Islamabad,
Sungguh tragis. Seorang bocah laki-laki berusia 12 tahun
di Pakistan nekat membakar dirinya sendiri karena putus asa. Bocah ini
kecewa karena orang tuanya tidak mampu membelikan seragam sekolah baru.
Kamran
(12) melakukan aksi bakar diri pada 25 Maret 2012 di dekat tempat
tinggalnya di desan Subhan Khwarh, distrik Charsadda, Pakistan. Siswa
kelas 7 ini akhirnya tewas pada Jumat (30/3) waktu setempat karena luka
bakar yang parah.
Menurut sang ibunda, Shandana Bibi, pada Sabtu
(24/3) lalu putranya meminta untuk dibelikan seragam sekolah baru.
Sebab Kamran hanya memiliki dua seragam sekolah dan salah satunya sedang
ia kenakan.
"Putraku meminta uang untuk membeli seragam baru,
tapi saya tidak bisa memenuhinya. Saya menolak untuk membelikan seragam
baru karena saya tidak punya uang sama sekali, bahkan untuk membeli
makanan, dari mana saya bisa mendapat uang untuk membeli seragam baru?"
ujar Shandana kepada media Pakistan, The Express Tribune, Senin (2/4/2012).
Gara-gara
permintaannya ditolak, lanjut Shandana, Kamran kemudian melakukan aksi
bakar diri tersebut. Dijelaskan dia, putranya mendapatkan bensin dari
pom bensin dekat rumahnya dan kemudian membakar dirinya dengan bensin
tersebut.
"Kami melarikannya ke rumah sakit, di mana dia
mengalami kondisi kritis selama 5 hari sebelum akhirnya meninggal
dunia," tuturnya.
Sementara itu, kakak tertua Kamran, Saleem
menuturkan bahwa keluarga mereka memang kurang mampu. Menurutnya, sang
ayah nekat meminjam uang dari teman dan rekannya untuk pergi ke luar
negeri dan mencari pekerjaan di sana. Sedangkan Saleem sendiri sudah 3
bulan terakhir menganggur.
"Kami tidak punya rumah, itulah kenapa
kami tinggal di rumah bibi sekarang. Dokter bahkan menagih biaya
perawatan Kamran sebesar 500 ribu rupee (sekitar Rp 50 juta) dan kami
tidak punya uang sebanyak itu. Kami bahkan tidak punya uang untuk
membeli makanan," ucapnya.
Pihak sekolah tempat Kamran belajar,
mengaku prihatin dengan insiden ini. Sang kepala sekolah, Zakir Khan,
menyebut Kamran sebagai murid pandai karena menduduki ranking kedua dari
seluruh siswa di sekolah tersebut. Khan juga mengkritisi pihak rumah
sakit yang masih menagih biaya perawatan yang sedemikian mahal.
"Karena
kondisi keluarganya yang miskin, Kamran tidak mampu melanjutkan
sekolahnya, jadi dia berhenti sekolah dan mulai mengumpulkan
barang-barang bekas dengan pamannya, tapi saya mengizinkan dia kembali
sekolah tanpa memungut biaya apapun karena dia merupakan aset bagi
negeri ini," tutur Khan. Source
No comments:
Post a Comment