KENDAL, KOMPAS.com — Warga dan massa Front Pembela Islam (FPI) Temanggung terlibat bentrok di Sukorejo, Kendal, Jawa Tengah, Kamis (18/7/2013). Insiden ini ternyata berawal dari peristiwa sehari sebelumnya, yang kemudian tersulut peristiwa kecelakaan lalu lintas.
Pada Rabu (17/7/2013) sekitar pukul 15.00 WIB, massa FPI melakukan sweeping di Lokalisasi Sarem dan beberapa tempat hiburan lain di Kecamatan Sukorejo. Mereka datang mengendarai tiga mobil. Dalam aksi itu, lokalisasi dan tempat hiburan dirusak.
Di tengah sweeping, terjadi bentrok antara warga setempat dan massa FPI. Warga memberikan perlawanan terhadap tindakan massa FPI dan merusak satu mobil yang ditumpangi massa FPI di Bundaran Sukorejo.
Dalam insiden Rabu tersebut, dua orang dari FPI mengalami luka ringan. Keduanya juga sempat ditahan di Polsek Patean. Berakhir pada pukul 17.30 WIB, bentrok ini berbuntut warga yang berjaga-jaga di beberapa titik desa.
Pada Rabu malam, ada juga perwakilan warga mendatangi pemimpin FPI di Temanggung. Perwakilan warga bermaksud meminta ganti rugi atas perusakan yang dituding dilakukan massa FPI. Permintaan ganti rugi itu ditolak.
Pada Kamis (18/7/2013), warga Sukorejo mendapat kabar akan ada serangan balasan dari massa FPI. Sejak pagi, warga sudah bersiap. Pada pukul 13.00 WIB massa FPI benar-benar datang seperti kabar dengan menumpang tujuh mobil, berkeliling kampung. Kali ini, kedatangan mereka sudah dikawal polisi.
Mengetahui kedatangan massa FPI, sebagian warga keluar dan berkumpul di Bundaran Sukorejo. Bentrokan kecil sempat terjadi dan massa FPI langsung meninggalkan lokasi.
Namun, saat meninggalkan Sukorejo itu, mobil dari FPI menabrak seorang ibu yang sedang mengendarai sepeda motor di Jalan Sukorejo-Parakan. Ibu yang tengah memboncengkan anaknya itu tewas.
Kemarahan warga terpicu. Ratusan warga mendatangi lokasi dan mengejar mobil yang menabrak ibu itu. Warga berhasil mengejar rombongan mobil tersebut di Patean, sekitar dua kilometer dari Sukorejo. Mobil Avanza, salah satu kendaraan yang ditumpangi massa FPI, langsung dibakar.
Ketika insiden kecelakaan hingga pembakaran mobil terjadi, sebagian massa FPI masih ada yang "tertinggal" di Sukorejo. Mereka yang tertinggal ini adalah yang sedang shalat di Masjid Agung Sukorejo. Mereka pun kemudian ditahan tetap berada di masjid ketika warga sudah berkumpul lagi di Bundaran Sukorejo.
Ratusan polisi dan TNI diturunkan mengatasi kerusuhan ini. Massa FPI yang tertahan di masjid dievakuasi ke Polres Kendal sekitar pukul 17.30 WIB.
Sekretaris FPI Jateng, Mustafid, mengatakan, bentrok Kamis ini murni soal salah paham dengan kecelakaan lalu lintas itu. "Kejadian itu tidak sengaja. Tidak mungkin FPI sengaja menabrak ibu-ibu yang naik sepeda motor," kata dia, Kamis (18/7/2013).
Mustafid mengatakan, dalam insiden Kamis, massa FPI hanya berjumlah 27 orang, dipimpin Ketua FPI Temanggung, Burhanuddin. Dia menyebutkan, ada lima orang anggotanya terluka dan seluruh rombongan tersebut sudah diminta keterangan oleh polisi.
Sementara seorang anggota Polres Kendal, Kukuh, mengatakan, insiden Kamis tetap terkait dengan sweeping sehari sebelumnya. ”Jadi, warga menghadang sweeping dari FPI Temanggung. Mereka heran, kok, bisa masuk wilayah Kendal,” kata dia, seperti dikutip Tribunnews, Kamis (18/7/2013).
Showing posts with label Bentrokan. Show all posts
Showing posts with label Bentrokan. Show all posts
17.7.13
Nyaris Kena Panah, Remaja Ini Malah Ditahan
MAKASSAR, KOMPAS.com - Nasib sial menimpa Firwan (16), warga Jalan Bontoduri VII, Makassar. Remaja yang masih berstatus pelajar ini nyaris terkena panah, tetapi malah ditahan di sel Markas Polsekta Tamalate.
Informasi yang dihimpun di Polsek Tamalate, Firwan awalnya diamankan aparat Polsek Tamalate sesaat setelah ia menunaikan shalat Jumat (12/7/2013) lalu tak jauh dari rumahnya. Sejumlah pemuda terlibat aksi saling serang menggunakan batu dan panah.
Saat itu, Firwan nyaris terkena panah di kepalanya. Beruntung siswa SMK Tri Tunggal itu menunduk dan anak panah meleset.
"Anak saya nyaris terkena anak panah. Ia kemudian mengambil anak panah yang nyaris mengenai kepalanya. Namun tiba-tiba, polisi menangkapnya dan mengatakan jika anak panah itu milik Firwan. Padahal dia baru keluar dari masjid untuk menunaikan shalat Jumat. Tapi dia malah ditahan," ujar Dg Emba (51), ayah Firwan yang ditemui di Polsek Tamalate, Selasa (16/7/2013).
Ironisnya lagi, surat perintah penangkapan dengan nomor SP.Kap/298/VII/2013/Reskrim tanggal 12 Juli 2013 baru diserahkan kepada pihak keluarganya pada tanggal 15 Juli 2013 atau tiga hari setelah kejadian. Itu pun setelah ada permohonan penangguhan penahanan dari pihak keluarga.
Kepala Polsekta Tamalate Komisaris Polisi (Kompol) Suaeb A Madjid yang ditemui di kanornya mengakui pihaknya menahan Firwan karena diduga salah seorang pelaku tawuran.
"Soalnya ada anak panah ditemukan. Soal penangguhan penahanan itu merupakan kewenangan penyidik," tegasnya.
Informasi yang dihimpun di Polsek Tamalate, Firwan awalnya diamankan aparat Polsek Tamalate sesaat setelah ia menunaikan shalat Jumat (12/7/2013) lalu tak jauh dari rumahnya. Sejumlah pemuda terlibat aksi saling serang menggunakan batu dan panah.
Saat itu, Firwan nyaris terkena panah di kepalanya. Beruntung siswa SMK Tri Tunggal itu menunduk dan anak panah meleset.
"Anak saya nyaris terkena anak panah. Ia kemudian mengambil anak panah yang nyaris mengenai kepalanya. Namun tiba-tiba, polisi menangkapnya dan mengatakan jika anak panah itu milik Firwan. Padahal dia baru keluar dari masjid untuk menunaikan shalat Jumat. Tapi dia malah ditahan," ujar Dg Emba (51), ayah Firwan yang ditemui di Polsek Tamalate, Selasa (16/7/2013).
Ironisnya lagi, surat perintah penangkapan dengan nomor SP.Kap/298/VII/2013/Reskrim tanggal 12 Juli 2013 baru diserahkan kepada pihak keluarganya pada tanggal 15 Juli 2013 atau tiga hari setelah kejadian. Itu pun setelah ada permohonan penangguhan penahanan dari pihak keluarga.
Kepala Polsekta Tamalate Komisaris Polisi (Kompol) Suaeb A Madjid yang ditemui di kanornya mengakui pihaknya menahan Firwan karena diduga salah seorang pelaku tawuran.
"Soalnya ada anak panah ditemukan. Soal penangguhan penahanan itu merupakan kewenangan penyidik," tegasnya.
5.7.13
Koleksi Satwa Akan Disita, Pemilik Ancam Bunuh Diri
MANADO, KOMPAS.com - Alex Manopo, warga Kembang, Kota Manado memberontak dan mengancam petugas Badan Kelestarian Sumber Daya Alam (BKSDA) dengan pisau dan bunuh diri karena tim BKSDA akan menyita koleksi satwanya, burung jenis Nuri Ternate.
Alex berteriak dan mengatai petugas hanya pilih orang dalam penyitaan. Menurutnya beberapa warga lainnya yang memilihara satwa liar juga tidak disita. Karena Alex terus berontak dan terus mengancam, petugas pun urung melakukan penyitaan dan memilih meninggalkan lokasi.
Kepala BKSDA Sulut, Ir. Sudiyono menjelaskan bahwa ada undang-undang yang melarang pemeliharaan satwa yang dilindungi tanpa izin. "Undang-undang nomor 5 tahun 1990 melarang penjualan dan pembelian satwa yang dilindungi," ujar Sudiyono, Jumat (5/7/2013).
Burung Nuri Ternate memang belum masuk daftar satwa yang dilindungi, tetapi keterancaman terhadap populasinya semakin tinggi. Nuri Ternate kini marak diperdagangkan secara ilegal.
"Kami ingin memberikan pemahaman kepada warga mengenai pentingnya perlindungan terhadap satwa yang mulai terancam tingkat populasinya," tambah Sudiyono.
Selama tiga hari, sejak tanggal 4 Juli, BKSDA Sulut bekerja sama dengan Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki menggelar operasi penyelamatan satwa untuk mendata warga yang memiliki dan memelihara satwa yang dilindungi tanpa izin.
Selain di rumah Alex, tim BKSDA juga menemukan Nuri Ternate yang dibiarkan kepanasan dan kehujanan di luar rumah yang tak berpenghuni. Petugas pun menyelamatkan satwa tersebut.
Dalam operasi tersebut, tim juga menemukan ada oknum polisi yang ikut memelihara beberapa jenis burung yang dilindungi.
Alex berteriak dan mengatai petugas hanya pilih orang dalam penyitaan. Menurutnya beberapa warga lainnya yang memilihara satwa liar juga tidak disita. Karena Alex terus berontak dan terus mengancam, petugas pun urung melakukan penyitaan dan memilih meninggalkan lokasi.
Kepala BKSDA Sulut, Ir. Sudiyono menjelaskan bahwa ada undang-undang yang melarang pemeliharaan satwa yang dilindungi tanpa izin. "Undang-undang nomor 5 tahun 1990 melarang penjualan dan pembelian satwa yang dilindungi," ujar Sudiyono, Jumat (5/7/2013).
Burung Nuri Ternate memang belum masuk daftar satwa yang dilindungi, tetapi keterancaman terhadap populasinya semakin tinggi. Nuri Ternate kini marak diperdagangkan secara ilegal.
"Kami ingin memberikan pemahaman kepada warga mengenai pentingnya perlindungan terhadap satwa yang mulai terancam tingkat populasinya," tambah Sudiyono.
Selama tiga hari, sejak tanggal 4 Juli, BKSDA Sulut bekerja sama dengan Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki menggelar operasi penyelamatan satwa untuk mendata warga yang memiliki dan memelihara satwa yang dilindungi tanpa izin.
Selain di rumah Alex, tim BKSDA juga menemukan Nuri Ternate yang dibiarkan kepanasan dan kehujanan di luar rumah yang tak berpenghuni. Petugas pun menyelamatkan satwa tersebut.
Dalam operasi tersebut, tim juga menemukan ada oknum polisi yang ikut memelihara beberapa jenis burung yang dilindungi.
Bentrok di Timika, Polisi Razia Ratusan Pendulang
TIMIKA, KOMPAS.com — Pascabentrok pendulang yang menewaskan satu orang dan melukai belasan orang di areal pengendapan tailing mil 34, Distrik Kuala Kencana, Kamis (4/7/2013) siang, polisi di Timika menggelar razia pendulang.
Razia digelar aparat Polres Mimika dan Brimob Detasemen B di Jalan Airport pada Kamis malam sekitar pukul 21.30 WIT. Hasilnya, aparat menjaring 200 orang pendulang yang menumpangi tiga unit truk di Jalan Airport. Dalam razia ini, aparat mengamankan puluhan senjata tajam. Para pendulang langsung dibawa ke Mapolsek Mimika Baru.
Kepala Bagian Operasional Polres Mimika Kompol A Korowa yang memimpin razia malam tadi langsung mengimbau para pendulang untuk kembali ke rumah masing-masing.
Bentrokan antar-pendulang yang terjadi di areal pengendapan tailing yang menjadi lokasi dulang sudah sering kali terjadi. Bahkan, bentrokan kadang meluas ke Kota Timika, seperti yang terjadi pada 15 Maret lalu saat terjadi bentrokan antar-pendulang di mil 34 yang berujung lima orang tewas, yang sebagian korban ditemukan di luar lokasi dulang.
Bentrokan pendulang juga terjadi pada 7 Mei lalu. Insiden itu bermula dari rebutan lahan dulang yang berujung bentrok kelompok yang mengakibatkan tiga orang pendulang mengalami luka-luka.
Satu orang pendulang tewas dan belasan lainnya mengalami luka akibat bentrok antardua kelompok pendulang di areal pengendapan tailing mil 34, Distrik Kuala Kencana, Kamis (4/7/2013) siang.
4.7.13
Polisi Buru 3 Orang Terkait Bentrokan di Tambun
JAKARTA, KOMPAS.com — Subdit Jatanras Polda Metro Jaya masih memburu tiga pelaku yang diduga terlibat dalam bentrokan dan ikut serta melakukan penganiayaan yang mengakibatkan Mada (38), warga Kelurahan Jatimulya, Tambun Selatan, tewas di sekitar Jembatan Dua, Minggu (30/6/2013) siang.
"Satu pelaku atas nama Ramli sudah diamankan di sebuah tanah kosong di Jalan Pramuka, Matraman, Jakarta Timur, Senin (1/7/2013) pukul 16.00 WIB," ujar Kasubdit Jatanras Polda Metro Jaya AKBP Herry Heryawan, Rabu (3/7/2013), di Mapolda Metro Jaya.
Herry mengatakan, saat kejadian, Ramli berperan ikut memukul Mada. Sementara satu dari tiga DPO yang masih dikejar berperan membacok Mada. "Ada tiga DPO yang masih kami buru, tinggal tunggu waktu saja," ujar Herry.
Menurut Herry, kejadian pemicu bentrokan ialah berawal dari dua orang dari kelompok penyerang, yakni ikhsan dan Sahban, tidak membayar makan. Setelah itu, kedua orang tersebut ditegur oleh sekuriti. Namun, keduanya malah memukul sekuriti.
"Sekuriti itu warga sekitar, lalu warga sekitar berkumpul sampai akhirnya bentrokan pecah pada Minggu dini hari. Ada korban tewas terkena luka bacok atas nama Mada. Korban jatuh ke dalam air di Kalimalang," tutur Herry.
"Satu pelaku atas nama Ramli sudah diamankan di sebuah tanah kosong di Jalan Pramuka, Matraman, Jakarta Timur, Senin (1/7/2013) pukul 16.00 WIB," ujar Kasubdit Jatanras Polda Metro Jaya AKBP Herry Heryawan, Rabu (3/7/2013), di Mapolda Metro Jaya.
Herry mengatakan, saat kejadian, Ramli berperan ikut memukul Mada. Sementara satu dari tiga DPO yang masih dikejar berperan membacok Mada. "Ada tiga DPO yang masih kami buru, tinggal tunggu waktu saja," ujar Herry.
Menurut Herry, kejadian pemicu bentrokan ialah berawal dari dua orang dari kelompok penyerang, yakni ikhsan dan Sahban, tidak membayar makan. Setelah itu, kedua orang tersebut ditegur oleh sekuriti. Namun, keduanya malah memukul sekuriti.
"Sekuriti itu warga sekitar, lalu warga sekitar berkumpul sampai akhirnya bentrokan pecah pada Minggu dini hari. Ada korban tewas terkena luka bacok atas nama Mada. Korban jatuh ke dalam air di Kalimalang," tutur Herry.
22.6.13
Tolak Kenaikan Harga BBM, Mahasiswa Vs Polisi Ricuh di Bandung
BANDUNG, KOMPAS.com — Aksi unjuk rasa menolak rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di Bandung, Jawa Barat, berlangsung ricuh. Bentrok terjadi antara mahasiswa dan polisi.
Kericuhan bermula saat mahasiswa berkumpul melingkar di Jalan Dago, Bandung, Jumat (21/6/2013) malam. Di ruas jalan yang kini bernama Jalan Ir H Juanda, mahasiswa dan polisi terlibat saling dorong.
Pantauan Kompas.com, mahasiswa dan polisi saling dorong. Aksi saling dorong diawali oleh polisi yang berniat menertibkan aksi yang mengganggu lalu lintas. "Biarkan kami berorasi," teriak mahasiswa menyikapi tindakan polisi.
Orasi pun berlanjut. "Tolak kenaikan BBM, turunkan SBY-Boediono, SBY tak becus memimpin negara, hidup mahasiswa," teriak salah satu orator, sementara polisi terus mendorong kerumunan mahasiswa yang membentuk lingkaran dan menghabiskan satu ruas jalan.
Terus didorong-dorong, akhirnya para mahasiswa pun membalas dorongan. Baku hantam terjadi, suasana pun riuh. Sebagian mahasiswa berlarian dan lalu lintas semakin terganggu.
Salah satu pemimpin aksi mengajak semua mahasiswa melanjutkan long march. Mereka beriringan hampir menghabiskan seluruh badan jalan dengan pengawalan ketat polisi. Sepanjang perjalanan, adu mulut dengan polisi terus berlanjut, bahkan baku hantam nyaris terjadi.
Saat sedang berjalan mengawal, salah satu pimpinan kepolisian hampir terkena pukulan salah satu mahasiswa. Seorang mahasiswa terlihat berusaha memukul polisi berpangkat AKBP itu. Pukulan terhindarkan karena beberapa polisi lain pasang badan melindung pimpinan tersebut.
Perjalanan terus berlanjut menuju Unisba. Di sana, para mahasiswa berkumpul dan berdiskusi. Pantauan Kompas.com, aksi ini berakhir setelah pembacaan doa bersama, sekitar pukul 00.00 WIB.
Rencananya, aksi akan berlanjut pada Sabtu (22/6/2013) pukul 13.00 WIB. "Ingat, kita lanjutkan lagi besok. Kita besok kumpul jam 1," kata salah satu pimpinan aksi sebelum mengakhiri aksi.
Kericuhan bermula saat mahasiswa berkumpul melingkar di Jalan Dago, Bandung, Jumat (21/6/2013) malam. Di ruas jalan yang kini bernama Jalan Ir H Juanda, mahasiswa dan polisi terlibat saling dorong.
Pantauan Kompas.com, mahasiswa dan polisi saling dorong. Aksi saling dorong diawali oleh polisi yang berniat menertibkan aksi yang mengganggu lalu lintas. "Biarkan kami berorasi," teriak mahasiswa menyikapi tindakan polisi.
Orasi pun berlanjut. "Tolak kenaikan BBM, turunkan SBY-Boediono, SBY tak becus memimpin negara, hidup mahasiswa," teriak salah satu orator, sementara polisi terus mendorong kerumunan mahasiswa yang membentuk lingkaran dan menghabiskan satu ruas jalan.
Terus didorong-dorong, akhirnya para mahasiswa pun membalas dorongan. Baku hantam terjadi, suasana pun riuh. Sebagian mahasiswa berlarian dan lalu lintas semakin terganggu.
Salah satu pemimpin aksi mengajak semua mahasiswa melanjutkan long march. Mereka beriringan hampir menghabiskan seluruh badan jalan dengan pengawalan ketat polisi. Sepanjang perjalanan, adu mulut dengan polisi terus berlanjut, bahkan baku hantam nyaris terjadi.
Saat sedang berjalan mengawal, salah satu pimpinan kepolisian hampir terkena pukulan salah satu mahasiswa. Seorang mahasiswa terlihat berusaha memukul polisi berpangkat AKBP itu. Pukulan terhindarkan karena beberapa polisi lain pasang badan melindung pimpinan tersebut.
Perjalanan terus berlanjut menuju Unisba. Di sana, para mahasiswa berkumpul dan berdiskusi. Pantauan Kompas.com, aksi ini berakhir setelah pembacaan doa bersama, sekitar pukul 00.00 WIB.
Rencananya, aksi akan berlanjut pada Sabtu (22/6/2013) pukul 13.00 WIB. "Ingat, kita lanjutkan lagi besok. Kita besok kumpul jam 1," kata salah satu pimpinan aksi sebelum mengakhiri aksi.
18.3.13
Keributan di Kalijodo, Belasan Luka Bacok dan Panah
JAKARTA, KOMPAS.com - Keributan antarwarga terjadi di Jalan Trading RT 006/016, Kelurahan Penjagalan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utrara, Minggu (17/3/2013) dini hari. Sekitar 13 orang dari kedua belah pihak yang terlibat, menderita luka-luka akibat sabetan senjata tajam dan anak panah.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto mengatakan, keributan tersebut terjadi antara dua kelompok warga yakni kelompok Makasar Kalijodo dengan kelompok Mandar Airbaja. "Kedua kelompok saling serang dengan menggunakan senjata tajam," katanya, Minggu (17/3/2013) sekitar pukul 09.00 WIB.
Warga yang terluka dan dirawat di RS Atmajaya adalah Irfan Saputra (17 tahun, luka panah pada bahu sebelah kiri), Mulyanto (27, luka bacokan pada pipi sebelah kanan), Abdul (25, luka bacok pada pergelangan tangan sebelah kiri dan luka di ketiak kiri akibat panah), Vitara Aryanto (27 tahun, luka akibat panah pada lengan kanan dan paha kiri), dan Ryan (16, luka panah pada punggung kanan bagian belakang).
Korban yang dirawat di RS Pluit adalah Hendi (20), luka di lengan kanan akibat terkena panah). Sisanya di rawat di RSUD Cengkareng yakni Girana Riyanto (luka panah dipaha kiri dan perut ), M Sanika (luka panah pipi kanan ), Ilham (luka panah punggung), Febri Agung Perman (luka panah di rusuk, Iqbal (luka panah kaki kiri), Asep Firnada (luka panah pipi kanan), Irwansyah (luka panah perut dan tangan kiri), dan Alip Iman (luka bacok kepala belakang).
Menurut Rikwanto, kronologi kejadiannya berawal kelompok warga Mandar Airbaja melempar ke arah kelompok warga Makasar Kalijodo. Pelemparan dibalas, dan terjadi keributan antara dua kelompok yang baru dapat dipisahkan sejam kemudian. Keributan terjadi saat para tokoh warga kedua kelompok tidak ada di tempat.
Barang bukti yang disita antara lain satu golok, 14 anak panah, dan satu ketapel. "Aparat kepolisian setempat sudah bertemu dengan para tokoh kedua kelompok warga, dan tetap akan melakukan penegakan hukum pada para pelaku penganiayaan," kata Rikwanto.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto mengatakan, keributan tersebut terjadi antara dua kelompok warga yakni kelompok Makasar Kalijodo dengan kelompok Mandar Airbaja. "Kedua kelompok saling serang dengan menggunakan senjata tajam," katanya, Minggu (17/3/2013) sekitar pukul 09.00 WIB.
Warga yang terluka dan dirawat di RS Atmajaya adalah Irfan Saputra (17 tahun, luka panah pada bahu sebelah kiri), Mulyanto (27, luka bacokan pada pipi sebelah kanan), Abdul (25, luka bacok pada pergelangan tangan sebelah kiri dan luka di ketiak kiri akibat panah), Vitara Aryanto (27 tahun, luka akibat panah pada lengan kanan dan paha kiri), dan Ryan (16, luka panah pada punggung kanan bagian belakang).
Korban yang dirawat di RS Pluit adalah Hendi (20), luka di lengan kanan akibat terkena panah). Sisanya di rawat di RSUD Cengkareng yakni Girana Riyanto (luka panah dipaha kiri dan perut ), M Sanika (luka panah pipi kanan ), Ilham (luka panah punggung), Febri Agung Perman (luka panah di rusuk, Iqbal (luka panah kaki kiri), Asep Firnada (luka panah pipi kanan), Irwansyah (luka panah perut dan tangan kiri), dan Alip Iman (luka bacok kepala belakang).
Menurut Rikwanto, kronologi kejadiannya berawal kelompok warga Mandar Airbaja melempar ke arah kelompok warga Makasar Kalijodo. Pelemparan dibalas, dan terjadi keributan antara dua kelompok yang baru dapat dipisahkan sejam kemudian. Keributan terjadi saat para tokoh warga kedua kelompok tidak ada di tempat.
Barang bukti yang disita antara lain satu golok, 14 anak panah, dan satu ketapel. "Aparat kepolisian setempat sudah bertemu dengan para tokoh kedua kelompok warga, dan tetap akan melakukan penegakan hukum pada para pelaku penganiayaan," kata Rikwanto.
9.3.13
Kronologi Penangkapan Hercules dan 50 Anak Buahnya
JAKARTA, KOMPAS.com - Hercules Rozario Marcal beserta sekitar 45 anak buahnya ditangkap dan digelandang ke Mapolda Metro Jaya. Hercules tiba di Mapolda Metro Jaya, Jumat (8/3/2013) pukul 19.34 WIB. Empat anak buah Hercules lainnya ditahan di Polres Metro Jakarta Barat karena membawa senjata api dan senjata tajam.
Kepala Bagian Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto mengatakan, sekitar pukul 17.00 WIB, Hercules bersama kelompoknya berjumlah sekitar 40 orang mendatangi Kasat Serse Polres Jakarta Barat Ajun Komisaris Besar Henky Heriadi, ketika apel gabungan berlangsung. Apel yang diikuti 50 personel polisi ini dilakukan di Belmont Recidence, Jalan Lapangan Bola, Srengseng, Kembangan, Jakarta Barat. Alasannya, Hercules tidak senang dengan apel ini.
Hercules dan anak buahnya lalu berusaha membubarkan apel dengan cara melempar kaca ruko PT Tjakra Multi Strategi, yang berdekatan dengan tempat apel diadakan. Setengah jam kemudian, datang empat anak buahnya dengan mengendarai dua sepeda motor dan membawa senjata tajam untuk melawan polisi.
Hercules lantas digiring ke mobil patroli polisi. Ke-50 anak buahnya menaiki tiga angkot M 11 untuk menuju Mapolda Metro Jaya.
"Hercules dan anak buahnya dijerat dengan UU Darurat Nomor 12 Tahun 1951. Mereka juga diancam atas tindak pidana berupa pemerasan, perusakan, dan melawan petugas yang sah," ujar Rikwanto.
Kasat Reskrim Jakarta Barat Ajun Komisaris Besar Hengki Heriadi mengatakan, penangkapan Hercules terkait dengan aksi pemerasan dan kekerasan yang kerap dilakukan oleh anak buahnya.
"Sebelum kejadian ini, ada sengketa antara kelompok Hercules dengan PT Tjakra Multi Strategi, terkait pembangunan ruko. Mereka juga melakukan pencurian material, mengintimidasi, dan memeras warga sekitar," ujarnya.
Kepala Bagian Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto mengatakan, sekitar pukul 17.00 WIB, Hercules bersama kelompoknya berjumlah sekitar 40 orang mendatangi Kasat Serse Polres Jakarta Barat Ajun Komisaris Besar Henky Heriadi, ketika apel gabungan berlangsung. Apel yang diikuti 50 personel polisi ini dilakukan di Belmont Recidence, Jalan Lapangan Bola, Srengseng, Kembangan, Jakarta Barat. Alasannya, Hercules tidak senang dengan apel ini.
Hercules dan anak buahnya lalu berusaha membubarkan apel dengan cara melempar kaca ruko PT Tjakra Multi Strategi, yang berdekatan dengan tempat apel diadakan. Setengah jam kemudian, datang empat anak buahnya dengan mengendarai dua sepeda motor dan membawa senjata tajam untuk melawan polisi.
Hercules lantas digiring ke mobil patroli polisi. Ke-50 anak buahnya menaiki tiga angkot M 11 untuk menuju Mapolda Metro Jaya.
"Hercules dan anak buahnya dijerat dengan UU Darurat Nomor 12 Tahun 1951. Mereka juga diancam atas tindak pidana berupa pemerasan, perusakan, dan melawan petugas yang sah," ujar Rikwanto.
Kasat Reskrim Jakarta Barat Ajun Komisaris Besar Hengki Heriadi mengatakan, penangkapan Hercules terkait dengan aksi pemerasan dan kekerasan yang kerap dilakukan oleh anak buahnya.
"Sebelum kejadian ini, ada sengketa antara kelompok Hercules dengan PT Tjakra Multi Strategi, terkait pembangunan ruko. Mereka juga melakukan pencurian material, mengintimidasi, dan memeras warga sekitar," ujarnya.
18.1.13
Dua Kelompok Bentrok di Batam, Seorang Tewas
Liputan6.com, Batam: Dua kelompok saling serang membabi buta di Hotel Planet Holiday Batam, Kepulauan Riau, Senin (18/6) petang. Ada yang menggunakan parang, panah, dan senjata tajam lainnya. Meski polisi telah memberikan tembakan peringatan, kedua kelompok massat tak menghiraukan.
Seorang tewas dan 10 lainnya luka parah dalam bentrokan ini. Korban tewas bernama Johan Sihombing yang menderita luka bacok di kepala, lengan, serta tangan. Sementara para korban luka dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan.
Informasi yang diperoleh di lapangan, bentrokan dua kelompok ini dipicu kasus sengketa lahan PT Lordway Engineering yang menggugat PT Hyundai Metal dan Toni Fernando di Pengadilan Negeri Batam. Gugatan itu mengenai kepemilikan lahan tiga hektare lebih di Jalan Kuda Laut Batu Ampar, Batam.
Di pengadilan, Hyundai Metal dan Toni Fernando kalah. Namun, kedua tergugat mengajukan banding. Dalam Kondisi masih sengketa tersebut, PT Lordway Engineering mempercayakan salah satu kelompok yang bertikai untuk menjaga lahan tersebut.
Selain korban tewas dan luka parah, bentrokan tersebut juga mengakibatkan satu mobil rusak parah, kaca bagian depan hotel dan pos satpam Hotel Planet Holiday rusak. Hingga berita ini ditulis, pihak kepolisian belum memberikan keterangan seputar bentrok tersebut.
Seorang tewas dan 10 lainnya luka parah dalam bentrokan ini. Korban tewas bernama Johan Sihombing yang menderita luka bacok di kepala, lengan, serta tangan. Sementara para korban luka dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan.
Informasi yang diperoleh di lapangan, bentrokan dua kelompok ini dipicu kasus sengketa lahan PT Lordway Engineering yang menggugat PT Hyundai Metal dan Toni Fernando di Pengadilan Negeri Batam. Gugatan itu mengenai kepemilikan lahan tiga hektare lebih di Jalan Kuda Laut Batu Ampar, Batam.
Di pengadilan, Hyundai Metal dan Toni Fernando kalah. Namun, kedua tergugat mengajukan banding. Dalam Kondisi masih sengketa tersebut, PT Lordway Engineering mempercayakan salah satu kelompok yang bertikai untuk menjaga lahan tersebut.
Selain korban tewas dan luka parah, bentrokan tersebut juga mengakibatkan satu mobil rusak parah, kaca bagian depan hotel dan pos satpam Hotel Planet Holiday rusak. Hingga berita ini ditulis, pihak kepolisian belum memberikan keterangan seputar bentrok tersebut.
4.4.12
Bentrokan antarwarga di Palu, empat rumah terbakar
Palu (ANTARA News) -
Sebanyak empat rumah dan satu sepeda motor terbakar saat terjadi
bentrokan antara warga di Kelurahan Nunu dan Tavanjuka, Kota Palu,
Sulawesi Tengah Rabu pagi.
Keempat rumah warga yang terbakar itu, semuanya terletak di Kelurahan Nunu, Kecamatan Palu Barat.
Udin, seorang warga Tavanjuka, Kecamatan Palu Selatan di lokasi kejadian peristiwa mengatakan bentrokan tersebut terjadi mulai pukul 06.00WITA.
Beberapa orang warga dari Kelurahan Nunu secara tiba-tiba langsung melakukan pembakaran rumah warga yang berada dipinggir jalan raya.
Ironisnya, kata dia, tiga dari empat rumah yang dibakar berdekatan dengan Pos Pengamanan Polisi.
"Bagaimana ini bisa terjadi. Jangan-jangan tidak ada petugas di pos itu," katanya.
Selain empat rumah dibakar, juga sebuah kendaraan sepeda motor. Ny Usman, pemilik salah satu dari empat rumah yang dibakar orang tak bertanggung jawab menuturkan, saat itu mereka sedang sholat, tiba-tiba salah seorang masuk ke rumahnya dan langsung menyiramkan bensin, lalu kemudian membakarnya.
Ia mengaku, kejadian ini sudah merupakan yang ketiga kalinya. Kejadian pertama sekitar tahun 2007 rumahnya dibakar warga Kelurahan Nunu.
Ibu rumah tangga yang juga istri dari Ketua RT01/RW01 Kelurahan Nunu itu meminta kepada aparat kepolisian untuk menangkap para pelakunya.
"Saya kenal pelaku yang membakar rumah saya," katanya kepada sejumlah polisi yang ada di tempat kejadian peristiwa.
Ny Santi, mengatakan, sebelum rumahnya dibakar, pelaku sempat mengancamnya dengan menaruh parang di lehernya.
"Untung yang terbakar hanya bagian dapur saja sebab cepat dipadamkan oleh warga sekitarnya," katanya.
Hingga berita ini diturunkan, konflik antarwarga dua kelurahan di Kota Palu itu masih berlangsung meski sudah banyak aparat yang telah diterjunkan ke lokasi.
Warga dua keluarhan itu tampak menggunakan berbagai benda seperti parang, senjata angin, dum-dum, dan busur.
Akibat bentrok tersebut sejumlah warga dan juga aparat terluka dan beberapa terpaksa dilarikan ke rumah sakit. Source
Keempat rumah warga yang terbakar itu, semuanya terletak di Kelurahan Nunu, Kecamatan Palu Barat.
Udin, seorang warga Tavanjuka, Kecamatan Palu Selatan di lokasi kejadian peristiwa mengatakan bentrokan tersebut terjadi mulai pukul 06.00WITA.
Beberapa orang warga dari Kelurahan Nunu secara tiba-tiba langsung melakukan pembakaran rumah warga yang berada dipinggir jalan raya.
Ironisnya, kata dia, tiga dari empat rumah yang dibakar berdekatan dengan Pos Pengamanan Polisi.
"Bagaimana ini bisa terjadi. Jangan-jangan tidak ada petugas di pos itu," katanya.
Selain empat rumah dibakar, juga sebuah kendaraan sepeda motor. Ny Usman, pemilik salah satu dari empat rumah yang dibakar orang tak bertanggung jawab menuturkan, saat itu mereka sedang sholat, tiba-tiba salah seorang masuk ke rumahnya dan langsung menyiramkan bensin, lalu kemudian membakarnya.
Ia mengaku, kejadian ini sudah merupakan yang ketiga kalinya. Kejadian pertama sekitar tahun 2007 rumahnya dibakar warga Kelurahan Nunu.
Ibu rumah tangga yang juga istri dari Ketua RT01/RW01 Kelurahan Nunu itu meminta kepada aparat kepolisian untuk menangkap para pelakunya.
"Saya kenal pelaku yang membakar rumah saya," katanya kepada sejumlah polisi yang ada di tempat kejadian peristiwa.
Ny Santi, mengatakan, sebelum rumahnya dibakar, pelaku sempat mengancamnya dengan menaruh parang di lehernya.
"Untung yang terbakar hanya bagian dapur saja sebab cepat dipadamkan oleh warga sekitarnya," katanya.
Hingga berita ini diturunkan, konflik antarwarga dua kelurahan di Kota Palu itu masih berlangsung meski sudah banyak aparat yang telah diterjunkan ke lokasi.
Warga dua keluarhan itu tampak menggunakan berbagai benda seperti parang, senjata angin, dum-dum, dan busur.
Akibat bentrok tersebut sejumlah warga dan juga aparat terluka dan beberapa terpaksa dilarikan ke rumah sakit. Source
Subscribe to:
Posts (Atom)