Header

Ini Video Saat Munarman Menyiram Thamrin Tomagola di TVOne

Jakarta - Insiden penyiraman sosiolog Thamrin Tomagola oleh jubir FPI Munarman terekam dalam video dan disiarkan langsung. Ini video detik-detik saat kejadian.

Dari video berdurasi 17 detik yang diupload di YouTube, Jumat (28/6/2013) itu terlihat Munarman emosi saat diskusi tengah berlangsung. Thamrin yang disiram pun tak mau meladeni aksi tersebut. Dia menyebut apa yang dilakukan Munarman sebagai tingkah preman.

Insiden itu terjadi sekitar pukul 07.45 WIB saat acara diskusi Apa Kabar Indonesia Pagi di TvOne membahas pelarangan sweeping tempat hiburan malam. Semula diskusi berlangsung tenang dan saling berargumen, namun Munarman terpancing emosinya saat saling sanggah dengan Thamrin.

Saat insiden itu terjadi, dua orang presenter TvOne yang memandu acara berusaha merelai. Tapi baju sang sosiolog sudah tampak basah.

Sebetulnya ada beberapa video lain yang muncul di situs jejaring sosial dan menayangkan aksi tersebut. Namun ini yang paling singkat:


Polda Metro Turut Selidiki Kasus Hilangnya 250 Dinamit

JAKARTA, KOMPAS.com — Polda Metro Jaya akan ikut menyelidiki kasus hilangnya 250 dinamit yang dibawa dari Kabupaten Subang menuju Bogor, karena truk pembawa dinamit itu sempat singgah di Marunda pada Kamis (27/6/2013) sekitar pukul 04.00 WIB.

Rikwanto menjelaskan, dua kotak yang masing-masing berisi 125 batang dinamit diketahui hilang saat truk sudah sampai ke tujuan, yaitu Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor, pada Kamis (27/6/2013) pukul 07.30 WIB. Berdasar pemeriksaan, ada bagian yang sobek pada terpal penutup kotak-kotak berisi dinamit itu.

"Dalam keberangkatan, seharusnya truk itu tidak ada mampir di suatu tempat. Dari sumber yang kita dapat, truk itu sempat mampir di Marunda, tapi masih didalami," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Rikwanto di ruangannya, Kamis (27/6/2013).

"Polda Metro sedang menyelidiki, sekarang sedang di lapangan, TKP masih kita cari di mana tepatnya truk itu singgah," tambah Rikwanto.

Sopir truk tersebut kini tengah dimintai keterangan oleh pihak Polda Jawa Barat, Polres Bogor, dan Polres Jakarta Utara.

Dimintai Mahar Terlalu Besar, Agus Hajar dan Lucuti Pacar

SOLO, KOMPAS.com — Seorang pria asal Sambungmacan, Sragen, Jawa Tengah, nekat menganiaya dan memeras harta kekasihnya hanya dengan alasan tidak sanggup membayar maskawin. Agus Rahendra (30), yang juga residivis, mengaku kalap saat mengetahui maskawin yang diminta keluarga sang kekasih melebihi kemampuannya.

Bukannya berkata jujur kepada kekasihnya yang berinisial M (24), asal Banjarnegara, Jawa Tengah, Agus justru melucuti perhiasan korban dan memaksa M untuk memberikan nomor PIN ATM. Peristiwa tersebut terjadi saat Agus berjanji akan menikahi M dan memperkenalkannya ke orangtua Agus di Sragen.

Namun dalam perjalanan ke Sragen, Agus yang kalut, karena tidak bisa memenuhi maskawin yang diminta, menghajar M di kebun tebu lalu merampas perhiasan milik M. Tidak hanya itu, Agus mengancam korban akan menyebarkan rekaman video mereka saat bersetubuh apabila melapor ke polisi.

"Saat itu korban melihat gelagat dirinya akan dibunuh, jadi menuruti kemauan pelaku, termasuk memberikan nomor PIN ATM. Namun, dengan syarat, Agus harus mengantar korban ke Solo," kata Kepala Polsek Banjarsari Komisaris I Ketut Raman kepada wartawan, Rabu (26/6/2013).

Sesampainya di salah satu hotel pada Sabtu (22/6/2013) malam, M sempat menolak untuk memberikan nomor PIN ATM. Namun, Agus justru kalap dan mencekik leher M yang kemudian terpaksa memberikan nomor PIN.

Berdasarkan pengakuan M, PIN yang diberikan kepada Agus adalah palsu. Setelah Agus pergi, M pun meminta bantuan pegawai hotel untuk melapor ke polisi terkait perlakuan Agus. Berbekal laporan itu, Agus pun bisa langsung ditangkap petugas dari Polsek Banjarsari, Solo.

"Saya rekam beberapa kali pas kami berhubungan dengan HP saya. Sempat saya cekik saat dia tidak mau kasih nomor PIN," kata Agus kepada wartawan saat gelar perkara di Polsek Banjarsari, Rabu.

Atas perbuatannya, Agus dijerat Pasal 362 KUHP. "Tentang pencurian dengan ancaman pidana penjara maksimal 7 tahun penjara," kata Raman. Dia menambahkan, baik Agus maupun M, keduanya semula sama-sama bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta.

Keluarga Terduga Pemukul Polisi Upayakan Mediasi

JAKARTA, KOMPAS.com — Pihak keluarga Cendy Trendyanto (23) berusaha melakukan mediasi dengan pihak Briptu Muhammad Akbar (26). Sejauh ini, usaha mereka belum membuahkan hasil sesuai harapan.

"Keluarga Cendy ingin menempuh jalan damai dengan melakukan mediasi, tapi para polisi di Polsek Pasar Minggu tidak mau menjembatani maupun memberikan kontak M Akbar untuk mediasi. Kami masih menunggu (perkembangan)," ujar kakak Cendy, Tiara Sugiono.

Akbar adalah anggota Polsek Metro Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Pada Rabu (26/6/2013), ia menilang Cendy karena mengendarai sepeda motor di jalur busway di Jalan Buncit Raya, Jakarta Selatan. Saat itu, Akbar tengah bertugas menjaga jalur busway di titik itu bersama dengan empat rekannya.

Kepala Polsek Pasar Minggu Komisaris Adri Desas Furyanto menjelaskan, Cendy memaki Akbar setelah proses tilang selesai. Akbar, menurut Adri, merespons dengan merangkul Cendy sambil menanyakan alasan Cendy memakinya.

Cendy disebut Adri menjawab pertanyaan itu dengan memukul wajah Akbar hingga Akbar jatuh dan kemudian menendangnya. Adri menjelaskan, ketika Akbar ingin memberikan perlawanan, rekan-rekan Akbar datang melerai. Cendy kemudian dibawa ke Mapolsek Metro Pasar Minggu.

Tiara mengatakan, Cendy sudah dipindahkan ke Polres Metro Jakarta Selatan, tetapi sampai saat ini Cendy belum mau menerima dan menandatangani berkas penahanan karena Cendy belum didampingi pengacara, dan berita acara pemeriksaan dibuat berdasarkan hanya pada keterangan Akbar.

"Berkas masih dipegang Polsek Pasar Minggu, sedangkan Cendy dijebloskan di sel Polres Jakarta Selatan di lantai 4," ujar Tiara.

"Cendy tidak mau menandatangani BAP (berita acara pemeriksaan) karena isinya dirasa tidak sesuai dengan kejadian di lapangan," tutur Tiara.

Berkaitan dengan kronologi peristiwa, Tiara mengatakan, Akbar lebih dulu memukul Cendy. Menurut Tiara, Cendy hanya menendang ke arah paha Akbar. Tendangan Cendy ke arah paha Akbar itu, lanjut Tiara, adalah gerak refleks setelah Akbar mengayunkan tangan.

Menurut keluarganya, Cendy hanya melakukan tendangan ke arah paha Akbar. Itu juga karena refleks dari pukulan yang dilakukan Akbar.

Ditolak Bikin KTP, Ayah 5 Anak Bakar Diri Hingga Tewas

Seorang pria di Maroko, Abdelkabir al-Atawi nekat membakar diri hingga tewas. Ayah 5 anak ini putus asa atas sulitnya birokrasi pemerintah demi mendapatkan dokumen menetap sejenis KTP agar bisa mendapatkan kartu bebas biaya rumah sakit untuk istrinya.

Kejadian terjadi di depan gedung pemerintah di Sebaa Ayoun, Meknes, Maroko, pada Senin 25 Juni 2013 kemarin. Pria 50 tahun itu frustasi berat karena tak bisa mendapatkan surat bebas biaya perawatan rumah sakit.

Karena tak memiliki pekerjaan, laki-laki ini berusaha keras agar dapat mendapatkan KTP demi memperoleh surat bebas biaya perawatan rumah sakit.

"Pria itu ingin membuat surat menetap, tapi ditolak. Kemudian ia menyiram tubuhnya dengan bensin. Lalu membakar diri sendiri," kata duta Badan HAM Maroko Habid Benkarroun, seperti dilaporkan media lokal NGO yang dimuat News.com.au, Rabu (26/6/2013).

Aparat kepolisian setempat menyatakan, Atawi mengajukan akta kelahiran dan kartu identitas. Tapi petugas pemerintah menolaknya, karena ia berasal dari daerah yang berbeda.

"Dia dari wilayah Ouarzazate, jadinya tak bisa mendapatkan dokumen itu," kata polisi tersebut.

Wartawan Makassar Dihajar Belasan Pemuda Mabuk

MAKASSAR, KOMPAS.com — Wartawan Tribun Timur, Ilham alias Ilo (26), dikeroyok dan dianiaya sekelompok preman di rumah kosnya, Jalan Malombassang, Kecamatan Tamalate, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (24/6/2013) sekitar pukul 23.00 Wita. Para pelaku diduga mabuk.

Menurut pemilik kos, Ramla (37), pada saat Ilo hendak masuk ke dalam kamarnya, ada belasan pemuda duduk-duduk di depan pintu kamarnya. Ilo pun meminta izin lewat. Namun, salah satu di antara pemuda itu malah mengeluarkan kata-kata kotor.

"Ia (Ilo) mengatakan tabe (permisi) mauka lewat, tetapi salah seorang dari mereka malah mengatai korban dengan kata sundala," tutur Ramla kepada polisi, Selasa (25/6/2013) dini hari. Ilo, lanjut dia, tetap berlalu meskipun ada pemuda lain yang malah mengancamnya.

Menurut Ramla, Ilo tetap melintas, masuk kamar, dan mengunci pintu kamarnya. "Setelah Ilo mengunci kamarnya, tiba-tiba pintu kosnya didobrak dua orang, yakni Udin dan Suki," ungkapnya.

Ilo mengatakan bahwa pemuda yang mengeroyoknya berjumlah sekitar 15 orang. Menurut dia, para pemuda tersebut tengah mabuk. Penganiayaan ini telah dia laporkan ke Mapolsek Tamalate. "Ada dua yang mendobrak pintu, sementara lainnya langsung mengeroyok. Saya minta polisi segera menangkap pelakunya," harap Ilo.

Terpisah, Kepala Kepolisian Sektor Kota Tamalate AKP Suaeb Abdul Majid mengatakan, penyidik sedang menyelidiki kasus ini. "Malam ini juga anggota menjemput terlapor," ungkapnya.

Rekaman CCTV Perampokan di Minimarket Semarang

Liputan6.com, Semarang : Polsek Gajah Mungkur Semarang meringkus 3 perampok yang kerap beraksi di jalanan dan minimarket. Salah satu tersangka ditembak kakinya karena berusaha kabur saat hendak ditangkap.

Dalam tayangan Liputan 6 Pagi SCTV, Selasa (25/6/2013), terlihat rekaman kamera pemantau yang menunjukkan ada 3 tersangka sedang merampok di minimarket Jalan Sriwijaya, Kota Semarang, Jawa Tengah. 2 Tesangka menodong di meja kasir dan menggasak rokok, makanan, minuman dan uang yang ada dilaci kasir.

Berkat rekaman ini pula, polisi dengan mudah meringkus ketiga tersangka. Mereka adalah Priyo Riyan dan Pandu Utomo, warga Jalan Rogojembangan Timur, Semarang Selatan.

Polisi mudah menangkap karena salah satu saksi mengenali wajah salah satu tersangka yang tempat kosnya hanya berjarak 50 meter dari minimarket yang dirampok.

Selain membekuk ketiga tersangka, polisi juga menyita makanan, minuman, uang, motor dan pisau sebagai barang bukti.

Castri Utami Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang Ditemukan di Tol TMII Mengaku Dibius dengan Jamu

Castri Utami, 30 tahun, Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang ditemukan tak sadarkan diri di KM 5, tol Taman Mini Indonesia Indah, Makasar, Jakarta Timur, Jumat (21/6/2013) pukul 22:30 WIB oleh petugas kepolisian, mengaku dirampok dam dibius dengan menggunakan jamu.

Setelah sadarkan diri di ruang perawatan RS Polri, Kramat Jati, Sabtu (22/6/2013) siang, kepada petugas Polsek Metro Makasar, Castri mengaku tak sadarkan diri setelah minum jamu.  Castri mengatakan, saat itu ia baru pulang dari Taiwan, seusai bekerja sebagai TKW.

"Pas di Bandara Soekarno-Hatta, saya kenalan dengan Ridwan dan seorang perempuan, Tami, yang berusia 30an tahun," kata Castri yang ditemani kerabatnya di ruangan tersebut.

Saat itu, lanjut Castri, ia ditawari menumpang kendaraan yang disewa Ridwan. Castri yang akan pulang ke Brebes, Jawa Tengah pun ikut dalam mobil tersebut.

"Di mobil, pas ke luar tol, mobilnya berhenti karena sopirnya ngaku masuk angin. Lalu dia beli jamu di pinggir jalan," katanya.

Lalu, Ridwan pun kembali ke mobil dan membawakan jamu kepada Castri dan penumpang lainnya. Setelah minum jamu tersebut, mobil kembali melaju. Tapi tak lama kemudian, Castri mengaku mengantuk.

"Sadar-sadar saya udah di rumah sakit, barang-barang saya yang hilang uang 3.000 Taiwan, 320 dolar Amerika, 3 ponsel, 1 iPad, perhiasan kalung, gelang, serta anting, dan 1 koper berisi pakaian dan makanan," jelasnya.

Lempari Bus Persib, Suporter Persija Kecewakan Jokowi

JAKARTA, KOMPAS.com — Gubernur DKI Joko Widodo merasa dikecewakan atas ulah suporter klub sepak bola Persija Jakarta yang melempari bus pemain Persib, Sabtu (22/6/2013) malam.

"Dulu kan sudah saya kumpulkan 'kepala suku-kepala sukunya', ada kesepakatan tidak boleh ini, tapi kenyataannya," ujar Jokowi seusai hadir di acara di Grand Indonesia, Minggu (23/6/2013).

Mantan Wali Kota Surakarta itu mengungkapkan, aksi brutal suporter Persija atau yang disebut Jakmania itu merupakan salah satu bentuk tidak menghargai tamu. Menurutnya, perbuatan itu sangat mencoreng dunia sepak bola di Indonesia. Ke depannya, ulah nakal suporter tersebut akan menjadi catatan penting Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, terutama soal perizinan pertandingan.

"Yang pertama kita kan pernah uji coba di GBK, hasilnya bagus. Nah, (peristiwa) semalam ini akan menjadi catatan jelek kita," lanjut Joko Widodo.

Sementara, terkait sanksi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada Jakmania, ia menyerahkannya kepada pihak Kepolisian Daerah Metro Jaya.

Sebelumnya diberitakan, bus pemain tim Persib Bandung dilempari batu oleh suporter Persija, Sabtu sore. Akibat tindakan itu, manajemen Tim Persib memutuskan tidak melanjutkan rencana pertandingannya dengan Persija.

Protes Kenaikan Harga BBM, Mahasiswa Blokade Jalan Dago

BANDUNG, KOMPAS.com — Komunitas mahasiswa melakukan aksi blokade jalan dengan berjalan kaki di kawasan Jalan Dago, Bandung, Jawa Barat, Jumat (21/6/2013) malam. Aksi itu diwarnai pembakaran ban. Kemacetan parah terjadi di sepanjang ruas Dago Bandung (pusat kota) akibat dari aksi ini.

Aksi mahasiswa diawali dengan edaran SMS di kalangan mahasiswa yang juga diterima wartawan. SMS berisi ajakan untuk fight (bertarung) melawan kebijakan menaikkan harga BBM. Melalui SMS tersebut, mahasiswa Bandung mengajak komunitas mahasiswa lainnya turun ke jalan, dan memilih aksi di dekat kampus ITB dengan mengenakan jas almamater.

Dimulai sekitar pukul 20.00 WIB, para mahasiswa menguasai satu dari dua jalur jalan yang ada. Polisi datang 15 menit setelah aksi dimulai. Sampai pukul 21.00, mahasiswa masih cukup leluasa menjalankan aksinya kendati kendaraan dan lalu lintas harus memutari jalan masuk gang.

Namun, informasi perihal bakal naiknya harga BBM pada pukul 22.00 WIB juga telah mengakibatkan antrean mengular di SPBU. Di Jalan RE Martadinata, misalnya, antrean mengular sejak pukul 18.00 WIB. Panjangnya antrean sampai ke perempatan sebelum SPBU.

Aparat kepolisian tampak berjaga-jaga, sebagaimana telah dijanjikan oleh Kapolda Jawa Barat Irjen Suhardi Alius. Dia mengatakan, kepolisian akan menjaga SPBU hingga kondisi keamanan dianggap kondusif terkait kenaikan harga BBM ini.

Tolak Kenaikan Harga BBM, Mahasiswa Vs Polisi Ricuh di Bandung

BANDUNG, KOMPAS.com — Aksi unjuk rasa menolak rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di Bandung, Jawa Barat, berlangsung ricuh. Bentrok terjadi antara mahasiswa dan polisi.

Kericuhan bermula saat mahasiswa berkumpul melingkar di Jalan Dago, Bandung, Jumat (21/6/2013) malam. Di ruas jalan yang kini bernama Jalan Ir H Juanda, mahasiswa dan polisi terlibat saling dorong.

Pantauan Kompas.com, mahasiswa dan polisi saling dorong. Aksi saling dorong diawali oleh polisi yang berniat menertibkan aksi yang mengganggu lalu lintas. "Biarkan kami berorasi," teriak mahasiswa menyikapi tindakan polisi.

Orasi pun berlanjut. "Tolak kenaikan BBM, turunkan SBY-Boediono, SBY tak becus memimpin negara, hidup mahasiswa," teriak salah satu orator, sementara polisi terus mendorong kerumunan mahasiswa yang membentuk lingkaran dan menghabiskan satu ruas jalan.

Terus didorong-dorong, akhirnya para mahasiswa pun membalas dorongan. Baku hantam terjadi, suasana pun riuh. Sebagian mahasiswa berlarian dan lalu lintas semakin terganggu.

Salah satu pemimpin aksi mengajak semua mahasiswa melanjutkan long march. Mereka beriringan hampir menghabiskan seluruh badan jalan dengan pengawalan ketat polisi. Sepanjang perjalanan, adu mulut dengan polisi terus berlanjut, bahkan baku hantam nyaris terjadi.

Saat sedang berjalan mengawal, salah satu pimpinan kepolisian hampir terkena pukulan salah satu mahasiswa. Seorang mahasiswa terlihat berusaha memukul polisi berpangkat AKBP itu. Pukulan terhindarkan karena beberapa polisi lain pasang badan melindung pimpinan tersebut.

Perjalanan terus berlanjut menuju Unisba. Di sana, para mahasiswa berkumpul dan berdiskusi. Pantauan Kompas.com, aksi ini berakhir setelah pembacaan doa bersama, sekitar pukul 00.00 WIB.

Rencananya, aksi akan berlanjut pada Sabtu (22/6/2013) pukul 13.00 WIB. "Ingat, kita lanjutkan lagi besok. Kita besok kumpul jam 1," kata salah satu pimpinan aksi sebelum mengakhiri aksi.

Juni: Ruben Tidak Pernah Menyuruh Membunuh

MAKASSAR, KOMPAS.com - Juni Sambo yang dituduh membunuh keluarga Andarias Pandin (38), istri Martina La'biran (33) dan anaknya Israel (8) menyatakan bahwa dia tidak pernah disuruh oleh terpidana mati, Ruben Pata Sambo.

Hal itu dikatakan Juni kepada Kompas.com, di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas 1, Makassar, Kamis (20/06/2013) siang. Juni Sambo merupakan satu dari empat orang yang memberi pernyataan pada kertas bermaterai bahwa Ruben bukan pembunuh keluarga Andraias Pandin.

Juni menegaskan, tidak ada keterlibatan Ruben Pata Sambo dalam kasus pembunuhan yang terjadi di Tana Toraja, Sulawesi Selatan, Desember 2005 lalu, tersebut.

"Ruben tidak terlibat pembunuhan keluarga Andarias, semuanya itu hanya tuduhan Petrus (Tadan). Karena kami semua dipaksa oleh polisi dan disiksa. Saya juga sudah ungkapkan di Pengadilan Negeri (PN) Makale, Tana Toraja. Bahkan saya juga mengungkapkan di dalam persidangan saat pengajuan banding di PN Makassar," tegas Juni.

Juni menuturkan, dia ditangkap polisi di jalan sepulang dari membeli bensin di pasar. Saat itu dia telah melihat Martinus, putra Ruben, sudah lebih dulu berada di markas Polres Tana Toraja. "Waktu saja masuk di kantor polisi, sudah ada Pak Martinus di dalam," katanya.

Juni juga menyatakan tidak pernah melakukan pembunuhan itu. Dia dipaksa polisi untuk mengakui perbuatan yang tidak pernah dia lakukan. "Awalnya saya tidak mengakui, tapi terpaksa saya akui karena disiksa terus siang dan malam sampai muka bonyok. Saat pemeriksaan di markas Polres Tana Toraja, saya tidak didampingi oleh penasehat hukum atau pengacara," tuturnya.

Dia juga mengaku dituduh pembunuh oleh Agustinus, padahal saat kejadian Juni berada di sawah. "Buktinya polisi rekayasa kasus, dulu saya masih 18 tahun, terus dicantumkan dalam BAP 19 tahun. Lucu sekali itu penyidik di Polres Tana Toraja, Pak Sumbung namanya, rekayasa kasus dan memaksa mengakui perbuatan yang tidak pernah saya lakukan. Baru disiksa terus selama tujuh bulan ditahan di Polres Tana Toraja," beber Juni yang divonis pidana 20 tahun penjara ini.

Juni berharap, terbongkarnya kebohongan ini ke publik, keadilan bisa dia perolehnya. Sebab, sejak perkaranya di kepolisian hingga pengadilan tidak mendapat keadilan. "Di pengadilan saja, saya dimarahi sama hakim. Katanya akui saja, sebab ada pengakuanmu di berkas perkara. Harapan saya, keadilan bisa terungkap. Sebab saya tidak pernah membunuh," tandasnya.

Polisi Amankan 85 Paket Ganja dari Sepasang Kekasih di Bekasi

Liputan6.com, Jakarta : Sindikat jaringan Narkotika jenis Ganja di Jakarta kembali digerebek satuan Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri. Dari tangkapan di 3 lokasi berbeda, itu polisi mengamankan 112 kg paket ganja berbungkus karton cokelat.

Penangkapan berawal dari tersangka Rayendra Pratama (30) pada Senin 10 Juni pada pukul 17.30 WIB, di Jalan Gajah Mada nomor 87A, Krukut, Tamansari, Jakarta Barat. Dari tangan tersangka didapatkan 0,3 gram sabu dalam plastik klip dan sebuah cangklong.

Dari peristiwa itu polisi mengembangkan dan mendapatkan 2 pelaku lainnya yang merupakan sepasang kekasih, yakni Irmayanthi Muis (28) dan Indra Fahmi (32) di Kontrakan Amanda, Pondok Gede, Bekasi.

"Tersangka lainnya ada 2, seorang laki-laki dan seorang perempuan. Keduanya tidak punya hubungan resmi, hanya tinggal bersama," ungkap Direktur IV Tipid Narkotika Bareskrim Mabes Polri Brigjen Pol Arman Depari di Jakarta, Rabu (19/6/2013).

Dari tangan tersangka Fahmi, polisi mendapati 112 kg ganja yang dibagi menjadi 85 paket. "Paket tersebut disebut bata. Satu bata itu sekitar 1 kilogram," sambung Arman.

Arman menjelaskan, peredaran narkoba ini ditangani dalam operasi cipta kondisi jelang bulan Ramadan. "Saya kira (ganja) ini tidak ada harganya, ini hanya racun tanpa nilai ekonomis. Membuat generasi kita jadi ketergantungan narkoba. Dan itu bisa pengaruhi saraf berpikir masyarakat," ujarnya.

Ketiga tersangka dikenai tuduhan Pasal 114 ayat 2 subsider Pasal 112 ayat 2 UU Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika dengan hukuman penjara sedikitnya 6 tahun penjara dan maksimal hukuman mati.

Polisi juga tengah mengejar Roni dan Babang yang diduga sebagai pimpinan sindikat tersebut.

Hacker Situs Presiden SBY Divonis 6 Bulan Penjara

Liputan6.com, Jember : Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jember, Jawa Timur, menjatuhkan hukuman 6 bulan penjara kepada peretas laman www.presidensby.info yang kini berganti nama www.presidenri.go.id, Wildan Yani Ashari (21) alias Yayan. Hakim menyatakan Wildan terbukti melakukan peretasan tersebut.

"Terbukti secara sah dan meyakinkan mengubah tampilan laman www.presidensby.info dengan tampilan Jemberhacker Team, sehingga situs tidak bisa diakses selama 2 jam," kata Ketua Majelis Hakim Syahrul Machmud saat membacakan putusan di Jember, Rabu (19/6/2013).

Namun hukuman 6 bulan untuk Wildan itu akan dipotong masa tahanan. Selain penjara, Majelis Hakim juga mewajibkan Wildan membayar denda Rp 250 ribu atau subsider 15 hari kurungan.

Hakim menilai Wildan alias Yayan alias MJL 007 terbukti secara sah dan meyakinkan meretas laman www.presidensby.info. Sebelumnya Wildan juga meretas server techscape.co.id dan jatireja.net.

"Terdakwa memang bersalah sesuai dengan dakwaan jaksa pasal 30 ayat 1 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)," tutur Syahrul.

Vonis majelis hakim tersebut lebih ringan dibandingkan tuntutan jaksa penuntut umum dari Kejaksaan Negeri Jember yang menuntut Wildan 10 bulan penjara dan denda Rp250 ribu atau subsider sebulan kurungan.

Dalam pertimbangannya, majelis hakim menilai perbuatan Wildan salah karena meresahkan dan merugikan orang lain. Namun Majelis Hakim juga mempertimbangkan hal-hal yang meringankan Wildan. Hakim menilai Wildan masih muda, masih bisa dibina, dan juga ingin meneruskan pendidikannya. Wildan menerima putusan ini.

Penyidik Cyber Crime Mabes Polri Inspektur Satu Grawas Sugiharto juga sudah memberikan kesaksian akan menggunakan keahlian Wildan untuk kepentingan negara. Hacker asal Jember itu rencananya akan dididik dan direkrut oleh Mabes Polri.

Polisi Magelang Cokok Dua Pemakai Narkoba

MAGELANG, KOMPAS.com - Jajaran Satuan Narkoba Polres Magelang berhasil mencokok dua pemakai narkotika jenis sabu. Kedua pemakai itu adalah Joko Pitoyo (44), warga Rejowinangun Utara, Kota Magelang, dan Ferry Fajar Irawan (35), warga Kelurahan Magelang, Kota Magelang.

"Keduanya ditangkap saat sedang mengonsumsi sabu di tempat yang berbeda pada pekan lalu," terang Kapolres Magelang AKBP Murbani Budi Pitono, Selasa (18/6/2013). Dari tangan tersangka, polisi mengamankan paket narkoba jenis sabu seberat 1,98 gram.

Kapolres menjelaskan, keduanya mendapatkan paket sabu dari seorang perantara atau kurir bernama Fajar Agus Prihantoro (35), warga Kelurahan Wates, Kota Magelang. Fajar sendiri merupakan residivis yang sebelumnya juga pernah ditangkap atas kasus yang sama. Dia bahkan masih dalam masa cuti tahanan ketika ditangkap.

Pasca-penangkapan Fajar, polisi lantas melakukan pengembangan dan berhasil menangkap bandar atau penyalur bernama Sapto Mundakir (25), warga Kelurahan Tidar, Kota Magelang.

Berdasarkan keterangan Sapto, kata Kapolres, narkoba yang didapatnya dipesan melalui telepon seluler dari Farid yang diketahui merupakan tahanan Lapas khusus Narkoba di Pakem, Sleman.

"Hingga saat ini, Farid masih dalam daftar pencarian orang (DPO) kami," terang Kapolres.

Atas perbuatan mereka, keempat tersangka terancam Pasal 114 ayat (1) UU RI Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkoba dengan hukuman penjara minimal 5 tahun dan denda Rp 1 miliar serta pasal 112 ayat (1) UU RI No.35 tahun 2009 tentang narkoba dengan hukuman penjara minimal 4 tahun dan denda Rp 800 juta.

Niat "Nyabu", Kena Tangkap Saat Razia Lantas

PEMATANGSIANTAR, KOMPAS.com - Agus (23), warga Nagori Serapuh, Kecamatan Gunung Malela, Kabupaten Simalungun harus mengurungkan niatnya mengonsumsi sabu yang sudah dia beli. Pasalnya, saat mengendara sepeda motor Yamaha Zupiter Z tanpa plat di jalan lintas umum Pematangsiantar-Perdagangan, Agus malah ditangkap Polisi Lalu Lintas Kepolisian Resor Simalungun, Selasa (18/6/2013).

Saat dirazia, polisi mencurigai Agus melemparkan satu bungkusan ke pinggir jalan. Kepada polisi, Agus mengaku dia cuma melemparkan batu. Polisi yang tidak percaya kemudian membawa Agus untuk memungut bungkusan yang dia buang. Saat bungkusan diambil ternyata benda yang dibuang adalah satu paket kecil sabu-sabu.

"Setelah mendapati bungkusan plastik klip berisi kristal putih, pelaku tak bisa lagi mengelak hingga mengakui bungkusan itu berisi narkoba jenis sabu-sabu," kata Brigadir Masa Gultom, polisi lalu lintas yang merazia Agus.

Agus kemudian diamankan bersama bungkusan sabu dan sepeda motor tanpa plat polisi miliknya. "Aku gugup, makanya kubuang sabu-sabu itu. Kalau motor ini masih lengkap surat-suratnya, Bang," kata Agus di ruangan Narkoba Kepolisian Resor Simalungun di Aspol Jalan Sangnawaluh, Pematangsiantar.

Menurut Agus, niatnya hendak menggunakan sabu-sabu bersama dua temannya yang sudah menunggu di suatu tempat. Dia membeli sabu dari seseorang yang identitasnya sudah dikantongi polisi, sebesar Rp 150 ribu.

Kepala Satuan Narkoba Kepolisian Resor Simalungun AKP Masku Sembiring mengatakan, pihaknya masih mengembangkan penangkapan ini. "Saat ini masih diperiksa intensif dengan harapan ada hasil dari pemeriksaan dengan mengorek keterangan dari pelaku," kata Agus.

Pemilihan Baju Hamil Modern



Jika dahulu para wanita yang sedang mengandung tidak mempunyai banyak pilihan untuk baju atau fashion yang akan dikenakan, tetapi tidak untuk saat ini karena anda sudah bisa mendapatkan berbagai jenis dan model baju hamil modern yang bisa anda kenakan untuk menunjang aktifitas sehari-hari.

Selain bentuk dan desain yang unik dan trendy warna-warna yang disajikan pun cukup menarik dan beragam, bahkan begitu banyak pilihan corak serta gambar yang bisa anda pilih sesuai dengan selera. Jika anda termasuk ibu hamil yang ingin lebih simple dalam mengenakan pakaian, maka anda bisa memilih jenis desain yang lebih simple namun tetep nyaman dan trendy untuk dikenakan. Berbeda dengan ibu hamil yang lebih menyukai desain dengan detail yang lebih beragam, maka bisa memilih desain atau jenis baju hamil modern yang lebih ramai baik corak atau padu padan warna yang menjadi pilihan.

Selain itu anda juga bisa mengkombinasikan jenis baju hamil yang anda kenakan dengan jenis pakian yang lain, seperti jika anda mengenakan baju hamil modern dengan model babydoll maka untuk bawahannya anda bisa memilih laging atau celana ketat bahkan jeans khusus untuk wanita hamil.

Sebaiknya tidak hanya baju hamil modern yang anda pilih untuk melengkapi penampilan anda, perhatikan juga assesories atau pelengkap penampilan seperti sandal atau sepatu, tas, bahkan make up yang akan anda gunakan. Mengapa demikian ? karena wanita hamil pun harus bisa menjaga penampilan agar tetap terlihat cantik, sehat dan segar.

Banyak hal yang bisa anda ketahui tentang bagaimana memilih baju hamil modern yang akan anda kenakan, yaitu dengan mencari berbagai informasi mengenai hal tersebut dari beberapa sumber yang dipercaya seperti majalah, TV dan lain sebagainya.

Dengan mencari berbagai informasi tentang baju hamil yang anda butuhkan tentunya akan sangat membantu penampilan agar terlihat lebih trendy dan modern. Selain hal tersebut sebaiknya anda juga tetap menjaga tubuh dengan melakukan perawatan yang teratur agar anda tetap terlihat fresh dan sedap dipandang.

Warga Rusak dan Jarah Pabrik Freeport

TIMIKA, KOMPAS.com - Puluhan orang dilaporkan merusak sejumlah kendaraan dan bangunan serta mencuri konsentrat di pabrik pengolahan bijih (Mill) di Mil 74, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika pada Minggu (16/6/2013) malam.

Informasi yang dihimpun Kompas.com, kejadian berlangsung sekitar pukul 19.00 WIT, saat sekitar 75 orang warga sekitar tambang berkumpul di Mil 74, dekat pabrik pengolahan bijih (Mill) langsung melempari mobil yang melintas ataupun yang diparkir disekitar mereka.

Setelah melempari kendaraan, puluhan orang yang diduga sudah merencanakan aksinya ini langsung merusak Pos Securicor dan membobol tangki konsentrat 300, area sag mile C4, area sag mil 1 C4 dan area boll mil 3 C1.

Aksi ini berakhir 40 menit kemudian setelah anggota Satgas Amole dari TNI-Polri tiba di lokasi dan langsung membubarkan puluhan orang tersebut yang lari meninggalkan lokasi.

Akibat kejadian ini, sedikitnya 13 unit mobil perusahaan dirusak bersama Pos Securicor yang menjaga pabrik pengolahan Bijih, serta membawa bubuk konsentrat yang mengandung mineral emas, dan tembaga.

Sementara itu, Senin (17/6/2013) malam dikabarkan kembali terjadi pembakaran terhadap sejumlah rumah di Kota Tembagapura, Mil 68, Distrik Tembagapura. Belum diketahui keterkaitan peristiwa perusakan dan pencurian konsentrat yang terjadi pada Minggu malam dengan peristiwa pembakaran rumah di Tembagapura pada Senin (17/6/2013) malam yang dikabarkan seorang warga tertembak.

Hingga berita ini diturunkan pihak PT. Freeport Indonesia ataupun aparat Kepolisian yang coba dikonfirmasi belum memberikan keterangan terkait peristiwa ini. Pascaruntuhnya terowongan Big Gossan, dan tertimbunnya seorang pekerja tambang bawah tanah di terowongan DOZ bulan Mei lalu, hingga kini aktivitas pertambangan anak perusahaan Freeport McMoran Gold & Copper Inc. yang berpusat di New Orleans, Amerika Serikat ini belum dimulai.

Polisi Temukan Jeriken di Kantor DPD Golkar Subang

SUBANG, KOMPAS.com - Petugas Kepolisian Resor (Polres) Kabupaten Subang menemukan jeriken dan botol kosong berbau bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin saat melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di Kantor DPD Partai Golkar Kabupaten Subang, Jalan Arif Rakhman Hakim, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Senin, (17/6/2013), malam ini.

Polisi menduga pelaku pembakaran menyemburkan dan menyebarkan bensin ke ruang rapat DPD Golkar dengan tujuan mempercepat merambatnya api. "Kami lakukan olah TKP, kami menemukan jeriken dan botol berisi berbau bensin di ruang rapat kantor DPD Golkar," kata Kabis Humas Polda Jabar Kombes Pol Martinus Sitompul, saat dihubungi Kompas.com, Senin malam.

Penemuan barang bukti tersebut pun dibenarkan oleh Ketua Harian DPD Partai Golkar Subang Wawan Darmawan. "Iya betul, tadi polisi menemukan barang bukti berupa jerigen dan botol berbau bensin," kata Wawan saat dihubungi terpisah, Senin.

Diberitakan sebelumnya, kantor DPD Partai Golkar Subang di Jalan Arif Rakhman Hakim dibakar orang tak dikenal, Senin (17/6/2013). Api sempat membakar ruang rapat selama lima menit.

Hingga kini belum diketahui motif pembakaran tersebut. Namun ada dugaan, pembakaran itu dilakukan oleh kader yang tidak puas dengan keputusan Ketua DPD Golkar Kabupaten Rumanda yang menetapkan Wakil Ketua DPD Golkar Provinsi Jawa Barat Imas Aryumningsih sebagai calon wakil Bupati Kabupaten Subang periode 2013 - 2018 yang mendampingi calon bupati Kabupaten Subang Ojang Sohandi yang diusung Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan.

Terjatuh Saat Survei untuk Kemah Pramuka, Wartawan Bali Meninggal

SANGEH, KOMPAS.com — Wartawan Bali Travel Newspaper, Anak Agung Gusti Ngurah Krisna Yana (26), meninggal akibat terjatuh ke jurang di kawasan wisata alam Tanah Wuk, Sangeh, Kabupaten Badung, Minggu (16/6/2013). Dia tewas saat melakukan survei untuk perkemahan pelajar SMP.

"Sampai di RSUP Sanglah sudah dalam kondisi meninggal dunia," kata Kepala Bagian SMF Kedokteran Forensik RSUP Sanglah, Ida Bagus Putu Alit, di Denpasar, Minggu malam. Menurut dia, pada tubuh jenazah tidak ditemukan unsur-unsur yang mencurigakan yang menjadi penyebab kematian wartawan ini. Hanya terdapat luka lecet di bagian anggota geraknya.

"Berdasarkan hasil komunikasi dengan penyidik, Krisna ditemukan di tebing di kawasan Tanah Wuk tersangkut di pohon enau," imbuh Alit. Mengutip keterangan penyidik, dia mengatakan, Krisna masih sempat menelepon temannya untuk mengabarkan ia terjatuh.

Rudianto, salah seorang teman korban, mengatakan, Krisna berada di Tanah Wuk untuk survei lapangan persiapan kegiatan perkemahan siswa-siswi SMPN 3 Denpasar. Selain menjadi wartawan, Krisna menjadi pembina Pramuka di SMPN 3 Denpasar.

"Sekitar pukul 14.00 Wita, Krisna dan beberapa temannya melakukan survei lapangan untuk kegiatan tanda jejak Pramuka. Namun, saat itu Krisna memilih menelusuri jalan yang berbeda dengan rekannya. Ia sendirian menyusuri jalan setapak yang bukan jalur umum," tutur Rudianto. Ia menambahkan, karena beberapa lama Krisna tidak muncul, rekan-rekannya kemudian berusaha mencari dan ditemukan dalam kondisi sudah terjatuh.

Sementara Ariek, rekan Krisna satu tempat kerja di Bali Travel Newspaper dan dalam kegiatan Pramuka, mengatakan, beberapa hari ini kondisi Krisna terlihat kurang fit. "Terakhir bertemu, Krisna bilang kalau sedang meriang, demam, dan sampai muntah-muntah," katanya.

Jenazah Krisna tiba di RSUP Sanglah sekitar pukul 20.00 Wita. Ibunda Krisna dan adiknya bahkan sampai menangis histeris mendapati kenyataan putra dan kakak mereka sudah tak bernyawa. "Saya sebelumnya tidak mempunyai firasat apa-apa," kata Wisnu Wardana, ayah Krisna.

Seusai divisum dan dimandikan, jenazah diberangkatkan menuju kampung halaman di Jero Kanginan, Banjar Pengembungan, Desa Tegaljadi, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan. Kawasan di sekitar ruang jenazah RSUP Sanglah pun terlihat disesaki keluarga Krisna, para jurnalis, dan rekan-rekannya.

Selamatkan Sepeda, Bocah Tewas Terbakar

MAGELANG, KOMPAS.com — Seorang bocah 11 tahun ditemukan tewas setelah rumahnya di Kampung Boton I, Kelurahan Magelang, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang, Jawa Tengah, terbakar. Jenazah bocah bernama Taufik Hidayat itu ditemukan di bawah rangka besi sepeda mininya, di antara puing-puing sisa kebakaran.

Menurut para tetangga, sebenarnya Taufik sudah sempat keluar dari rumah ketika api sudah membesar. Namun dia tiba-tiba masuk lagi ke rumah. Warga sempat mencegahnya karena saat itu kobaran api sudah melalap rumah yang sebagian besar terbuat dari kayu itu. Namun, Taufik tidak menggubrisnya.

"Taufik sempat keluar, lalu masuk lagi. Warga sudah mencegahnya, tapi Taufik tetap masuk. Katanya mau menyiram sepeda," kata seorang tetangga korban yang ditemui Kompas.com, Jumat (14/6/2013).

Di rumah itu Taufik tinggal bersama ibunya, Eni (45); adik perempuannya, Yeni (9); dan neneknya, Jumali (72). Adapun ayahnya diketahui tengah bekerja di Jakarta. Saat itu Eni, Yeni, dan Jumali sudah keluar dari rumah.

Menurut Ketua RT Heriyanto Sutomo, kebakaran itu terjadi sekitar pukul 02.00 WIB. Namun sebelum itu, sekitar pukul 01.00, aliran listrik sempat berhenti.

Lantas tiba-tiba, kata Sutomo, warga mendengar ledakan dan teriakan minta tolong dari arah rumah korban. "Waktu itu saya lihat api sudah membesar. Warga kemudian berdatangan ke lokasi dan saling membantu berusaha memadamkan api dengan alat seadanya," ujar Sutomo.

Beberapa saat kemudian, datang satu mobil pemadam kebakaran ke lokasi. Api lantas berhasil dipadamkan sekitar pukul 03.00 WIB. Setelah api padam, jenazah Taufik ditemukan dengan kondisi tubuh yang telah hangus terbakar.

Sutomo memperkirakan, penyebab kebakaran itu akibat korsleting listrik. Di dalam rumah itu juga diketahui terdapat barang-barang elektronik dan satu sepeda motor. Penyebab pasti kebakaran tersebut saat ini masih diselidiki oleh pihak Polres Magelang Kota.

Lokasi kejadian juga masih dipasangi garis polisi. Hingga saat ini masih ada beberapa petugas pemadam kebakaran yang sedang membersihkan sisa-sisa kebakaran.

Menurut para tetangga, Taufik kerap membantu ibunya membeli arang menggunakan sepeda kesayangannya. Arang-arang itu digunakan ibunya untuk memasak tiap hari karena ibunya diketahui takut memasak menggunakan kompor gas.

"Taufik itu anaknya baik dan penurut. Ke mana-mana memang suka naik sepeda. Ke sekolah, bermain dengan teman-temannya, dia juga suka disuruh ibunya beli arang," kata tetangga itu.

Taufik juga sering diminta mengumandangkan azan di masjid setempat karena suaranya merdu. Kini jenazah bocah itu sudah dimakamkan di pemakaman sekitar.

Banyak Peralatan Perang Ditemukan di Poso

POSO, KOMPAS.com - Poso, Sulawesi Tengah, terus menyimpan bara yang tak berkesudahan. Daerah itu seolah menjadi sarang kelompok radikal. Terbukti, dari penyisiran polisi di Gunung Koroncopu, Kecamatan Poso Pesisir Utara, ditemukan sejumlah peralatan perang, seperti ratusan amunisi dan puluhan bom rakitan dalam berbagai ukuran dan jenis.

Ada pula senjata api organik dan rakitan, alat pengintai, penunjuk arah, alat komunikasi, dan puluhan pakaian loreng yang mirip pakaian dinas TNI. ”Barang-barang ini kami temukan dalam penyisiran selama beberapa pekan di Gunung Koroncopu. Ini milik kelompok garis keras yang melakukan pelatihan dan bersembunyi di Gunung Koroncopu. Barang ini jadi bukti keberadaan dan aktivitas kelompok ini. Barang-barang seperti ini lazim digunakan dalam perang atau latihan perang,” kata Kepala Kepolisian Resor Poso Ajun Komisaris Besar Susnadi, Rabu (12/6/2013), di Poso.

Susnadi didampingi Wakil Kepala Polres Poso Komisaris Boegik S dan Dandim 1407 Poso Letkol Inf Bobby Prabowo. Hadir pula Komandan Batalyon Infanteri 714 Sintuwu Maroso, Letkol Inf Trijoko, dan Kepala Kejari Poso Nurtaman.

Kelompok Radikal di Poso Kuasai Banyak Senjata

POSO, KOMPAS.com - Puluhan senjata dan ratusan amunisi masih dikuasai kelompok garis keras pimpinan Santoso yang bersembunyi di sekitar Gunung Koroncopu. Persenjataan ini antara lain didatangkan dari Moro, Filipina, yang merupakan senjata sisa konflik atau yang direbut dari aparat. Senjata sisa konflik juga diduga masih disimpan warga.

Sebelumnya, polisi membeberkan barang bukti berupa senjata api rakitan dan organik, amunisi, bom rakitan berbagai jenis, dan peralatan lain yang lazim digunakan dalam perang atau latihan perang, yang diduga milik kelompok Santoso. Senjata-senjata tersebut ditemukan saat penyisiran di Gunung Koroncopu.

”Untuk senjata organik laras panjang dan laras pendek, belasan masih ada pada mereka. Senjata rakitan, bisa puluhan. Amunisi masih banyak. Yang mereka rakit bukan hanya senjata api dan bom, melainkan amunisi pun sudah bisa mereka daur ulang. Selongsong mereka isi bubuk dan berbagai campuran, lalu proyektilnya diganti dengan ujung paku. Hasil rakitan mereka semakin hari semakin bagus dan rapi,” kata Kepala Kepolisian Resor Poso Ajun Komisaris Besar Susnadi, di Poso, Kamis (13/6/2013).

Berdasarkan data kepolisian, sebagian dari senjata dan amunisi itu didatangkan dari Moro. Pengiriman lewat laut melalui Sulawesi Utara. Sebagian dikirim ke Luwuk, Kabupaten Banggai, melalui laut dan selanjutnya jalur darat ke Palu. Selebihnya melalui jalur laut langsung ke Poso melalui Teluk Tomini.

Bom bunuh diri di Markas Polres Poso, misalnya, ditempatkan dalam wadah plastik. Ledakan bom pada Oktober 2012 di Kecamatan Poso Kota, bom menggunakan telepon genggam dengan pengatur waktu. Aparat juga pernah menemukan bom ranjau seberat 10 kilogram di Tamanjeka yang disimpan dalam wadah makanan dari plastik.

Kelompok garis keras pimpinan Santoso cukup terorganisasi. Mereka memiliki orang-orang yang mempunyai kemampuan mulai dari merakit bom, merakit senjata, membuat detonator, mendaur ulang amunisi, hingga merangkai bom.

Peneliti Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian Universitas Gadjah Mada, Muhammad Najib Azca, Kamis, di Yogyakarta, mengatakan, penindakan secara represif terhadap kelompok radikal dan jaringan terorisme relatif signifikan, tetapi tidak sepenuhnya mampu mematikan. Karena itu, langkah mendesak yang harus dilakukan pemerintah adalah mendapatkan dukungan publik terhadap pemberantasan terorisme.

”Reproduksi gerakan radikal dan terorisme perlu diisolasi dengan dukungan publik yang besar. Pemerintah harus mampu memobilisasi dukungan publik dengan menggandeng kelompok-kelompok masyarakat,” ujarnya.

Dua Bom Ditemukan di Sawah, Satu Sudah Meledak

BARRU, KOMPAS.com - Warga Dusun Ballewe, Kelurahan Binuang, Kecamatan Ballusu, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, menemukan dua bom pipa di sawah di daerah mereka, Kamis (13/06/2013) sore tadi.

Dua bom ini awalnya ditemukan oleh Andi Alam, setelah itu dia melapor ke Polres Barru. "Satu bom sempat meletus siang tadi. Tapi saya kira itu hanya letusan ban mobil karena kebetulan hujan lebat," jelas Andi.

Unit Jibom, Detasemen Gegana Sat Brimob Polda Sulawesi Selatan berhasil menjinakkan satu bom dengan cara meledakkannya di tempat yang jauh dari pemukiman penduduk pada Kamis malam sekira pukul 20.00 Wita.

Kedua bom yang sudah jinak itu kemudian dibawa ke Mapolres Barru. Hingga berita ini diturunkan belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian terkait penemuan dua bom ini.

Polda Bali Ringkus Tiga Penadah Mobil Curian

DENPASAR, KOMPAS.com — Jajaran Direktorat Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Bali membekuk tiga orang tersangka penadah mobil curian masing-masing MMS (43), MS (39), dan WD (41). Dari tangan tersangka, polisi mengamankan enam unit mobil yang diduga hasil curian karena tidak dilengkapi dengan surat-surat. Dua otak komplotan ini, YS dan HS, yang sudah menjadi daftar pencarian orang (DPO) sejak enam bulan lalu, sampai saat ini belum tertangkap.

Terungkapnya komplotan ini berawal dari laporan salah seorang korban berinisial TRK yang mobil Honda CRV-nya dicuri oleh YS. Modus YS adalah berpura-pura membeli mobil Ford Ranger milik korban.

Tersangka YS yang ditemani oleh HS melakukan pertemuan dengan korban yang datang menggunakan mobil Honda CRV di sebuah apartemen untuk membahas jual beli tersebut. Saat korban sedang berada di kamar mandi, YS dan HS kemudian mengambil kunci mobil Honda CRV korban dan membawanya kabur.

"Bertemu dengan korban di Denpasar untuk transaksi mobil Ford Ranger, saat itu korban membawa mobil CRV. Saat korban sedang di toilet, kunci mobilnya dilarikan," kata Kanit Tiga Subdit Tiga Ditkrimum Polda Bali Kompol Putu Gunawan saat konferensi pers di Mapolda Bali, Kamis (13/6/2013).

Setelah melakukan penelusuran, tersangka YS dan HS pernah menginap di sebuah hotel di Buleleng atas nama tersangka MMS. Polisi kemudian berhasil menemukan MMS dan memeriksanya.

Dari pengakuan MMS, dia ditawari oleh YS untuk membeli mobil CRV hasil curian sebesar Rp 250 juta. Namun, karena tidak punya uang sebanyak itu, MMS memilih terima gadai mobil tersebut Rp 130 juta dengan patungan bersama MS dan WD.

Polisi kemudian mengamankan ketiga tersangka dan menyita enam unit mobil. Dari hasil pemeriksaan, komplotan ini sering beraksi di tiga wilayah, yakni Denpasar, Singaraja, dan Klungkung.

Diduga Sakit, Jasad Kakek Suwitno Tergeletak di Teras

Liputan6.com, Garut - Jawa Barat : Warga Kampung Bentar Hilir, Kelurahan Sukamentri, Kecamatan Garut Kota, dikejutkan dengan penemuan mayat lelaki renta Suwitno yang tergeletak di teras rumah. Di sekitar jenazah ditemukan bercak darah.

Dalam tayangan Liputan 6 SCTV, Kamis (13/6/2013) Jenazah Suwitno, warga Kampung Prupuk Selatan, Kecamatan Margasari, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, ditemukan tergeletak di depan rumahmya. Suwitno tercatat mengontrak di kampung itu selama 2 tahun, dan sehari hari berprofesi sebagai pedagang es keliling.

Belum diketahui penyebab kematian korban. Namun diduga korban meninggal akibat penyakit yang dideritanya.

Polisi mengevakuasi jenazah Suwitno ke rumah sakit terdekat. Rencananya, jenazah korban akan dipulangkan ke kampung halaman di Tegal, Jawa Tengah.

Kompolnas Minta Polisi Hati-hati Sikapi Kasus Ruben

MAKASSAR, KOMPAS.com — Salah satu komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Edi Saputra Hasibuan meminta polisi berhati-hati dalam menyikapi kasus terpidana mati, Ruben Pata Sambo, dan anaknya, Martinus.

"Kompolnas meminta polisi hati-hati menyikapi kasus ini dan melakukan pengecekan kebenarannya, apalagi ini kasus sudah memiliki kekuatan hukum. Yang bagus adalah apabila keluarga merasa mereka bukan pelakunya, sebaiknya ajukan peninjauan kembali (PK) ke Mahkamah Agung (MA)," singkat Edi kepada Kompas.com via Blackberry Messenger, Rabu (12/6/2013).

Sampai sejauh ini, lanjut Edi, pihaknya belum pernah menerima laporan dari keluarga Ruben Pata Sambo yang merasa korban salah tangkap oleh Polres Tana Toraja.

"Sejauh ini kami belum pernah menerima keluhan dari keluarga korban," tambahnya.

Ruben Pata Sambo dan anaknya, Martinus, diduga korban salah tangkap dan divonis mati oleh pengadilan. Kini Ruben ditahan di Lapas Klas 1 Malang, Jawa Timur.

Ayah-anak ini dituduh melakukan pembunuhan berencana terhadap empat anggota keluarga Andrias di Tana Toraja pada Desember 2005 lalu. Ruben dan Martinus ditangkap anggota Polres Tana Toraja dan dipaksa mengakui perbuatan yang tidak dilakukannya.

Bahkan, keduanya kerap mendapat penyiksaan dari aparat kepolisian dan ditelanjangi di Markas Polres Tana Toraja. Selama ditahan di Lapas Klas 1 Malang, Ruben menjadi pemuka agama dan disegani di tempat hukumannya.

Ditangkap, Bapak Perkosa Dua Anak Kandung dan Satu Anak Tiri

PONTIANAK, KOMPAS.com — Kepolisian Resor Kota Pontianak, Kalimantan Barat, menangkap tersangka RM (52), pelaku pemerkosaan terhadap dua anak kandungnya dan seorang anak tirinya, Selasa (11/6/2013) malam. RM ditangkap oleh anggota Polresta di rumahnya, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Pontianak Komisaris Puji Prayitno menjelaskan, tersangka RM ditangkap seusai pulang kerja. "Sekarang sedang dimintai keterangan oleh penyidik dan sesudahnya langsung ditahan di Polresta Pontianak," kata Puji.

RM dilaporkan oleh anak kandungnya LN (17) yang diperkosa sejak berumur sembilan tahun. LN melaporkan kasus itu ditemani ibunya, SM.

Selain LN, diperkosa juga adik kandungnya RN (12), serta kakak tiri mereka, RP (20). Menurut penuturan LN, RM adalah pribadi yang keras dan suka memaksakan kehendak. "Sepertinya dia punya ilmu hitam karena bisa memperdaya saya selama bertahun-tahun," kata LN.

Suami Bakar Istri Karena Sakit Hati Dihina di Rumah Mertua

MALANG, KOMPAS.com - Di balik kenekatan Ajar Suciantoko (47) membakar istrinya, Rosida Anggraini (38)  dengan bensin pada Senin (11/6/2013) petang, kecemburuan dan sakit hati yang terakumulasi disebut sebagai dalih. Ajar pun berkeras perbuatannya dilakukan spontan.

Aksi nekatnya itu, kata Ajar, dipicu dari omongan istrinya. “Semua yang saya lakukan itu spontan. Saya tidak pernah merencanakan. Itu terjadi karena saya telah dihina istri saya saat bertemu di rumah mertua,” tutur Ajar di Polres Malang, Selasa (11/6/2013) malam, seperti dikutip dari Surya Online. Rosida sudah satu bulan meninggalkan rumah, dan Ajar segera mendatangi Rosida di rumah mertuanya begitu mendapat informasi keberadaan istrinya itu.

Menurut Ajar, istrinya pergi dari rumah karena kecantol dengan teman semasa SD-nya. Mereka telah menikah sejak 1994 dan telah mendapatkan tiga anak.

Rosida tewas dengan luka bakar lebih dari 60 persen, Selasa (11/6/2013) pagi di RSSA Malang, setelah disiram bensin dan dibakar Ajar. Ibu Rosida, Endang (50) yang berusaha menolong anaknya juga ikut terbakar meskipun selamat. Demikian juga Arum (12), cucu Endang, yang tinggal di rumah tersebut mengalami luka bakar karena sebab yang sama. Endang dan Arum masih dirawat di RSUD Kanjuruhan Kepanjen.

Lokasi kejadian adalah rumah Endang yang berlokasi di Jalan Kauman Desa Kebonagung. Rumah Ajar juga berada di kawasan yang sama, hanya berbeda RT.

Benda yang Diduga Bom Ditemukan Polisi di Poso

Sebelum bentrok, polisi menemukan 2 benda yang diduga bom rakitan di Poso Pesisir, Sulawesi Tengah. Bom rakitan ditemukan dalam suatu operasi di tempat yang diduga sebagai tempat persembunyian kelompok radikal.

Liputan 6 SCTV edisi ini menayangkan sejumlah polisi bersenjata lengkap menggelar operasi di Desa Tambarana, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Senin (10/6/2013). Menurut polisi, desa ini diduga sebagai tempat persembunyian kelompok radikal yang berada di balik serangkaian aksi teror bom bunuh diri Poso.

Dalam operasi ini polisi menemukan benda yang diduga bom rakitan, dengan casing pipa besi yang dikemas dalam kardus. Benda ini disimpan di kandang ayam bagian belakang rumah warga.

Meski menduga bom, pemilik rumah tidak mengetahui ada benda diduga bom di kandang ayam di belakang rumahnya. Polisi langsung mengamankan benda yang diduga bom itu untuk diidentifikasi tim Gegana Polda Sulawesi Tengah.

Pencuri Celana Kabur, 2 Penyidik Polsek Matraman Diperiksa Provost

Dua penyidik Polsek Matraman, Jakarta Timur, akan diperiksa terkait kaburnya 2 tersangka pencurian sandal dan celana. Polisi masih memburu 2 tersangka yang kabur saat pemeriksaan.

"Akan kita periksa dua penyidik terkait kaburnya 2 tersangka saat pemeriksaan," kata Kasubag Humas Polres Jaktim, Kompol Didik Haryadi saat dihubungi, Selasa (11/6/2013).

Pemeriksaan 2 polisi penyidik akan dilakukan Provost Polres Jaktim. Kedua polisi bakal ditanya kronologi kaburnya 2 pencuri saat diperiksa.

"Hal itu untuk mengetahui apakah ada kelalaian dalam menjalankan tugas atau tidak sehingga seorang penjahat yang sudah ditangani polisi kabur. Ini berarti termasuk kesalahan fatal," imbuh Didik.

Bila terbukti melakukan kesalahan, maka kedua penyidik dapat dikenakan sanksi. Sanksi diberikan tergantung tingkat kesalahan di antaranya penundaan kenaikan pangkat.

"Nanti kami tunggu hasil dari pemeriksaannya seperti apa. Jika terbukti petugas lalai itu akan terkena sanksi. Misalnya tidak mendapat kenaikan pangkat dalam kurun waktu tertentu. Makanya nanti dilihat kesalahannya," tandasnya.

Polisi masih memburu kedua tersangka pencurian di Kelurahan Pisangan Kecamatan Matraman Jakarata Timur. Pihaknya telah menaikan status kedua pencuri tersebut menjadi buronan.

Kusen Aluminium



Kusen aluminium memang sangat cocok jika dipasang pada rumah minimalis. Karena bentuknya yang simple dan modern sehingga sangat serasi dengan rumah yang menggunakan konsep minimalis. Kini sudah banyak perumahan yang menggunakan kusen alumunium karena memiliki banyak kelebihan dari pada penggunaan kusen kayu.

Karena terbuat dari bahan alumunium, tentu saja kusen ini anti rayap, anti karat, anti air, kuat ,ringan, dan tahan cuaca. Tentu saja poin tersebut lebih baik dari pada kusen kayu pada umumnya. Ini yang menjadikan kusen alumunium sebagao alternatif pilihan warga perkotaan. Anda dapat memilih berbagai jenis warna mulai dari hitam, coklat, silver, putih,merah,biru,kuning,orange,cream dan juga warna urat kayu atau serat kayu yang hampir menyerupai warna alami kayu.

Untuk warga pedesaan, mungkin masih asing dengan memakai kusen alumunium, ini dikarenakan di daerah pedesaan masih banyak terdapat kayu dan sangat mudah untuk mendapatkannya. Sedangkan untuk daerah perkotaan, kayu sudah sangat sulit ditemui. Selain itu jika ada, harganya pasti sangat mahal karena kelangkaan kayu tersebut. Berikut ini beberapa gambar kusen alumunium yang bisa Anda gunakan sebagai referensi.

Penggunaan kusen alumunium selain awet dan tahan lama juga ramah lingkungan, karena dapat mengurangi penggunaan kayu sehingga bumi kita lebih hijau. Tentu saja konsumen lebih cerdas dalam memilih bahan material bangunan yang lebih awet, tahan lama, tahan terhadap cuaca, kuat dan anti terhadap gangguan serangga. Selain kusen, plafon rumah minimalis juga salah satu faktor yang membuat ruangan semakin modern dan elegan. Tertarik dengan kusen aluminium?

Motor Raib, Siswa SMP Ditemukan Tewas Terbenam di Sawah

Seorang siswa sekolah menengah pertama di Pekalongan Jawa Tengah ditemukan tewas mengenaskan pagi tadi. Dengan bagian kepala dan sebagian badannya terbenam di lumpur sawah.

"Saat ditemukan warga, jenazah Rizki Maulana Hidayat, siswa kelas 1 SMP Negeri 6 Pekalongan itu dalam posisi telungkup dan bagian kepalanya terbenam ke dalam lumpur sawah," kata saksi bernama karim.

Areal persawahan Desa coprayan Kecamatan Buaran pun mendadak ramai dipenuhi warga. Mereka penasaran ingin menyaksikan lokasi ditemukannya mayat seorang remaja, yang dibenamkan di lumpur sawah.

Informasi yang dihimpun Liputan 6 SCTV, Kamis (6/6/2013), polisi belum memberikan keterangan resmi terkait kasus tersebut. Namun diduga kuat korban merupakan korban perampasan dan pembunuhan.

Sementara menurut petugas medis yang memeriksa jenazah korban, ditemukan 1 luka tusuk di perut dan beberapa luka sayatan di leher. Selain itu dari mulut, hidung dan telinga korban juga dipenuhi dengan lumpur. Kondisi itu membuat para penjenguknya sedih dan miris.

"Beberapa guru dan wali kelas korban yang mendatangi kamar jenazah, tak kuat menahan haru melihat kondisi korban," ujar wali kelas korban, Tri Yulianti.

Hingga kini, polisi belum memberikan keterangan resmi terkait kasus pembunuhan tersebut. Petugas hanya mengamankan sejumlah barang bukti milik korban berupa pakaian sekolah, tas beserta alat tulis dan handphone. Sedangkan sepeda motor milik korban raib.

Jadi Mucikari, Siswa SMP Jual Gadis Teman Sekolahnya

Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Surabaya, Jawa Timur, membongkar jaringan penjualan gadis ABG yang didalangi seorang siswa SMP. Polisi juga mengamankan 3 korbannya, yang masih berumur belasan tahun.

Dalam tayangan Liputan 6 SCTV, Senin (10/6/2013), NA yang masih duduk di bangku salah satu SMP di kota Surabaya itu ditangkap polisi karena menjual teman-teman sekolahnya untuk melayani pria hidung belang. Modus yang dilakukan tersangka dengan memanfaatkan jaringan komunikasi via Blackberry Mesengger untuk menawarkan teman-temannya kepada pria hidung belang.

Dihadapan polisi, NA yang masih berusia 15 tahun mengaku membuka praktik prostitusi itu sudah selama 6 bulan. Ia memasang tarif Rp 750 ribu dengan komisi Rp 250 ribu per transaksi. Sedangkan korbannya, mendapat Rp 500 ribu.

Jaringan prostitusi pelajar SMP ini terbongkar ketika polisi menggerebek salah satu hotel di Jalan Darmokali, Surabaya. Para gadis ABG yang melayani pria hidung belang itu mengaku bertransaksi melalui BBM yang dikoordinir NA.

Dari tangan pelaku, polisi menyita barang bukti rekaman percakapan transaksi via Blackberry Mesengger, uang tunai Rp 3 juta, dan 3 buah handphone Blackberry. Polisi kini masih mengembangkan jaringan prostitusi pelajar SMP itu.

Tiga Tahanan Remaja Itu Akhirnya Lulus UN

JAKARTA, KOMPAS.com - Tiga remaja tahanan Polres Jakarta Timur dinyatakan lulus ujian nasional sekolah menengah kejuruan. Orangtua ketiga tahanan itu pun bergembira memperoleh kabar itu, Jumat (7/6/2013), di Polres Jakarta Timur. Kendati demikian, para orangtua itu tetap harus menelan kegetiran karena anak-anak mereka tetap harus menjalani proses hukum.

Ketiga tahanan itu adalah Fr (17), Ge (19), dan Mr (20). Ketiganya menjalani UN SMK di ruang binaan Polres Jakarta Timur pada pertengahan April.

”Saya senang akhirnya anak saya lulus. Dia jadi punya ijazah untuk melamar jadi mekanik. Cita-citanya memang ingin menjadi mekanik,” kata Anik (49), orangtua Ge.

Ge dan Mr adalah siswa SMK Rahayu Mulya di Kramat Jati. Keduanya terjerat kasus pemerkosaan terhadap seorang siswi. Sementara itu, Fr, yang merupakan siswa SMK Malaka di Pondok Kopi, terjerat kasus narkoba.

Berkas kasus ketiganya, kini, telah dilimpahkan ke kejaksaan negeri sehingga ketiganya tak lagi mendekam di tahanan Polres Jaktim. Fr mendekam di Rutan Salemba, sementara Ge dan Mr mendekam di Rutan Cipinang.

Anik mengungkapkan, anaknya merasa senang memperoleh kabar telah lulus UN. ”Anak saya senang memperoleh kabar akhirnya dia lulus. Semula dia tak menyangka akan lulus,” kata Anik.

Saat menjalani UN, Ge dan Mr adalah tahanan yang tak bisa menjalani ujian hari pertama karena izin ujian di Polres Jaktim belum selesai diurus orangtuanya.

Pada hari kedua ujian, setelah memperoleh jaminan dari Dinas Pendidikan DKI Jakarta, keduanya dapat mengikuti ujian. Itu pun diakui keduanya dengan modal belajar yang sangat pas-pasan.

”Bahan pelajaran yang ada di Polres terbatas. Jadi, belajar sebisanya saja,” kata Ge dan Mr saat ditemui pada hari kedua UN pertengahan April lalu.

Bahkan, Fr mengaku hanya bisa berdoa untuk mengerjakan setiap soal di UN.

”Ngitung kancing, sih, tidak, tetapi setiap kali mau jawab soal, saya baca doa dulu supaya jawabannya benar,” tutur Fr.

Muhiyah (50), orangtua Mr, dan Tajjudin (48) yang merupakan orangtua Fr sama-sama mengucap syukur atas keberhasilan anak mereka masing-masing.

Kepala Bidang Kesiswaan SMK Malaka Mukhlas mengungkapkan, nilai UN Fr memang tidak besar, tetapi berada di atas syarat nilai kelulusan UN. ”Syarat kelulusan UN SMK itu sekitar 21,2. Sementara nilai Fr mencapai 21,5,” katanya.

Menurut Mukhlas, sebagai guru, pihaknya tak dapat memantau setiap siswa di sekolahnya. Begitu pula dengan tindakan Fr yang terjerat kasus narkoba.

”Oleh karena itu, kami kooperatif dengan kepolisian terkait Fr dan terus memantau perkembangannya,” katanya.

Polisi beri bingkisan

Sebagai apresiasi atas keberhasilan yang diperoleh, Kepala Polres Jaktim Komisaris Besar Mulyadi Kaharni memberikan bingkisan melalui orangtua ketiga tahanan itu. Setiap bingkisan berisi peralatan shalat lengkap. ”Jangan dinilai dari isi bingkisannya, tetapi maksud dari bingkisan itu,” kata Mulyadi kepada orangtua ketiga tahanan itu.

Dia berharap keberhasilan ketiganya lulus UN bisa menambah kepercayaan diri untuk menapaki hidup lebih baik dan lebih banyak beribadah.

Mulyadi mengaku, pihaknya belum memperoleh detail nilai UN dari Ge, Mr, dan Fr. Namun, dari Dinas Pendidikan, lanjutnya, ketiganya dinyatakan lulus UN. Setelah dikonfirmasi ke setiap sekolah, ketiganya pun dinyatakan lulus UN.

Menurut Mulyadi, program pendidikan sekolah formal di dalam tahanan merupakan bagian dari program kerja Polda Metro Jaya yang berusaha menjamin hak anak atas pendidikan tetap terpenuhi.

”Kami yang ada di Polres Jaktim berupaya memenuhi itu. Tujuannya juga tak lain agar anak-anak yang terjerat hukum tetap memiliki masa depan. Pendidikannya agar tidak terputus,” ujar Mulyadi.

Pemerkosa Dikubur Hidup-hidup di Makam Korban

Liputan6.com, Sucre : Seorang pria di Bolivia dikubur hidup-hidup di makam wanita yang diperkosanya. Warga desa di dataran tinggi Bolivia Selatan geram atas tindakan kejam pria bernama Santos Ramos itu yang memperkosa korban, LAJ, hingga tewas.

"Polisi mengidentifikasi Santos Ramos (17) sebagai pemerkosa LAJ (35) di wilayah Quechua, dekat Kota Colquechaca, pada Minggu 3 Juni lalu," kata Kepala Kejaksaan Provinsi Potosi, Jose Luis Barrios, seperti dimuat ABC, Jumat (7/6/2013).

Lebih dari 200 orang dari Suku Quechua mengarak Santos dan membawanya ke makam LAJ. Pria itu kemudian dikubur hidup-hidup di atas peti jasad LAJ. Para warga juga memblokir jalan untuk mencegah polisi masuk ke lokasi pemakaman. "Massa memblokir jalan mencegah polisi mengamankan pelaku," ujar Jose.

Wartawan yang enggan disebutkan namanya melaporkan, Santos awalnya diikat di sekitar makam LAJ. Para warga kemudian melemparkan Santos ke galian lubang.

"Setelah menempatkan peti mati LAJ ke dalam lubang, warga melempar pria itu di atas peti," kata wartawan yang takut nyawanya terancam dari keganasan Suku Quechua.

Suku Quechua dikenal sering berbuat sadis dan main hakim sendiri kepada tersangka pelaku kejahatan. Meski ia belum dinyatakan bersalah di depan pengadilan. Sebelumnya, seorang pencuri dirajam hingga tewas, dan orang yang diduga membantunya dibakar hidup-hidup.

Panti Pijat `Plus-plus` di Palmerah Digrebek, 5 Wanita Ditangkap

Liputan6.com, Jakarta : Tim Resmob Kepolisian Sektor Palmerah Jakarta Barat menggerebek tempat pijat tradisonal yang diduga kerap menjadi tempat mesum di Jalan Kemanggisan Utama Raya RT 10/06, Kemanggisan, Palmerah, Jakarta Barat. 5 Orang diamankan dan salah satunya tertangkap dalam kondisi telanjang.

"Telah ditangkap pekat (penyakit masyarakat) yang berkedok urut tradisional diduga melakukan perbuatan pelacuran," kata Kapolsek Palmerah Kompol Slamet di Jakarta, Kamis (6/6/2013).

Slamet menambahkan, penggerebekan Panti Pijat Bu Erny itu dilakukan pada Selasa 4 Juni 2013, sekitar pukul 20.30 WIB. Diduga tempat itu hanya kedok untuk menutupi praktik pelacuran.

Atas operasi ini, lanjut dia, 5 wanita ditangkap. Yaitu Rosmi (48), Ela (52), Rahmi (35), Lamira (55), Setia Dewi (30) sebagai karyawan, yang di kelola oleh Rizal (45). "Barang bukti celana dalam dan bra milik SD. Dia tertangkap basah dalam keadaan telanjang," ucap Slamet.

Saat ini, semua pelaku diamankan di Polsek Palmerah. Semuanya dijerat pasal 296 KUHP dengan ancaman.

Maaf Zakaria Tak Mempan, Pramugari Tetap Tempuh Jalur Hukum

PANGKAL PINANG, KOMPAS.com — Perkara antara Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Provinsi Bangka Belitung (Babel), Zakaria Umar Hadi, dan pramugari maskapai Sriwijaya Air, Nur Febriani, sebenarnya coba diselesaikan secara kekeluargaan, tetapi upaya tersebut gagal.

Ellisa, adik Zakaria dan juga selaku pengacaranya, Kamis (6/6/2013) malam, mengatakan, mereka sudah bermusyawarah. Zakaria juga telah meminta maaf atas tindakannya. Namun, Nur Febriani belum bisa menerima permintaan maaf tersebut dan tetap menempuh jalur hukum.

"Sebelumnya, kita sudah upayakan damai dengan meminta maaf. Pihak Sriwijaya-nya sudah memberi maaf, tapi sepertinya pelapor tidak dan mau terus menempuh jalur hukum. Jadi, kita ikuti prosedur saja," ujar Ellisa.

Ia menyesalkan karena menurutnya permasalahan tersebut tidak terlalu besar. Luka akibat pemukulan dengan koran itu pun tidak mengakibatkan luka fatal. Akibat pemukulan tersebut, korban mengalami merah di leher belakang bagian kiri di bawah telinga.

"Ini kan sebenarnya masalah kecil. Lukanya juga enggak ada, cuma merah saja. Kita juga sudah minta maaf. Tapi, mau bagaimana lagi, orangnya tidak mau memberi maaf," ujarnya.

Pelaksana Kapolsek Pangkalan Baru Iptu H Wagino mengatakan, sebelum korban membuat laporan, pihak-pihak berperkara sudah dipertemukan terlebih dahulu sebelum menempuh jalur hukum. Kepolisian tetap mengutamakan mediasi kedua belah pihak.

"Sebelumnya, kita sudah sempat mediasikan. Hadir juga malam itu pihak Sriwijaya dan pihak yang berperkaranya. Kalau pihak Sriwijaya, sudah memberi maaf. Cuma, korbannya mau terus menempuh jalur hukum. Jadi, kita menerima saja," ujar Wagino.

Saat ini, kasus tersebut masih diproses oleh penyidik Polsek Pangkalan Baru. Tersangka Zakaria dikenakan Pasal 351 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 2 tahun 8 bulan.

Keluarga korban mengatakan, pihaknya bersikeras menempuh jalur hukum karena korban trauma. Adik korban, Sita Destia, mengatakan, kejadian yang dialami kakaknya sangat tidak menyenangkan sehingga pihaknya berpikir harus membawa kasus ini ke jalur hukum.

"Sangat tidak menyenangkan mengapa seorang pejabat berperilaku seperti itu," katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Zakaria memukul pramugari Sriwijaya Air dengan menggunakan gulungan koran tak sama setelah pesawat dengan nomor penerbangan SJ 078 dari Bandara Soekarno-Hatta mendarat di Bandara Depati Amir, Pangkal Pinang, Rabu (5/6/2013) malam sekitar pukul 19.30 WIB. Pemukulan dipicu kekesalan Zakaria setelah ditegur pramugari untuk mematikan ponsel sebelum pesawat lepas landas.

Mahasiswa Binus Ditemukan Tewas di Kebayoran, Diduga Korban Pembunuhan

Jakarta - Kabar duka itu menyebar di jejaring sosial Facebook Universitas Bina Nusantara. Salah seorang mahasiswa mereka bernama Ong Lucky Mustopo ditemukan tewas di Kemandoran, Kebayoran Lama, Jaksel. Diduga, ia menjadi korban pembunuhan.

Informasi soal kematian Ong disampaikan pihak Binus di situs Facebook, Selasa (4/6) kemarin. Ong yang merupakan mahasiswa jurusan Psikologi angkatan 2009 itu sempat disemayamkan di RS Fatmawati, sebelum akhirnya dibawa pihak keluarga.

Salah seorang rekan yang mendapat informasi dari kakak Ong menyampaikan, ada dugaan lelaki muda itu dibunuh. "Adik gw mati dibunuh. dia dipukulin lalu lehernya dicekik. mayatnya dibuang di bak sampah kemandoran 2" tulis rekan tersebut mengutip keterangan dari kakak Ong.

Kasi Humas Polsek Kebayoran Lama, Aiptu Sumaryanto membenarkan soal temuan mayat ini. Dia juga memastikan korban adalah seorang mahasiswa. Jenazah ditemukan sekitar pukul 04.00 WIB dinihari.

Terkait soal dugaan pembunuhan, polisi masih melakukan penyelidikan. "Kita masih nunggu hasil visum. Yang pasti dia mahasiswa," jawab Sumaryanto saat dihubungi detikcom, Rabu (5/6/2013).

Polisi Akui Ada Oknum Tendang Tahanan

JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Direktur IV Narkoba Mabes Polri Komisaris Besar Anjan Pramuka mengakui, seorang oknum polisi berinisial S yang berpangkat brigadir kepala berkontak fisik dengan seorang tahanan berinisial ZT sehingga tahanan tersebut mengalami cedera dan masuk Rumah Sakit Polri, Jakarta Timur.

ZT merupakan tahanan Direktorat IV Tindak Pidana Narkotika Mabes Polri. Pada Selasa (4/6/2013), kuasa hukum ZT, Haruna Rahman, mengatakan bahwa kliennya dianiaya hingga muntah darah oleh S, di tahanan, pada Minggu (2/6/2013).

Anjan mengatakan, S menendang ZT sebagai hukuman karena ZT membawa telepon genggam.

"Dia kedapatan membawa HP di tahanan dan ketahuan sama anggota. Anggota nendang sekali. Rupanya yang bersangkutan punya TBC dan gula darahnya tinggi," ujar Anjan.

Mengenai klaim Haruna, yaitu bahwa kliennya dianiaya, Anjan mengatakan bahwa tindakan S tak bisa disebut penganiayaan. "Memang ada tendangan, tapi enggak perlu sampai melebih-lebihkan seperti itu," tukas Anjan.

S sendiri menurut Anjan sudah mendapatkan sanksi internal. Meski begitu, Anjan mengatakan tak masalah jika Propam Polri melakukan penyelidikan kasus penendangan itu.

"Kita juga tidak masalah kalau itu diproses di Propam Polri. Kita siap-siap saja," tandas Anjan.

Pelaku Curanmor Spesialis Kawasan Menteng Dibekuk Polisi

Jakarta - Berbekal korek api yang bentuknya menyerupai pistol, MD (30) nekat merampok motor milik Riyadi di Tugu Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat. Aksi jahat MD bersama rekannya rupanya terlihat polisi yang sedang patroli. Alhasil kini mereka mendekam di bui.

Kapolsek Menteng AKBP Subandi, menuturkan, kejadian bermula ketika pukul 00.30 WIB, korban Riyadi,29, saat mengendarai sepeda motor Honda Spacy B 2403 EF, sedang melintas di dekat Tugu Proklamasi.

Tiba-tiba Riyadi dipepet hingga mendadak berhenti oleh MD dan rekannya. MD pun menodongkan pistol dan golok ke tubuh korbannya. Tak hanya menodongkan pistol korek apinya, pelaku lalu menggetok kepala korban hingga sempoyongan.

"Tapi petugas yang patroli memergoki aksi itu. Langsung dikejar oleh anggota kita," kata Kapolsek Menteng AKBP Subandhi dalam pesan singkatnya kepada wartawan, Selasa (4/6/2013).

Kejar-kejaran antara pelaku dan polisi terjadi. MD pun berhasil diciduk sedangkan rekannya dengan inisial S berhasil melarikan diri.

"Dari tangan pelaku petugas menyita motor yang mereka pakai beraksi berikut motor korban," sambungnya.

Saat pemeriksaan MD rupanya resedivis kasus yang sama. Dia sebelumnya sempat ditangkap aparat Polres Jaksel.

"Mereka mengaku kelompok Depok, sudah sering melakukan kejahatan di Menteng dan sekitarnya,"tutupnya.

Jualan Ganja, Kacung Diciduk Polisi

Jakarta - Polisi menciduk Suryana alias Kacung karena kedapatan belasan bungkus kecil ganja. Akibat peristiwa tersebut tersangka digelandang ke kantor polisi untuk proses penyelidikan.

"Kemarin Senin (3/6) sekitar pukul 21.00 WIB, Satuan Narkoba Polres Jaktim baru melaporkan kembali hasil Operasi Nila oleh unit II AKP Lamser Pasaribu, seorang pemuda kedapatan memiliki 14 bungkus kecil ganja kering," ujar Kasubag Humas Mapolres Jaktim, Kompol Didik Haryadi dalam pesan singkatnya, Selasa (4/6/2013)

Didik mengatakan berdasarkan informasi dari masyarakat anggota satuan narkoba melakukan pengintaian Suryana alias Kacung.

"Secara keseluruhan hasil penggeledahan, di rumah tersangka terdapat 52 Gram ganja," tuturnya.

Menurutnya dalam kesehariannya Kacung diketahui menjaga kontrakan milik orang tuanya.

"Selain mengawasi rupanya dia menyambi jadi pengedar ganja dikawasan Kp Kramat Rt.005/04 Kel. Setu Kec Cipayung," imbuhnya.

Saat ini anggota kepolisian satuan reserse narkoba tengah melakukan penyidikan dan pengembangan kasus tersebut. Sementara tersangka terancam UU No 35 Tahun 2009, pasal 111 dengan hukuman kurungan badan maksimal 20 tahun penjara.

Bawa Narkoba, Polisi Ciduk Kiting dan Bangor

JAKARTA, KOMPAS.com - Petugas Unit II Satuan Narkoba dari Kepolisian Resor Metro Jakarta Timur, menciduk dua orang atas nama Arifin alias Bangor dan Sahid alias Kiting, Sabtu (1/6/2013). Keduanya ditangkap karena memiliki narkotika jenis sabu di saku bajunya.

Kepala Subbagian Humas Polres Metro Jakarta Timur, Komisaris Didik Haryadi mengungkapkan, berdasarkan informasi dari masyarakat soal ada aktivitas penyalahgunaan narkotika, petugas pertama kali menangkap Bangor di Jalan Raden Inten, dekat SPBU Duren Sawit, Jakarta Timur.

"Setelah ditangkap, kita dapati 3 plastik klip berisi sabu di kantongnya," ujar Didik kepada Kompas.com pada Minggu (2/6/2013) siang. Petugas kepolisian kemudian menginterogasi Bangor. Polisi pun berhasil mendapat nama lain yakni Arifin alias Kiting.

Pada Sabtu malam, sekitar pukul 22.25 WIB, petugas kepolisian mensasar kediaman Kiting di Jalan Cimerak Selatan RT 06 RW 16, Duren Sawit, Jakarta Timur. Setelah beberapa saat sempat melakukan pengintaian, kepolisian pun berhasil menciduknya tanpa perlawanan berarti.

"Di dalam sakunya ada 3 plastik klip juga berisi sabu. Kedua tersangka itu langsung dibawa ke Polres Metro Jaktim untuk diperiksa. Sampai saat ini pemeriksaan masih berlanjut," ujarnya.

Didik melanjutkan, kedua tersangka itu diketahui sebagai pengedar barang haram jenis sabu di kawasan Duren Sawit. Namun sayang, petugas kepolisian hanya berasil mendapatkan barang bukti sedikit, yaitu 6 bungkus klip berisi sabu. Pihaknya pun terus melakukan pengembangan.

Didik melanjutkan, kedua tersangka dikenakan Pasal 114 ayat 1 subsider Pasal 112 ayat 1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2002 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman kurungan penjara minimal empat tahun dan maksimal 15 tahun.

Bom Bunuh Diri di Mapolres Poso

PALU, KOMPAS.com — Seorang pelaku bom bunuh diri meledakkan diri di halaman Mapolres Poso, Sulawesi Tengah, Senin (3/6/2013), sekitar pukul 08.25 Wita. Hal itu dikatakan Kepala Bidang Humas Polda Sulawesi Tengah AKBP Soemarno, pagi ini.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Kompas.com, satu orang tewas dalam kejadian ini. Korban adalah pengendara motor yang diduga membawa bom dan melakukan aksi bunuh diri. Bom meledak di depan mushala Mapolres.

Menurut keterangan saksi, motor bergerak pelan menuju mushala sebelum ledakan terjadi. Hingga saat ini, polisi masih menyelidiki kejadian ini termasuk mengusut pelaku dan motif kejadian.

Diduga Tempat Ritual Seks Bebas, Polisi Periksa `Rumah Gurita`

Liputan6.com, Bandung : Aparat kepolisian mendatangi sebuah rumah di kawasan Suka Mulya, Sukajadi, Kota Bandung, yang diduga kerap dijadikan tempat ritual seks bebas oleh sebuah sekte. Polisi ingin memastikan apakah kabar yang beredar itu benar atau tidak.

Sejumlah petugas kepolisian berpakaian preman serta berseragam tampak ke luar dari rumah yang beralamat di kawasan Jalan Suka Mulya, Sukajadi, Kota Bandung itu. Rumah itu tampak sudah tua.

Dari luar, sejumlah patung terlihat di atas bangunan itu. Yang paling mencolok adalah patung gurita besar berwarna hitam. Tentakel atau lengan-lengan gurita itu menjulur panjang ke bawah. Memang, gedung ini juga sohor dengan sebutan 'rumah gurita'.

Namun dari hasil pemeriksaan sementara, polisi mengaku tidak menemukan indikasi yang menunjukkan rumah tersebut digunakan untuk ritual seks bebas. Keterangan dari penghuni dan sejumlah tetangga rumah itu telah didapatkan.

"Kami masih pemeriksaan, belum menemukan bukti materi. Pengawasan tetap dilakukan, untuk kasus sekte itu masih didalami," kata Kabag Humas Polrestabes Kota Bandung Kompol Rosdiana di Bandung, Jawa Barat, Jumat (31/5/2013).

Salah seorang kerabat pemilik rumah, Anton, membantah kabar yang menyebut rumah itu dijadikan tempat ritual yang menyimpang. Rumah itu, dihuni secara normal layaknya rumah-rumah warga lainnya.

"Memang tidak ada, silakan periksa. Tidak ada kegiatan apa-apa, cuma dihuni 3 orang kerabat. Hanya ada aktivitas rumah tangga," kata Anton.

Sementara, salah satu tetangga bernama Mulyono juga mengaku tidak pernah melihat kegiatan mencurigakan di rumah tersebut. "Saya tinggal di sini sejak tahun 1990, tidak ada yang mencurigakan," kata Mulyono.

Lokasi Penembakan Tito Kei 100 Meter dari Rumahnya

JAKARTA, KOMPAS.com — Tempat kejadian perkara pembunuhan Tito Refra Kei di warung milik Ratim di Jalan Titian Raya Indah, RT 03 RW 11, Kalibaru, Medan Satria, Bekasi, Jawa Barat, masih dipenuhi bercak darah. Lokasi penembakan yang kini dibatasi dengan garis polisi hanya berjarak sekitar 100 meter dari rumah Tito.

Berdasarkan pantauan Kompas.com, Sabtu (1/6/2013) dini hari, lokasi pembunuhan adik kandung John Refra Kei ini adalah warung yang menjual beragam makanan ringan. Warung tersebut kini dijaga ketat polisi dan dikitari garis polisi. Adapun lokasinya tepat di persimpangan Jalan Titian Indah Raya dengan gang area permukiman selebar tiga meter.

Di bagian depan warung, masih satu atap tripleks dengan warung, terdapat teras seluas sekitar 4 meter persegi berperabot kursi plastik dan meja kayu. Di meja itulah, Tito dan tiga rekanny bermain domino sesaat sebelum seorang pria tak dikenal menembaknya di kepala. Di lantai semen di bawah meja kayu itu tampak ceceran darah. Diduga, di titik itulah Tito Refra berada saat ditembak pada Jumat (31/5/2013) sekitar pukul 19.30 WIB.

Di lokasi kejadian, tampak Kepala Kepolisian Resor Kota Bekasi Komisaris Besar Priyo Widianto dan Wakil Kepala Kepolisian Resor Kota Bekasi Ajun Komisaris Besar Heru Bachtiar tengah melakukan olah tempat kejadian perkara. Mereka masih enggan memberi keterangan.

Sebelumnya, Tito Refra Kei dibunuh dengan cara ditembak di bagian kepala pada Jumat. Pelaku diduga berjumlah dua orang. Satu bertugas berjaga di motor, satu orang sebagai eksekutor.

Selain Tito, pelaku yang mengenakan jaket dan helm tersebut juga menembak pemilik warung bernama Ratim (70). Setelah sempat dibawa ke Rumah Sakit Ananda, Bekasi; kedua korban tersebut diketahui dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo untuk diotopsi.