JAKARTA, KOMPAS.com -
Koordinator Divisi Monitoring Pelayanan Publik Indonesia Corruption
Watch (ICW), Febri Hendri menuding beberapa kepala sekolah ikut
memfasilitasi siswa mendapatkan bocoran kunci jawaban pada Ujian
Nasional (UN) tahun 2012. Bahkan beberapa kepala sekolah diduga sampai
mengeluarkan sejumlah uang untuk mendapatkan bocoran tersebut.
Diberitakan
sebelumnya, ICW dan Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) menemukaan
adanya bocoran kunci jawaban untuk mata ujian Matematika dengan kode
soal A69, B71, C86, D45, dan E57 di beberapa sekolah di kawasan
Jabodetabek. Setelah dicocokkan, akurasi kebenaran kunci jawaban yang
bocor itu mencapai lebih dari 60 persen.
"Kami tengarai kepala
sekolah mengetahui dan ikut mengupayakan mendapatkan bocoran kunci
jawaban dengan membeli dan membagikannya kepada siswa melalui guru tata
usaha," kata Febri kepada para wartawan, di kantor ICW, Jakarta, Kamis
(26/4/2012).Lebih lanjut ia mengungkapkan, jika kepala sekolah benar-benar terlibat dalam pelanggaran ini, maka kebocoran UN bukan lagi sekadar persepsi, tetapi fakta dan bisa dibuktikan. Pasalnya, kata dia, terlibatnya kepala sekolah mencerminkan jika kecurangan dalam pelaksanaan UN sangat terstruktur dan sistemik.
"Jadi kalau sistem UN itu handal dan tak bisa bocor, menurut kami itu keliru. Kecurangan ini sistemik, melibatkan guru dan kepala sekolah," katanya.
Sementara itu, demi keamanan nara sumber dan saksi, ICW dan FSGI bersikukuh menolak membuka identitas guru, siswa dan nama sekolah yang bersangkutan. Pasalnya, berdasarkan pengalaman di tahun 2007, hingga hari ini guru-guru yang melaporkan kecurangan UN masih memperoleh intimidasi dan ancaman diturunkan pangkatnya.Source