Showing posts with label Terorisme. Show all posts
Showing posts with label Terorisme. Show all posts

19.10.14

Ancaman Bom Gedung Trans TV Tidak Terbukti, Pelaku akan Diusut


Minggu (19/10/2014), Gedung Trans TV yang berlokasi di Jl. Kapten Tendean, Mampang, Jakarta Selatan dihebohkan oleh ancaman bom yang disampaikan melalui pesan singkat (SMS) ke Call center 1717 milik polisi pada pukul 05.30 WIB.
Isi pesan singkat bernada ancaman ini berbunyi : “Laporan, gedung Trans TV akan diledakkan oleh ISIS, ini serius”. Berdasarkan pesan singkat ini kemudian polisi langsung melakukan penyisiran ke lokasi namun setelah satu jam penyisiran, ancaman ini tidak terbukti.
Menurut Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya Kombes Pol Heru Pranoto di gedung DPR, Senayan, Jakarta, kepolisian akan tetap mengusut pesan ancaman ini dan jika pelakunya diketemukan makan akan diproses secara hukum karena telah menimbulkan keresahan. Heru mengatakan bahwa kepolisian akan melacak nomor yang digunakan untuk mengirimkan pesan singkat berisi ancaman teror tersebut.
Mengenai motif pelaku, Heru mengatakan bahwa itu baru akan terungkap jika pelaku tertangkap, namun melihat dari beberapa kasis SMS ancaman bom yang pernah ada, rata-rata pelaku hanya berlatar belakang iseng. Ada juga pelaku yang sakit hati karena dipecat perusahaan dan kemudian melakukan ancaman bahwa perusahaannya akan di bom.
Dari beberapa kasus ancaman bom, lanjut Heru, tidak ada yang berkaitan dengan kegiatan terorisme.
"Kalau teroris enggak begitu cara kerjanya, enggak pakai ancaman-ancaman. Mereka langsung menyerang," ujarnya

16.5.14

Polisi Perbatasan Perketat Penjagaan Pasca Kasus Terorisme di Klaten

Kasus terorisme di Indonesia bukan merupakan hal yang baru. Kamis pagi (15/05/2014), sekitar pukul 08.30 WIB, Tim Detasemen Khusus 88 Mabes Polri, menangkap tiga orang terduga teroris, di rumah kontrakan Dukuh Sumber Wetan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Hingga kini, rumah berlantai dua yang dikontrak tiga orang itu masih dijaga petugas daru Polsek Trucuk, Klaten. Garis polisi juga dipasang di bagian depan rumah tersebut. Dari hasil penyergapan, Tim Densus menyita sejumlah barang bukti, diantaranya laptop, ponsel, senjata api rakitan, senjata tajam samurai sekitar 12 buah, serta panah dan bususrnya.

Setelah kasus penangkapan terduga teroris tersebut, Polisi resor Gunungkidul yang punya wilayah perbatasan dengan Kabupaten Klaten meningkatkan kewaspadaan di wilayah perbatasan. Razia kendaraan bermotor mengantisipasi masuknya teroris ke wilayah Gunungkidul juga digencarkan. Terutama pada jalur utama masuk wilayah Gunungkidul dari Kabupaten Klaten."Razia kita fokuskan pada jalur utama dari Kabupaten Klaten masuk wilayah Gunungkidul seperti jalur Ngawen," kata Kapolres Gunungkidul AKBP Faried Zulkarnaen, Kamis 15 Mei 2014.

Faried juga menuturkan, upaya itu digunakan sebagai  langkah antisipasi masuknya jaringan teroris di daerah tersebut. 

15.6.13

Banyak Peralatan Perang Ditemukan di Poso

POSO, KOMPAS.com - Poso, Sulawesi Tengah, terus menyimpan bara yang tak berkesudahan. Daerah itu seolah menjadi sarang kelompok radikal. Terbukti, dari penyisiran polisi di Gunung Koroncopu, Kecamatan Poso Pesisir Utara, ditemukan sejumlah peralatan perang, seperti ratusan amunisi dan puluhan bom rakitan dalam berbagai ukuran dan jenis.

Ada pula senjata api organik dan rakitan, alat pengintai, penunjuk arah, alat komunikasi, dan puluhan pakaian loreng yang mirip pakaian dinas TNI. ”Barang-barang ini kami temukan dalam penyisiran selama beberapa pekan di Gunung Koroncopu. Ini milik kelompok garis keras yang melakukan pelatihan dan bersembunyi di Gunung Koroncopu. Barang ini jadi bukti keberadaan dan aktivitas kelompok ini. Barang-barang seperti ini lazim digunakan dalam perang atau latihan perang,” kata Kepala Kepolisian Resor Poso Ajun Komisaris Besar Susnadi, Rabu (12/6/2013), di Poso.

Susnadi didampingi Wakil Kepala Polres Poso Komisaris Boegik S dan Dandim 1407 Poso Letkol Inf Bobby Prabowo. Hadir pula Komandan Batalyon Infanteri 714 Sintuwu Maroso, Letkol Inf Trijoko, dan Kepala Kejari Poso Nurtaman.

3.5.13

Sebelum Gerebek di Jalan Bangka, 2 Terduga Teroris Ditangkap di Sudirman

JAKARTA, KOMPAS.com — Kepolisian RI membenarkan adanya penangkapan terduga teroris, Kamis (2/5/2013) malam. Penangkapan dua terduga teroris berinisial JM alias Asep dan Ovie terjadi di Jalan Sudirman sekitar pukul 21.30.

"Pada pukul 21.30 telah ditangkap dua teroris atas nama JM alias Asep (perakit bom) dan Ovie di Jalan Sudirman pertigaan ke Benhil," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal (Pol) Boy Rafli Amar melalui pesan singkat, Jumat (3/5/2013) dini hari.

Dari penangkapan tersebut, Detasemen Khusus 88 Antiteror melakukan penggeledahan di rumah indekos terduga teroris yang terletak di Jalan Bangka II F, Pela Mampang, Jakarta Selatan. Sebelum ke Sudirman, kedua terduga teroris diduga berangkat dari rumah indekosnya tersebut.

6.2.13

Cahya Fitrianta, Teroris Peretas, Divonis 8 Tahun Penjara

JAKARTA, KOMPAS.com — Tersangka teroris, Cahya Fitrianta (26), divonis delapan tahun penjara dan denda sebesar Rp 500 juta dengan subsider 5 bulan penjara. Hukuman tersebut dijatuhkan atas tindakan Cahya meretas situs web untuk mendapatkan uang yang digunakan untuk mendanai kegiatan terorisme.

"Tersangka dijatuhi hukuman lebih rendah dibanding tuntutannya," kata jaksa penuntut umum (JPU), Suroyo, di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Selasa (5/2/2013) siang.

Suroyo mengatakan, tuntutan jaksa sebelumnya adalah 12 tahun penjara dengan denda sebesar Rp 2 miliar dan subsider 6 bulan penjara. Atas vonis yang lebih ringan tersebut, jaksa akan mengajukan banding kepada majelis hakim yang diketuai Ernita Ginting.

Menurut Suroyo, terdakwa terbukti melakukan kejahatan dan melanggar Undang-Undang Informatika dan Transaksi Elektronik. Namun, dari putusan hakim ketua, kejahatan tersebut tidak dapat dibuktikan sehingga terdakwa tidak terjerat pasal tersebut. Dari aspek itulah, JPU akan mengajukan banding terhadap putusan hakim.

Sementara itu, Farid Ghozali selaku kuasa hukum terdakwa menyatakan kurang puas atas putusan hakim. Farid mengatakan, tuntutan jaksa mengenai tindakan terorisme yang dilakukan terdakwa tidak dapat dibuktikan.

"Pasal yang dijatuhkan hakim ada yang tidak memiliki bukti hukum yang kuat. Dia tidak melakukan pelatihan militer di Poso ataupun kegiatan terorisme lainnya," kata Farid.

Sebelumnya, Cahya dituntut oleh JPU dengan pasal berlapis. Pasal tersebut adalah Pasal 15 pada Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Teroris, Pasal 3 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang, dan Pasal 30 ayat (3) pada UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

30.3.12

Densus 88 Gerebek Markas Terduga Teroris di Tangsel, 2 Tewas

Jakarta Densus 88 menggerebek sebuah lokasi yang diduga menjadi tempat tinggal pelaku teroris. Dalam penggerebekan itu, 2 orang yang diduga sebagai pelaku teror tewas ditembak.

Informasi yang dikumpulkan detikcom, penggerebekan terjadi sekitar pukul 02.00 WIB, Jumat (30/3/2012) di sekitar kawasan Jombang, Tangerang Selatan (Tangsel). Para pelaku disebutkan sempat hendak melakukan perlawanan, akibatnya peluru tajam pun dilepaskan.

Pelaku sudah diintai sejak beberapa waktu lalu. Keduanya diduga terlibat jaringan teroris yang selama ini biasa beroperasi di Jakarta dan sekitarnya. "Jaringan lama," bisik perwira di Mabes Polri yang enggan disebutkan namanya.

Sayangnya pihak humas Polri yang dikonfirmasi tidak memberikan respons. Kabagpenum Mabes Polri Kombes Pol Boy Rafli Amar tidak mengangkat telepon. Source

19.3.12

Politik · Hukum · Peristiwa · Kriminal · Opini Anda · Info Anda · Forum · Foto · TV detikNews Berita Polisi Telusuri Jaringan Teroris yang Ancam Bali

Jakarta Polisi terus menelusuri jaringan-jaringan dari lima orang teroris yang ditembak mati di Denpasar, Bali. Saat ini polisi masih terus melakukan penelusuran dan pengejaran.

Polisi tengah menelusuri dugaan rencana peledakan yang disiapkan oleh kelompok teroris tersebut. Saat ini polisi belum mau mengungkap data yang ditemukan.

"Kita masih menelusuri. Kita belum mempunyai informasi lengkap tentang itu," kata Wakapolda Bali, Brigjen Pol Untung Yoga Ana, kepada detikcom, Senin (19/3/2012).

Sebelumnya 5 pria terduga jaringan teroris tewas ditembak di Bali. Mereka ditengarai hendak melakukan perampokan di PT Bali Money Changer Jl Sriwijaya Kuta dan Toko emas Jl Uluwatu Jimbaran. Para pelaku adalah kelompok gabungan terkait DPO CIMB Medan.

Penyergapan dilakukan pada Minggu (18/3) malam pukul 20.30 WIB. Penyergapan dilakukan di dua tempat di kawasan Jl Gunung Soputan dan di Jl Danau Poso.

5 Pelaku yang tewas yakni HN (32) asal Bandung yang merupakan buron perampokan CIMB Medan, AG (30) warga Jimbaran. Keduanya disergap di kawasan Gunung Soputan sementara 3 Orang lainnya yakni UH alias Kapten, Dd (27) asal Bandung, dan M alias Abu Hanif (30) asal Makasar mereka disergap di kawasan Jl Danau Poso.

Selain menembak mati para terduga teroris, turut diamankan pula 2 pucuk senjata api jenis FN yang di dapat dari dua lokasi berbeda yakni 1 pucuk didapat dari TKP di Soputan dan 1 pucuk dari TKP Jalan Danau Poso, 2 magazine dan peluru berjumlah 48 butir kaliber 9 milimeter serta sebuah penutup wajah. Source

1.3.12

Hadiah uang untuk membunuh polisi

Polisi Kolombia mendapat ancaman pembunuhan dari sebuah geng kriminal. Para polisi di wilayah utara Kolombia kini dalam kewaspadaan tinggi setelah geng kriminal Urabenos menawarkan hadiah uang untuk siapapun yang berani membunuh polisi. Tawaran uang sebasar US$500 atau Rp 4,5 juta ini dicantumkan dalam sebuah selebaran yang ditemukan polisi. Hadiah uang ini akan lebih besar jika yang dibunuh adalah anggota polisi anti narkotika. Selebaran ini muncul hanya beberapa pekan setelah polisi menewaskan pemimpin geng Urabenos Juan de Dios Usuga dalam sebuah penggerebekan di peternakannya. Penggerebekan yang dilakukan polisi anti narkotika itu dilakukan di Necoli, Provinsi Cocho saat Usuga tengah merayakan malam pergantian tahun. Komandan polisi di kawasan itu, Jenderal Jose David Guzman mengatakan sudah memperingatkan jajarannya soal ancaman pembunuhan itu. "Kami belum bisa memastikan apakah geng Urabenos akan mengadopsi strategi ini untuk menyerang polisi atau tidak. Yang jelas kami bersiaga," kata Guzman. Intimidasi Sejumlah pejabat mengatakan Usuga atau lebih dikenal dengan sebutan Giovanni bersama anak buahnya menembaki helikopter polisi sesaat setelah mendarat dan menewaskan seorang anggota polisi. Akibatnya terjadi baku tembak yang kemudian menewaskan Usuga. Setelah tewasnya sang pemimpin geng ini justru semakin meningkatkan aktivitasnya. Anggota geng ini menutup jalan dan mengancam para pedagang agar tidak menjalankan aktivitasnya. Kondisi ini melumpuhkan perekonomian warga provinsi Antioquia dan Cordoba. Los Urabenos adalah salah satu kelompok bersenjata yang oleh pemerintah Kolombia disebut Bacrim alias geng kriminal. Presiden Kolombia Juan Manuel Santos menyatakan perang melawan geng kriminal menjadi salah satu prioritas pemerintahannya. Presiden menawarkan hadiah US$2,1 untuk informasi yang bisa mengungkap keberadaan Otoniel, pemimpin geng Urabenos. Pemerintah Kolombia juga mengumumkan pembentukan kesatuan polisi baru di kota Santa Marta, salah satu basis terkuat Urabenos di pesisir Atlantik.Source

29.4.11

Kamerawan Al Jazeera Akan Diperiksa Terkait Teroris

Kamerawan Al Jazeera yang bertugas di Indonesia berinisial B akan diperiksa oleh Polri terkait aksi rencana aksi teror peledakan bom di dekat Gereja Christ Chatedral, Summarecon Gading Serpong, Tangerang, Banten hari Kamis (21/4).

"Penyidik berencana memeriksa dia sebagai saksi terkait rencana aksi teror," kata Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabag Penum) Polri, Kombes Pol Boy Rafli Amar di Jakarta, Jumat.

Boy mengatakan bahwa informasinya B, menolak penawaran tersangka Imam Firdaus, salah satu kamerawan stasiun TV swasta. "Pernah bertemu beberapa kali," kata Kabag Penum.

Saat ada 17 tersangka aksi teror yang ditahan adalah Pepi Fernando, Hendi Suhartono alias Jakau, Febri Hermawan, Mugianto, Ade Guntur, Darto, Irman, M. Maulana Sani, Fajar Dwi Setyo, Watono, Jumi Kurniawan, Rifki, M. Syarif, M. Fadli, Deni Carmelita, Imam M. Firdaus dan Watun Maulana.

Polri menduga otak pelaku aksi teror tersebut adalah Pepi yang pernah bergabung dengan NII pada tahun 1998 lalu keluar.

Pepi adalah sarjana strata satu lulusan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Ciputat tahun 2001. Fakultas Tarbiyah, jurusan Pendidikan Islam.

Suami dari tersangka Deni Carmelita tersebut lahir di Sukabumi pada 10 Desember 1979. "Pepi bekerja sebagai penulis buku dan skenario film," kata Boy.

Mabes Polri menduga Pepi sebagai otak pelaku rencana aksi teror peledakan bom di dekat Gereja Christ Chatedral, Summarecon Gading Serpong, Tangerang, Banten. "Pepi mahir merakit bom," kata Boy.

Polisi menangkap Pepi di Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam, Kamis (21/4), serta tersangka dua termasuk jaringan teroris yakni Hendi Suhartono dan Muhammad Fadil.

Densus telah menemukan bahan peledak saat menggeledah rumah milik otak pelaku aksi teror, Pepi, di Komplek Harapan Indah, Bekasi, Jawa Barat pada hari Sabtu (23/4).

Boy menuturkan barang bukti berupa satu unit granat nanas, campuran bahan peledak diameter tiga centimeter, "cashing" bom model roket belum terisi bahan peledak, "cashing" bom siap jadi, lima kaleng bom termasuk satu wadah siap ledak terisi bahan peledak.

Selanjutnya, dua adonan bahan peledak sudah jadi, satu unit solder, potongan pipa besi dan jam dinding.

26.9.10

Polisi Waspadai Jaringan Teroris di Malang Raya

Malang (ANTARA News) - Aparat kepolisian resor Kota Malang, Jawa Timur, mewaspadai kemungkinan adanya jaringan teroris di kawasan Malang Raya, hal ini mengingat kedua tersangka terorisme dan perampokan Bank CIMB Niaga Medan berasal dari Jatim.

Kapolresta Malang, AKBP Agus Salim, Sabtu mengatakan, kawasan Malang Raya yang meliputi Kota Batu, Kota Malang dan Kabupaten Malang, mempunyai sejarah tersendiri bagi para tersangka teroris, sebab salah satu anggotanya yakni dr Azhari pernah ditembak mati di Kota Batu beberapa waktu lalu.

"Untuk itu, kami tetap menyiagakan anggota untuk terus berpatroli, khususnya di kawasan Malang Raya, sebab kami tetap menduga jaringan mereka masih ada di sini," katanya.

Dikatakannya, Polresta Malang tidak membentuk tim khusus terkait kewaspadaan ini, namun kesiagaan ini bekerjasama dengan satuan Brimob guna memantau sejumlah titik yang dulu pernah dijadikan tempat teroris bersembunyi.

"Kemungkinan kedua tersangka terorisme dan perampokan Bank CIMB Niaga Medan asal Jatim yang masih mempunyai jaringan di Kawasan Malang Raya," katanya.

Sebelumnya, Mabes Polri merilis sejumlah nama tersangka terorisme dan perampokan Bank CIMB Niaga Medan. Dari data itu, terdapat dua tersangka asal Jatim

Yakni berinisal N Warga Kelurahan Kidul Dalem, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, serta satu lagi berinisial B alias P, alias D yang berasal dari Lamongan.

"Saya rasa seluruh Polres dan Polresta di Jatim akan siaga terkait kasus teroris ini, sebab ini merupakan instruksi langsung dari Mabes Polri," katanya.

Sementara meski dalam kondisi siaga, namun Kapolresta tidak ingin suasana di kawasan Malang Raya jadi mencekam.

"Siaga tetap, tapi jangan sampai mencekam dan jangan mengusik warga yang sedang melakukan aktifitasnya," kata Agus yang juga mantan Kapolresta Bangkatan tersebut.

Sedangkan terkait rumah kedua tersangka, pihaknya juga bekerjasama dengan jajaran Polres daerah lain untuk menempatkan sejumlah petugas di rumah keluarga para tersangka teroris tersebut, tujuannya untuk penjagaan kondisi rumah tersangka.

"Kita tetap jaga, tapi tidak akan mengganggu anggota keluarga lainnya yang berada di rumah itu," ujar Agus.

7.8.10

Densus 88 Masih Geledah Sarang Teroris

Bandung (Jasa Web Design) - Tim Densus 88 Mabes Polri masih melalukan penyelidikan di rumah kontrakan yang dijadikan sarang teroris di Kampung Sukaluyu RW 12 RT 2 Kelurahan Pasirbiru, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung, Jabar, Sabtu.

Diduga di rumah tersebut masih tersimpan bahan-bahan untuk membuat bom, dan tim Densus 88 sekarang masih menggeledah. Salah seorang warga yang kesehariannya menjadi tukang kebun, Aleh, disertakan dalam penggeledahan itu.

Bukan tanpa alasan, ketika proses penggerebegan beberapa saat lalu, salah seorang dari teroris yang mencoba kabur, ditangkap di kebun singkong yang digarap Aleh.

Diperkirakan para teroris merakit bom di rumah kontrakan milik pasangan Saefuloh dan Ny Tri tersebut. Seperti yang diungkapkan warga setempat, Ny Lia, bahwa dia sering melihat para teroris tersebut membawa serbuk putih yang diperkirakan bahan pembuat bom.

Pengakuan salah seorang pengontrak (anggota teroris,red) kepada Ny Lia serbuk putih tersebut adalah bahan campuran untuk membuat gantungan kunci.

Belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian, sampai saat ini beberapa pejabat dari Detasemen Khusus 88 Mabes Polri sudah berdatangan ke lokasi.

Sementara warga kian berbondong-bondong mendatangi TKP, mereka merasa penasaran untuk melihat meski dari jarak 100 meter terpagar garis polisi. [Jasa Pembuatan Situs]

Teroris yang Ditangkap Fahri dan Hamzah

Bandung (ANTARA News) - Dua anggota kelompok teroris yang ditangkap di kampung Sukaluyu RT 02/12, Kelurahan Pasirbiru, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung, Sabtu, bernama Hamzah dan Fahri.

Seperti di ungkapkan seorang warga, Ny Kustiati (41), dia melihat petugas dari Densus 88 Mabes Polri usai penggerebekan membawa dua orang yang sebelumnya mengontrak rumah milik Saefuloh.

Seorang diantaranya dikenal bernama Fahmi. "Saya tahu dia yang berkacamata bernama Fahmi, yang seorangnya kalau tidak salah Hamzah," jelasnya.

Ketika penggerebekan, menurut dia, tidak terdengar ada suara tembakan, hanya saja bunyi keras sirine dan klakson mobil polisi. Puluhan anggota keluar dari mobil dan langsung mangepung rumah kontrakan tersebut.

Fahmi dan Hamzah tertangkap ketika mencoba kabur ke ke kebun dan belakang rumah, sedangkan seorang lagi bernama Helmi dapat meloloskan diri dari kejaran petugas.

Dua teroris yang ditangkap langsung dimasukan ke mobil jenis Elf. Mereka langsung dibawa ke Mabes Polri.

Menurut dia, ketika akan mengontrak kelompok teroris itu mengaku bekerja sebagai pengrajin jaket dan gantungan kunci. Pemuda yang bernama Helmi adalah bosnya, dua lagi mengaku sebagai karyawan.

Usia mereka, kata Ny Kustiati, masih muda antara 21 sampai 22 tahun. Kesehariannya mereka sangat tertutup, dan jarang berkomunikasi dengan warga. Meskipun begitu mereka sangat ramah, ketika bertemu.

Keseharian, mereka jarang terlihat ada di rumah. Lebih sering lampu luar menyala di siang hari, sedangkan gordengnya selalu tertutup.

Meskipun dalam keadaan hujan, warga masyarakat masih setia menunggui proses penyelidikan anggota Densus. Dari laporan, petugas masih menyisir rumah, karena ada laporan ada bom di dalamnya.

Presiden Dapat Ancaman Keamanan di Ciwidey

Pangalengan, Jawa Barat (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengaku mendapat ancaman keamanan dari pihak-pihak yang berniat tidak baik dalam kunjungan kerjanya ke Ciwidey, Jawa Barat.

"Saya mendapat laporan tadi malam dari jajaran pengamanan...ada diantara anak bangsa yang punya niat tidak baik yang sekarang ada di sekitar Ciwidey," kata Presiden saat melakukan peninjauan di Sekolah Calon Tamtama Rindam III Siliwangi, Jawa Barat, Sabtu.

Menurut Presiden, teroris tidak akan pernah menang di bumi Indonesia.

"Tidak akan pernah...justru hanya mengorbankan anak bangsa yang tidak berdosa," katanya.

Namun, kata Presiden, kelompok itu telah berhasil diatasi oleh aparat keamanan dan jajaran pengamanan presiden.

Kepala Negara meminta jajaran pengamanan presiden tetap melakukan tugasnya dengan baik.

Ia juga menegaskan bahwa ia beserta rombongan tetap akan melanjutkan kunjungan kerja dua hari di Jawa Barat.

"Bagi jajaran pengamanan laksanakan tugas sebaik-baiknya dengan profesional. Saya tetap akan menjalankan tugas dan tidak boleh terganggu apapun," katanya.

Pada Sabtu pagi, Kepala Negara mengunjungi Sekolah Unggulan Cinta Kasih di Pangalengan.

Kemudian pada Sabtu siang Presiden melanjutkan kunjungannya ke Sekolah Dasar Calon Tamtama TNI AD dan Rumah Pintar di Desa Mekar Sari, Ciwidey.

Sebelumnya pada Jumat sore, Presiden melakukan peninjauan pusat pelatihan pembangunan karakter atlet Prima (Program Indonesia Emas) di kompleks Kopassus Batujajar, Kabupaten Bandung Barat.

Presiden dijadwalkan kembali ke Jakarta pada Sabtu petang.

19.7.10

Diduga Teroris, Mu`arifin Ditangkap Puluhan Petugas Kepolisian

Sragen (ANTARA News) - Sejumlah saksi mata penangkapan seorang warga, Mu`arifin yang diduga teroris di Kampung Ngledok, Desa Kadipiro, Kecamatan Sambirejo, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, mengatakan, Mu`arifin ditangkap oleh puluhan petugas kepolisian.

"Dalam penangkapan tersebut, ada puluhan petugas kepolisian yang mengendarai tiga sepeda motor secara berboncengan dan sekitar empat mobil jenis Toyota Avanza," kata saksi mata penangkapan Mu`arifin, Sutanto (31) di Sragen, Senin.

Saat akan terjadi penangkapan tersebut, kata dia, para petugas kepolisian memarkirkan kendaraan-kendaraan itu di sekitar halaman Mushola Al Huda tempat ditangkapnya Mu`arifin.

"Ketika kami tanya ada kepentingan apa petugas tersebut di kampung kami, mereka mengatakan hanya mengenai permasalahan jual beli tanah," kata dia.

Usai solat Maghrib, lanjut dia, petugas tersebut menangkap Arifin yang ketika itu tidak melakukan perlawanan dan membawa Mu`arifin tanpa diketahui tujuannya.

Seorang saksi mata lainnya, Tri Harsono (34) mengatakan, selain melakukan penangkapan terhadap Mu`arifin, petugas kepolisian yang mengenakan pakaian hitam-hitam dengan membawa senjata laras panjang tersebut mendatangi rumah mertua Mu`arifin yang berada tidak jauh dari Mushola Al Huda.

"Akan tetapi, saya tidak mengetahui apa yang dilakukan di rumah mertua Mu`arifin, Suparjo," kata Tri.

Mertua Mu`arifin, Suparjo ketika ditemui di rumahnya, mengatakan, dirinya didatangi petugas kepolisian tersebut untuk diberitahu bahwa telah dilakukan penangkapan terhadap Mu`arifin, suami dari anaknya, Naim Murniati.

"Pemberitahuan tersebut tertuang dalam surat penangkapan yang di dalamnya terlihat bahwa surat tersebut dari Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Akan tetapi, dalam surat tersebut tidak tertulis alasan penangkapan menantu saya," kata Suparjo.

Dia mengaku kaget setelah didatangi banyak petugas kepolisian tersebut karena sebelumnya dia tidak mengetahui bahwa menantunya terlibat tindakan kejahatan, termasuk terorisme.

Sebelumnya, warga Banyuanyar, Kota Solo, Mu`arifin (30) ditangkap di Kampung Ngledok, Desa Kadipiro, Kecamatan Sambirejo, Kabupaten Sragen, pada Minggu (18/7) malam oleh petugas Polri yang diduga sebagai Dentasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri karena diduga terlibat jaringan teroris.

3.3.10

Bom Mobil Bunuh Diri Tewaskan Empat Orang di Irak

Baquba, Irak (ANTARA News/AFP) - Bom mobil bunuh diri kembar menewaskan empat orang, termasuk dua polisi, dan melukai 20 orang lainnya di kota Irak tengah Baquba, Rabu, hanya beberapa hari sebelum penyelenggaraan pemilihan parlemen di seluruh negeri.

Ledakan-ledakan itu terjadi sekitar 100 meter di pusat kota, yang terletak 60 kilometer di utara ibu kota Baghdad, pada sekitar pukul 09:30 waktu setempat, kata seorang perwira polisi pada komando operasi Baquba, yang berbicara dengan syarat tak disebut namanya.

Kendaraan pertama menabrak pintu gerbang perkantoran departemen perumahan tingkat provinsi, yang terletak di depan kantor polisi, sebelum meledak.

Beberapa saat kemudian di satu persimpangan lalu lintas yang berada di dekatnya, seorang pelaku pembom bunuh diri memicu alat peledak yang diletakkan di dalam kendaraannya, menimbulkan ledakan kuat.

Rakyat Irak akan pergi ke tempat-tempat pemungutan suara pada 7 Maret dalam pemilihan legislatif.

Ini adalah pemilihan legislatif kedua sejak Saddam Hussein ditumbangkan dalam serangan yang dipimpin Amerika Serikat pada 2003.


Garmin GPS

14.11.09

Wah! Noordin M Top Pernah Sembunyi di Kompleks AL

Gembong teroris asal Malaysia, Noordin M Top, ternyata pernah menginap bersama dengan gerombolannya di Kompleks Perumahan TNI Angkatan Laut, Ciangsana, Cikeas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Rumah yang berada di Blok F1 Nomor 3 tersebut letaknya sekitar 2 kilometer dari kediaman pribadi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Puri Cikeas.

Fakta tersebut terungkap dalam gelar rekonstruksi yang dilakukan Tim Densus 88 Antiteror, Jumat (13/11) sekitar pukul 10.00. Rekonstruksi ini menghadirkan seorang tersangka teroris, Amir Abdillah.

Amir menunjukkan bahwa Noordin pernah datang dan bermalam di rumah itu bersama dua orang lainnya yang bernama Tono dan Dayat. Bersama dengan mereka juga ada bungkusan besar dan sejumlah tas yang diduga berisi bahan peledak.

Rumah berukuran sedang itu terlihat tak berbeda dengan rumah-rumah di sekitarnya. Tembok sisi-sisi rumah saling berimpitan dengan rumah-rumah di sebelahnya. Menurut keterangan Amir, rumah ini sudah dibeli oleh seseorang bernama Asdar dari seorang anggota marinir.

Namun, dalam rekonstruksi ini tak terungkap kapan rumah ini dibeli ataupun kapan Noordin dan gerombolannya bermalam di sana. Namun, dapat diperkirakan kejadian itu berlangsung sebelum kasus penggerebekan di Jati Asih, Bekasi. Sebab, belakangan diketahui sejumlah bungkusan yang ada di Ciangsana telah berada di Jati Asih saat penggerebekan.

Kehadiran penjahat paling dicari dalam beberapa tahun terakhir di kompleks perumahan angkatan bersenjata tersebut sama sekali tak tercium. Bahkan, terbukti, Noordin dkk dapat dengan mudah melewati pos penjagaan Provost AL yang ada di depan kompleks perumahan tersebut.

"Saya sama sekali enggak tahu kalau Noordin pernah tinggal di situ," kata Buyung, salah satu penghuni yang rumahnya tepat berada di depan "rumah Noordin".

Berdasarkan sejumlah keterangan di lapangan, pengalihan kepemilikan rumah di dalam kompleks militer tersebut sudah banyak terjadi sehingga kini tidak semua penghuni kompleks tersebut berasal dari AL.

Dalam rekonstruksi ini juga hadir perwakilan dari POM AL. Mereka pun berupaya mengumpulkan keterangan seputar digunakannya tempat mereka sebagai lokasi persembunyian kelompok teroris.

1.8.09

Peran Ibrohim Terendus, Inilah Jejaknya

Jakarta - Jejak keterlibatan Ibrohim dalam jaringan teroris Jamaah Islamiyah yang beroperasi di Indonesia makin terkuak. Penata bunga di Hotel Ritz-Carlton yang dicurigai polisi ikut berperan dalam peledakan bom di dua hotel pada 17 Juli lalu itu diduga direkrut oleh jaringan Bogor, Jawa Barat.

Seorang perwira di kepolisian yang kemarin dihubungi Tempo mengatakan keberadaan Ibrohim mulai terlacak sejak pekan lalu. Sinyal telepon genggamnya sempat terdeteksi di daerah Cilacap, Jawa Tengah. Bahkan, kata dia, tim Detasemen Khusus 88 Antiteror berharap pria 36 tahun yang biasa dipanggil Boim itu bisa ditangkap dalam waktu dekat. "Mudah-mudahan pekan ini," katanya.

Dia menjelaskan, polisi mulai mengungkap teka-teki jaringan teror ini setelah melakukan olah tempat kejadian ledakan dan mencocokkannya dengan data yang sudah ada. Data itu berkaitan dengan material bom dan para personel kelompok yang terkait dengan gembong teror Noor Din M. Top.

Adapun peran Ibrohim dalam peledakan di Ritz-Carlton diungkapkan oleh para saksi yang diperiksa dan rekaman CCTV di hotel tersebut. Ia diduga membantu meloloskan pelaku dan bom ke dalam hotel.

Pengamat intelijen Dynno Chressbon, yang dekat dengan satuan polisi yang memburu kelompok ini, menjelaskan bahwa anggota jaringan seperti Ibrohim biasanya diajak ikut operasi setelah lima tahun aktif dalam organisasi. Ibrohim bergabung dalam jaringan ini karena direkrut seseorang yang tinggal di Bogor.

Orang ini sebelumnya direkrut oleh Nurhadi alias Nurhasbi, anggota jaringan Noor Din yang hingga kini juga masih diburu. "Itu jaringan yang dulu dibina oleh Hambali yang berasal dari Cianjur," kata Dynno. Hambali hingga kini masih ditahan otoritas Amerika Serikat atas tuduhan terlibat terorisme.

Polisi mengenali Nurhadi sebagai rekan seangkatan Asmar Latin Sani dalam jaringan teroris ini. Asmar tewas dalam aksi bom bunuh diri di Hotel JW Marriott pada 2003. Nurhadi dan Asmar yang menyiapkan peledakan itu. "Nurhadi mendampingi Noor Din Moh. Top sejak di Palembang," ujar Dynno.

Asmar juga kakak ipar Rusman Gunawan (Gun Gun), adik kandung Hambali.
Gun Gun alias Abdul Hadi alias Abdul Karim alias Bukhori pernah ditangkap intelijen Pakistan pada September 2003. Setelah dideportasi ke Indonesia, ia diadili dan divonis 4 tahun pada 2004 oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat karena dinyatakan terbukti membantu aksi terorisme. Gun Gun kini tinggal di Bengkulu.

Penelusuran Tempo di Bengkulu berhasil menemukan toko yang dikelola keluarga Gun Gun. Namun, tak banyak keterangan yang bisa didapat. "Kejadian yang menyangkut adik saya sudah bertahun-tahun yang lalu dan tidak ada hubungannya lagi dengan peledakan JW Marriott yang sekarang," kata seorang perempuan yang menjaga toko tersebut.

Bom Marriott dan Ritz-Carlton Diduga Buatan Upik

Jakarta - Upik Lawanga alias Taufik Bulaga, pelaku aksi kekerasan di Poso, diduga sebagai pembuat dua bom yang diledakkan di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton pada 17 Juli lalu. Ia murid langsung Dr Azahari.

Menurut sumber Tempo di kepolisian, spesifikasi bom bunuh diri tersebut identik dengan bom yang meledak di Tentena, Kecamatan Pamona Utara, Poso, Sulawesi Tengah, pada 2005. Bom itu dirakit oleh Upik. "Yang sekarang ada kemiripannya," kata seorang perwira polisi yang menangani kasus Poso itu di Jakarta kemarin.

Ia menuturkan, Upik mendapat ilmu meracik bom langsung dari ahlinya. Namun, ia tak menjawab siapa ahli yang dimaksud. "Dia (Upik) sempat ditangkap, tapi kabur." Berdasarkan data Tempo, Upik dicokok pada Januari 2007 oleh Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah.

Perwira lain yang menangani kasus bom Marriott-Ritz juga memastikan semua bom yang ditemukan akhir-akhir ini dibuat oleh orang yang sama. "Ini dibuat oleh ahlinya, punya ciri khusus. Tak meleset, seperti hand writing, kok," ujarnya. Ciri khusus itu, ia menuturkan, terlihat pada bungkus, kontainer, serta elektrikalnya.

Juru bicara Markas Besar Kepolisian RI, Inspektur Jenderal Nanan Soekarna, pun menyatakan bom dirakit oleh orang lama. Polisi bahkan sudah mengantongi nama si perakit. "Tentu kami sudah punya daftarnya," ucapnya

Dalam buku Indonesian Top Secret: Membongkar Konflik Poso, yang ditulis Komisaris Besar M. Tito Karnavian, Upik dipanggil "Prof" oleh teman-temannya karena kemahirannya merakit bom. Prof adalah kependekan dari profesor.

Dynno Chressbon, pengamat intelijen yang dekat dengan kepolisian, menjelaskan rangkaian bom di Kamar 1808 Hotel Marriott yang tak meledak identik dengan bom di Poso, Bali II pada Oktober 2005, bom di Kedutaan Australia, Cilacap, Wonosobo, dan Palembang. "Dulu pakai gotri, sekarang pakai mur."

Upik, kata dia, adalah pemain lama di Poso, Sulawesi Tengah. Upik tersangka kasus Tentena, pembunuhan tiga siswi, pembunuhan pendeta, dan kerusuhan agama di Loki (Ambon). Upik juga diketahui sebagai murid langsung Dr Azahari, tokoh teroris asal Malaysia yang telah ditembak mati di Batu, Jawa Timur, pada 2005.

Pengamat kepolisian Alfons Loemao berpendapat, terjadinya ledakan bom dengan pola yang sama menunjukkan bahwa pendeteksian dan pencegahan oleh kepolisian tak berjalan. "Nah, polisi baru saja mendata toko kimia setelah bom kemarin," katanya dalam sebuah diskusi tentang terorisme di Jakarta kemarin. "Tindakan ini sangat terlambat."

Menurut pensiunan polisi itu, sosialisasi mengenai penjagaan juga kurang maksimal. Petugas keamanan hotel, mal, atau tempat umum lainnya belum tentu memahami betul cara mendeteksi bom. Alat yang digunakan saat ini hanya detektor logam sehingga luput mengenali zat pembuat bom.

Noor Din Rekrut Anggota Berdasarkan Rekomendasi

Jakarta - Ketua Mantiqi III Jemaah Islamiyah, Nasir Abas menjelaskan bahwa perekrutan anggota jaringan Noor Din M. Top didasarkan pada rekomendasi. "Pengikut Noor Din yang membuat jaringan itu sendiri," kata dia saat dihubungi Tempo, Jumat (31/7).

Menurut dia, anak buah Noor Din lah yang mencari anggota baru kemudian dipilih berdasarkan seleksi. Akan tetapi, dia enggan menjelaskan syarat maupun cara seleksi yang dilakukan.

Ihwal metode perekrutan ini menarik perhatian publik setelah polisi menduga Ibrohim terkait dengan pengeboman di hotel JW Marriott dan Ritz Carlton pada 17 Juli lalu. Bila dugaan itu benar perekrutan anggota dan penyusupan ke dalam target dilakukan dengan rapi dan jangka waktu yang panjang.

Ibrohim, menurut rekan kerjanya di Cynthia Florist, sebelum bekerja di Ritz Carlton telah bekerja di Hotel Mulia selama tiga tahun sebagai penata bunga. Saat Hotel Ritz Carlton Mega Kuningan sudah beroperasi enam bulan, Ibrohim melamar kerja di Ritz. Meski gajinya turun, dari Rp 3 juta di Hotel Mulia menjadi Rp 2 juta di Ritz Carlton, Ibrohim rela bekerja di hotel itu.

Belakangan baru diketahui bahwa ada motif lain yang mendorong Ibrohim pindah. Kendati begitu, polisi hingga kini belum tahu sejak kapan Ibrohim bergabung dengan jaringan Bogor, begitu sebutan polisi untuk kelompok pendukung Noor Din yang berbasis di Cibinong, Bogor.

Nasir sendiri tak menjelaskan kelombok baru ini. Dia hanya mengatakan dirinya pernah menjadi guru bagi Noor Din. Ia terakhir berhubungan pada 1997. Sejak dipindah ke Serawak, Malaysia ia mengaku tak pernah berhubungan lagi.

Mengenai munculnya nama baru, Upik Lawanga alias Taufik Bulaga, pelaku aksi kekerasan poso, yang diduga sebagai pembuat dua bom yang diledakkan di Hotel J. W Marriot dan Ritz Carlton, pada 17 Juli lalu, dia enggan berkomentar. "Saya tidak kenal dia," tegasnya.

22.7.09

Hasil Pencocokan Tes DNA Nur Said dengan Keluarga Belum Keluar

Jakarta - Kepolisian RI hingga kini sedang membandingkan DNA dari keluarga dengan DNA jasad yang diduga pelaku pemboman hotel JW Marriott dan Ritz Carlton.
Menurut Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Nanan Soekarno, kemarin telah diperiksa DNA pembanding pelaku bom Marriott dari keluarga Nur Said dari Temanggung dan data pembanding dari pelaku bom Ritz dari keluarga Ibrohim dari Cirebon. "Hasilnya belum ada," kata dia.

Pihak kedutaan Belanda akan bawa data Antemortem (data pembanding sebelum meninggal) untuk membantu analisa, terkait hilangnya warga Belanda. Hasilnya adalah seorang wanita bernama EJC Keaning dan suaminya Pieter Burer. Hingga saat ini, saksi yang telah diperiksa mencapai 29 orang.