14.7.09

Pembunuh Mayat dalam Koper Ditangkap

Banjar - Misteri mayat dalam koper yang ditemukan di terminal Banjar, Jawa Barat, pada dua hari lalu terpecahkan dan pelaku berhasil ditangkap. "Tim berhasil menangkap pelaku pada subuh tadi," ujar Kepala Polisi Wilayah Priangan, Komisaris Besar Polisi Anton Charlian, Selasa (14/7).

Kejadian berawal pada Minggu (12/7) sekitar pukul 07.00 WIB. Saat itu ditemukan mayat perempuan dalam koper di terminal Banjar. Koper itu dibawa bus jurusan Tasikmalaya-Cijulang, Ciamis.

Mayat itu dimasukkan ke dalam koper dengan posisi kaki dan kepala dilipat. Korban mengenakan baju warna kuning bergambar wayang kulit dangan celana jeans.

Berdasarkan hasil visum rumah sakit umum Kota Banjar, korban mengalami luka pada bagian kepala belakang, muka memar, leher bekas jeratan, dan lecet pada bagian tangan. Selain itu ditemukan pula bercak sperma pada celana korban.

Awak bus Sonny menyatakan koper itu mereka bawa karena dipikir milik satu dari 11 penumpang bus Bahagia Utama yang dioper ke mereka di Tasikmalaya dua jam sebelumnya.

Bahagia Utama, meski memiliki trayek Merak-Banjar, hanya berjalan sampai Tasikmalaya sehingga penumpang menuju Banjar dioper. Ternyata tak satupun penumpang yang memiliki koper itu.

Polisi kemudian melacak korban dan kemudian diketahui bernama Kun Surati, perempuan 30 tahun asal Cipinang, Pulogadung, Jakarta. yang bekerja di bagian administrasi di PT Karya Info Abadi yang berkantor di Cilandak, Jakarta Selatan. Pembunuh Surati ternyata teman sekantornya, Hilman Zaenuddin, pemuda 25 tahun asal Lampung.

Ditemui di Markas Polda Banten di Serang, Hilman mengakui ia membunuh Kun Surati karena kesal sering dijanjikan order pekerjaan keluar kota oleh korban. "Namun setelah berkali-kali berjanji tak ada bukti, padahal pekerjaan keluar kota itu bisa menambah penghasilan," kata ayah empat anak itu.

Kekesalan Hilman memuncak pada Sabtu (11/7) lalu. Di kantor, Hilman memukuli korban dan mencekik dengan tali. Untuk menghilangkan jejak, Hilman memasukkan mayat ke dalam koper besar untuk dibuang di kampung halamannya di Lampung.

Koper itu ia bawa sampai ke terminal penyeberangan feri di Merak, Banten. Di sana, Hilman berubah pikiran. Koper itu ia masukkan ke bus Bahagia Utama jurusan Merak-Banjar sedang ia meneruskan menyeberang feri ke Lampung.

No comments: