaranya di sana (sembunyi di hutan). Bahkan, tidak jarang anak-anak belasan tahun," kata Kapolres Puncak Jaya AKBP Marselis ketika ditemui wartawan di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK), Jakarta, Senin (2/9/2013).
Selain minim kerja sama, kata Marselis, adanya penghargaan istimewa kepada siapa saja yang dapat membunuh anggota TNI maupun Polri membuat banyak anggota kelompok bersenjata yang justru berlomba-lomba untuk membunuh petugas.
"Bahkan, anak-anak sekali pun, kalau mereka bisa curi senjata kami, dia bakal diangkat sebagai pemimpin. Tidak hanya itu, dia juga bisa mendapat ternak dan wanita yang banyak," katanya.
Marselis mengatakan, selama ini, pihaknya selalu melakukan patroli rutin di distrik tersebut. Meski telah mendapat bantuan dari aparat TNI dan Satuan Brimob Polda Papua, jumlah personel Polres Puncak Jaya yang hanya 230 orang dinilai masih jauh dari ideal.
Selain itu, minimnya alat transportasi yang dimiliki Polres Puncak Jaya disinyalir juga menjadi kendala penanganan kelompok bersenjata di sana. "Ada 16 distrik yang harus kami amankan. Sementara mereka (OPM) setelah menembak langsung lari ke atas. Seharusnya, pemerintah pusat bisa bantu support, minimal helikopter," katanya.
Sebelumnya diberitakan, seorang anggota TNI dari Satuan Tugas Yon 753, Pratu Andri Candrayasansyah, tewas ditembak oleh kelompok bersenjata tak dikenal di Distrik Tingginambut, Puncak Jaya, Jayapura, Sabtu (31/8/2013). Anggota TNI tersebut tewas ketika mengamankan jalur distribusi kebutuhan masyarakat Kabupaten Puncak Jaya.
"Kerja sama masyarakat masih kurang karena rekan-rekan di sana tahu ada saudaranya di sana (sembunyi di hutan). Bahkan, tidak jarang anak-anak belasan tahun," kata Kapolres Puncak Jaya AKBP Marselis ketika ditemui wartawan di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK), Jakarta, Senin (2/9/2013).
Selain minim kerja sama, kata Marselis, adanya penghargaan istimewa kepada siapa saja yang dapat membunuh anggota TNI maupun Polri membuat banyak anggota kelompok bersenjata yang justru berlomba-lomba untuk membunuh petugas.
"Bahkan, anak-anak sekali pun, kalau mereka bisa curi senjata kami, dia bakal diangkat sebagai pemimpin. Tidak hanya itu, dia juga bisa mendapat ternak dan wanita yang banyak," katanya.
Marselis mengatakan, selama ini, pihaknya selalu melakukan patroli rutin di distrik tersebut. Meski telah mendapat bantuan dari aparat TNI dan Satuan Brimob Polda Papua, jumlah personel Polres Puncak Jaya yang hanya 230 orang dinilai masih jauh dari ideal.
Selain itu, minimnya alat transportasi yang dimiliki Polres Puncak Jaya disinyalir juga menjadi kendala penanganan kelompok bersenjata di sana. "Ada 16 distrik yang harus kami amankan. Sementara mereka (OPM) setelah menembak langsung lari ke atas. Seharusnya, pemerintah pusat bisa bantu support, minimal helikopter," katanya.
Sebelumnya diberitakan, seorang anggota TNI dari Satuan Tugas Yon 753, Pratu Andri Candrayasansyah, tewas ditembak oleh kelompok bersenjata tak dikenal di Distrik Tingginambut, Puncak Jaya, Jayapura, Sabtu (31/8/2013). Anggota TNI tersebut tewas ketika mengamankan jalur distribusi kebutuhan masyarakat Kabupaten Puncak Jaya.
Subscribe to:
Posts (Atom)