SITUBONDO, KOMPAS.com - Beralasan untuk menafkahi
keluarga, dua orang buruh tani asal Desa/Kecamatan Arjasa, Situbondo,
Jawa Timur, bernama Herman Sucipto (43) dan Santawi (36), nekat membuka
praktik layaknya seorang dokter. Bahkan, kedua orang yang diketahui
lulusan SMP dan SD ini melakoni aksi menjadi dokter gadungan selama lima
tahun terakhir.
Kedua orang menggunakan modus menawarkan
jasa pengobatan keliling kampung di sejumlah desa di Kecamatan Arjasa.
Selain mengobati pasien yang menderita penyakit ringan, mereka juga
melayani para ibu rumah tangga yang akan suntik KB (Keluarga Berencana)
dan operasi khitan.
Hebatnya, selama membuka praktik ilegal, tak
ada satupun keluhan dari pasiennya. Tak pernah ada istilah malpraktek.
Praktik ilegal mereka akhirnya tercium polisi setelah mendapat laporan
dari warga. "Sebelum kami menangkap di rumahnya masing-masing pada
Rabu (28/3/2012) malam, keduanya memang sudah lama menjadi target
operasi (TO)," terang Kasatreskoba AKP Priyo Purwandito, Kamis
(29/3/2012) kemarin.
Dari kedua tangan dokter gadungan
tersebut, polisi mengamankan beberapa alat kedokteran, di antaranya,
stetoskop, alat tensi darah, peralatan bedah, injeksi, perban, dan aneka
obat-obatan. "Keduanya terbukti melakukan praktik layaknya seorang
dokter. Maka kami menjerat keduanya dengan Undang-undang Nomor 39 Tahun
2009 tentang Kesehatan dan Undang-undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang
Praktik Kesehatan tanpa register dan surat izin. Ancaman hukumannya 5
tahun penjara," imbuh Priyo.
Herman membenarkan, dirinya dan
Santawi telah 5 tahun menjalani profesi tersebut. Peralatan medis yang
dimiliki ayah dua anak itu merupakan warisan ayahnya yang dulu
berprofesi mantri kesehatan. Herman juga belajar kepada ayahnya.
Herman mematok tarif murah kepada pasiennya, berkisar Rp 10 ribu hingga
Rp 50 ribu. Setiap minggu, 3-5 pasien yang datang ke tempat praktiknya.
Selain
melayani pasien yang datang ke tempat praktik, Herman juga melayani
pasien di rumahnya bila ditelpon pasien. Karena laris manis, Herman
mengajak dan mengangkat Santawi sebagai asistennya. Dari Herman, Santawi
belajar cara mengobati pasien. Bahkan, meski hanya jebolan kelas V SD,
akhirnya Santawi berani membuka praktik sendiri.
"Saya tahu
cara mengobati pasien dari Herman setelah ikut dia setahun, tapi saya
tidak menerima permintaan khitan. Saya nekat menjalani profesi sebagai
dokter gadungan karena terdesak kebutuhan ekonomi," tutur Santawi.Source
No comments:
Post a Comment